Potensi besar UMKM

Dian Novita Susanto, Founder Kedai Kopi Perempuan Tani yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) saat berada di studio RRI Jakarta.

KBRN, Jakarta: 'Bang, Founder Kedai Kopi Perempuan Tani itukan bisnis... nah Mbak Dian nanti bicara lebih banyak tentang bisnisnya atau bagaimana ?'

Begitu isi pesan singkat dari teman penulis ketika mencoba menghadirkan Dian Novita Susanto ke studio Radio Republik Indonesia di Jakarta.

'Nanti lebih banyak bicara sebagai founder kedai kopi perempuan saja jadi bisa memantik inovasi UMKM yang berkelanjutan' kata kami kepada teman bernama Popi, yang juga aktivis pada Aliansi Jurnalisme Warga Indonesia (AJWI), 'penghubung kami'.

Jadilah pagi itu, Dian Novita Susanto hadir di Studio Programa 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta,  menceritakan bagaimana awalnya dia membangun sebuah Kedai Kopi di bilangan Gandaria di Jakarta Selatan.

"Berawal dari organisasi yang saya pimpin Perempuan Tani HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, red) yang sudah berdiri sejak tahun 2017. Kegiatan kami adalah bagaimana kami bisa bermanfaat kepada masyarakat," ujar Dian Novita pada Selasa (24/5) pagi.

Dari keinginan itu 'kami sering melakukan pelatihan dan pendampingan bagaimana para perempuan-perempuan bisa mandiri secara ekonomi' tambah Dian.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, sebagai salah satu pilar penguatan ekonomi nasional, peran kegiatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat.

Narasi ini kami kemas dalam sebuah program radio talk show mengulas bagaimana "UMKM maju kita mendunia".

Dari pelatihan dan pendampingan di sejumlah daerah itu begitu Dian melanjutkan cerita, dia menemukan banyak masalah yang ditemukan para pelaku UMKM khususnya para petani perempuan yakni bagaimana produk produk mereka ini tidak bisa mereka pasarkan.

"Salah satu kendala para pelaku usaha petani dan pelaku UMKM adalah bagaimana mereka bisa memasarkan produk pangannya mereka ditambah lagi ketika pandemi melanda,"ujar Dian.

Ketika pandemi melanda, era disrupsi pasar  begitu cepat menyebabkan pola konsumsi masyarakat berubah dari offline ke online.

Disini para pelaku UMKM yang terpukul kata Dian mengutip Katadata.co.id  jumlahnya sekitar 82 persen pelaku UMKM.

"Hanya 5,6 persen saja yang mampu bertahan," ujarnya.

Lapangan Kerja

LeCiel ini bisa dibilang salah satu bagian UMKM Indonesia
LeCiel ini bisa dibilang salah satu bagian UMKM Indonesia

Bukan cuma kafe kopi, Kedai Kopi Perempuan  juga memasarkan produk UMKM dari seluruh Indonesia juga  ada pangan dari para petani.

Setiap produk UMKM yang dijual juga ditempelkan cerita dibalik produk itu 'contohnya ada kain tenun dari Palembang ini dibuat oleh para perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga,' pungkas Dian yang juga menyebut trend inovasi pelaku UMKM Indonesia sudah semakin baik dengan beralih ke platform online untuk digitalisasi UMKM.

Menurutnya 'dari 65 juta total UMKM kita sekarang sudah terdaftar di pasar digital itu sekitar 30 persen atau sekitar 19 juta pelaku UMKM'

Ekspor ke Singapura dan Amerika

Bersama mitra bisnisnya Genesia dan Felicia Ng. Silvy Prajogo yang adalah co founder Rajoet.id ini berharap dapat usahanya bisa memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup para petani dan keluarganya di Indonesia.Caption

Salah seorang pengusaha yang membuka gerai di Kedai Kopi Perempuan adalah Silvy Prajogo yang memproduksi tas yang terbuat dari plastik daur ulang yang ditenun oleh petani di Pulau Jawa.

Bersama mitra bisnisnya Genesia dan Felicia Ng. Silvy Prajogo yang adalah co founder Rajoet.id itu berharap dapat usahanya ini bisa memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup para petani dan keluarganya di Indonesia.

'Sekaligus mengedepankan kerajinan Indonesia yang sangat istimewa, beragam, dan berstandar internasional yakni dengan mengeksport ke Singapura dan Amerika' kata Silvy kepada presenter RRI Jakarta Farid Kurniawan.

"Setiap hari ada 30 orang yang aktif untuk memproduksi tas dan mengurus semua operasional rajoet.id,"kata Silvy.

Menurutnya sejak tahun 2019, rajoet.id terus bertumbuh bersama pasar mengembangkan disain dan menjadikan media sales (marketplace,red) yang berbeda-beda untuk mengenalkan produk agar tidak ketinggalan jaman.

Selain memproduksi tas dari plastik daur ulang, Silvy juga mendesain untuk LeCiel Design. 

Sebagai desainer perhiasan, Silvy Prajogo mewujudkan aksesori pernikahan impian kliennya 

Selain perhiasan untuk pernikahan, karya LeCiel Design juga pernah dipakai oleh selebritis-selebritis Hollywood seperti Tyra Banks, Lady Gaga, Ariana Grande. 

"LeCiel ini bisa dibilang salah satu bagian UMKM Indonesia. Karena semua perhiasan-perhiasan kami dibuat oleh pengrajin lokal di Jawa Timur,"ujar Silvy.

Hari Bersama

Produk UMKM Indonesia memang punya ragam cerita. Dalam program dialog khusus yang disiarkan 91,2 FM itu Hari Suroto menceritakan kisah unik dibalik kopi Papua.

Kopi yang di pasarkan Mas Hari termasuk kopi terbaik dunia. Salah satunya adalah kopi dari Pegunungan Bintang, Papua, yang masuk dalam cup of excellent karena memiliki cita rasa yang unik dan jarang ditemukan pada kopi arabika lainnya.

Mahasisa Papua, Alpius Uropmabin dan Karolus Asemki membawa biji kopi hasil para petani Distrik Okbibab di Kabupaten Pegunungan Bintang  Papua. Foto Hari Suroto

Hari Suroto menyebut 'kopi dari pegunungan ini juga yang membantu pemuda di Papua untuk mengenyam pendidikan'. 

Saat penulis temui di Jayapura belum lama, peneliti Arkeologi dari  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menceritakan bagaimana dua mahasiswa asal Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, berjualan kopi hasil bumi dari orang tua untuk membayar uang kuliah. Mereka adalah Alpius Uropmabin dan Karolus Asemki.

"Mereka menjual kopi yang dikirim oleh orang tuanya di kampung untuk membayar SPP dan biaya hidup di Kota Jayapura," kata Hari Suroto yang pernah menjadi dosen arkeologi Universitas Cenderawasih, Papua.

Hari turut membantu memasarkan kopi para petani dari Kabupaten Pegunungan Bintang. Dari situ, lahirlah Kopi Hari Bersama.

Kopi Hari Bersama, menurut Hari Suroto adalah jenis kopi arabika yang berasal dari kebun kopi yang terletak 2.000 meter di atas permukaan laut atau mdpl. Pohon kopi berada di kebun semi hutan, tumpang sari dengan tanaman palawija terutama ubi jalar. 

"Ini kopi organik, semua mengandalkan kebaikan alam. Mereka, salah satu konsumennya dari grup komunitas jalan sutera, binaan alm Bondan Winarno 'maknyus' yang membeli kopi Papua   juga untuk membantu pembangunan Papua yakni mensejahterakan petani sehingga bisa membayar SPP anak-anak mereka" ujarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar