Timpa 2 rumah warga dan makan 3 korban luka, Warga: Ini Proyek Konyol PDAM

KBRN, Depok: Proyek pembongkaran bekas tower air PDAM di R0 4W Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas, memakan korban 3 orang luka-luka dan dua rumah warga rusak parah.

Dua korban Zaidar dan Kasnel mengalami luka-luka pada kepala dan bahu karena rumah mereka tertimpa Crane proyek yang terguling kekanan tepat menimpa atap rumah korban, Jumat (15/10/2021) pukul 09:00 WIB. 

Sedangkan korban ketiga JS (12) anak Zaidar sempat terhimpit beton reruntuhan bekas tower air PDAM selama 6 jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi pada pukul 15:00 WIB.

"Kejadiannya pukul 09:07 WIB, anak saya tahu persis karena dia sedang PJJ olahraga di teras rumah," ucap Leon tetangga korban, kepada RRI, dilokasi. 

Setelah kejadian warga sekitar langsung keluar rumah dan mendengar teriakan kencang untuk meminta pertolongan dari dalam rumah salah satu korban. 

"Zaidar yang teriak kencang manggil nama saya, Leon tolong bantu tuh anak saya masih ada dua orang didalam. Zaidar sendiri mengalami luka-luka dan darah segar keluar dari bagian kepalanya bercucuran pun tak dihiraukan, karena khawatir anaknya yang masih berada didalam bisa segera dievakuasi," tutur Leon. 

Setelah dirinya memeriksa kedalam rumah Zaidar melalui pintu belakang, Leon mendapati seorang anak Zaidar yaitu JS terhimpit beton bekas tower air PDAM. Karena tak mampu mengangkut beton tersebut, Leon memprioritaskan evakuasi dua anak Zaidar lainnya. 

"Anak Zaidar ada 3, dua anaknya selamat ngga kenapa-napa, hanya saja anaknya yang ketiga, JS nih yang sulit dievakuasi dengan alat konvesional karena terhimpit beton besar tiang bekas tower air PDAM," ujar Leon dengan nada kesal. 

Kekesalan Leon bukan tanpa alasan, sebab permintaan warga kepada PDAM, agar pelaksana proyek mengerjakan pembongkaran bangunan bekas tower air itu dilakukan seaman mungkin, tidak dihiraukan.

Aspek keamanan ini menjadi konsern warga mengingat lokasi proyek pembongkaran tower PDAM itu dikelilingi oleh rumah warga Perumnas 1 Depok. 

"Dari awal ini proyek udah konyol. Pertama kita disosialisasi oleh PDAM, kontraktor dan konsultan untuk cara kerjanya proyek ini gimana dijelaskaanlah kepada warga. Site Managernya pak Ridwan jelasinnya diterima ke akal warga lah. Dan ok mereka mulai kerja 5 bulan lalu," cerita Leon. 

Tetapi pada saat pelaksanaan proyek, kontraktor proyek tidak melaksanakan cara kerja yang aman sesuai permintaan warga. Perjanjian warga dengan PDAM yaitu warga meminta agar PDAM memasang tutup terpal dua meter lebih tinggi diatas tower agar pecahan batu dan debu saat pembongkaran tidak mengenai rumah warga. 

"Itu ngga dilakukan, warga sempat protes. Dulu perjanjiannya saat pembongkaran itu ada pagar diluar dan pagar terpal 2 meter lebih tinggi dari torrent beton itu, agar percikan batu dan debu proyek tidak ke rumah warga, tapi tidak dilakukan," jelas Loen. 

"Tapi herannya 1 bulan kerja, pak Ridwan selaku Site Manager proyek mundur dan digantikan oleh pak Sakti. Setahu warga pak Sakti itu bagian keuangan kontraktor. Pak Ridwan mundur, lalu pak Sakti memimpin pekerjaan pembongkaran bekas tower air PDAM ini dengan tidak becus," tambah Leon. 

Lanjut Leon, perjanjian lainnya antara warga dengan PDAM adalah pembongkaran dilakukan bertahap per dua meter dari bagian atas tower. Setelah itu potongan tower diangkat menggunakan Crane dan langsung dimuat kedalam truk untuk dievakuasi keluar, tapi hal ini juga tidak dilakukan oleh pak Sakti. 

"Selama pimpinan Site Manager diambil alih oleh pak Sakti kerjanya ngga bener, kita protes terus. Bahkan warga sudah bersurat kepada Dirut PDAM pak Olik ditembuskan ke Wali Kota Muhammad Idris, DPRD, Kejaksaan. Tapi belum ada tanggapan," keluh Leon. 

Pelaksanaan pekerjaan semakin amburadul, sambung Leon. Oleh Sakti bekas tower air PDAM itu malah dibongkar per empat meter, dan langsung diterjunkan dari atas ke tanah tanpa Crane. Setelahnya, bongkaran tower itu ditaruh dibawah, padahal warga sudah minta agar potongan beton langusung diangkut keluar menggunakan truk.

"Pak Sakti bar bar banget,  dia menurunkan beton bekas tower yang sudah dipotong tanpa Crane. Dia potong tiang beton tower, las duar, keras banget suara dentuman beton yang jatuh dari atas. Kita warga mandi abu, brisik tambah dentuman itu selama dua bulan. Pas kita tanya kenapa ngga pakai Crane menurunkan beton? alasannya dananya ngga cukup pakai Crane, rugi," ujarnya. 

Setelah terus-menerus diprotes warga, pihak kontraktor DPAM akhirnya mendatangkan Crane pada 4 Oktober 2021 lalu. 

Kemudian peristiwa tergulingnya Crane diduga karena PDAM memotong beton tower terlalu panjang. Sehingga Crane kelebihan beban akibatnya miring dan akhirnya terguling ke kanan menimpa dua rumah warga. 

"Akhirnya terjadi ini. Warga udah marah atas peristiwa ini. Keselnya warga, kita kan dari kemarin protes ini menghindari kejadian seperti ini. Tapi akhirnya terjadi, keselnya itu apalagi ada korban," ketus Leon. 

Selain itu, Leon juga mempermasalahkan tidak adanya direksi kit proyek dilokasi, dan karyawan proyek juga lalu lalang dilingkungan warga tanpa menggunakan rompi proyek. Kemudian Leon juga pernah menanyakan nama perusahaan pelaksana proyek tersebut, namun tidak pernah dijawab oleh pelaksana proyek dan PDAM. 

"Ini proyek ngga ada security nya udah 5 bulan, ngga ada penerangan, ngga ada rompi proyek, dan ngga ada kebersihan, kita minta itu dulu. Pekerja nya kan mondar mandir keluar tanpa rompi proyek, warga ngga tahu siapa nih orang kan makin lama makin banyak pekerjan nya"

"Kemudian pas saya tanya apa nama perusahaan pelaksananya kepada perwakilan PDAM Dadang, tapi ngga dikasih tahu. Ngga ada direksi kit sehingga saya menduga ini proyek kepanitian aja. Bilangnya sih dari PT Tirta Sari Mandiri, tapi saya tahu ini pasti di sub kan, nah saya tanya apa nama perusahaan sub nya, ngga dijawab juga oleh PDAM," beber Leon. (RL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00