KPAI : Kasus Bunuh Diri Siswa Selama PJJ Akibat Depresi Beban Tugas Sekolah

KBRN, Jakarta : Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya seorang  siswa di salah satu SMP di Tarakan. Ananda  ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi tempat tinggalnya, Selasa (27/10/2020). 

Tewasnya siswa yang berusia 15 tahun tersebut mengejutkan dunia pendidikan, apalagi pemicu korban bunuh diri adalah banyaknya tugas sekolah  daring yang menumpuk yang belum dikerjakan korban sejak tahun ajaran baru. Padahal syarat mengikuti ujian akhir semester adalah mengumpulkan seluruh tugas tersebut. 

Menurut, Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti, kasus bunuh diri bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Melainkan adanya akumulasi dan rentetan panjang yang dialami individu tersebut dan dia tidak kuat menanggungnya sendirian. 

Sebenarnya, kondisi pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah berlangsung lama. Artinya, sudah banyak yang mulai bisa beradaptasi. Namun, ada juga yang justru makin terbebani. Salah satunya adalah siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Utara. 

"KPAI sudah mendengarkan langsung  penjelasan rinci dari ibunda korban dalam suatu dialog interaktif di salah satu TV Nasional pada 29 oktober 2020 kemarin. Ibunda korban menjelaskan bahwa ananda memang pendiam dan memiliki masalah  dengan  pembelajaran daring. Anak korban lebih merasa nyaman dengan pembelajaran tatap muka, karena PJJ daring tidak disertai penjelasan guru, hanya memberi tuga-tugas saja yang berat dan sulit dikerjakan," bener Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan persnya, Jumat (30/10/2020). 

Ibu korban menjelaskan bahwa saat PJJ fase pertama, kesulitan PJJ masih bisa diatasi karena materi pembelajaran sudah sempat diterima para siswa selama 9 bulan dan saat PJJ sudah menjelang ujian akhir tahun. Namun ketika PJJ fase kedua pada tahun ajaran baru (Juli, 2020), saat naik ke kelas IX (sembilan) semua materi baru dan penjelasan materi dari guru sangat minim, sehingga banyak soal dan penugasan yang sulit dikerjakan atau diselesaikan para siswa. 

Akhirnya tugasnya menumpuk hingga jelang ujian akhir semester ganjil pada November 2020 nanti. Pada 26 Oktober 2020, ibu korban mengaku menerima surat dari pihak sekolah yang isinya menyampaikan bahwa anak korban memiliki sejumlah tagihan tugas dari 11 mata pelajaran. Rata-rata jumlah tagihan tugas yang belum dikerjakan anak korban adalah 3-5 tugas per mata pelajaran. 

"Jadi bisa dibayangkan beratnya tuga yang harus diselesaikan ananda dalam waktu dekat, kalau rata-rata 3 mata pelajaran saja, ada 33 tugas yang menumpuk selama semester ganjil ini," jelas Retno. 

Lebih lanjut dikisahkan Retno, menurut orangtua korban, anaknya belum menyelesaikan tugasnya bukan karena malas. Tetapi karena memang tidak paham sehingga tidak bisa mengerjakan, sementara orangtua juga tidak bisa membantu ananda. "Ibu korban sempat berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait beratnya penugasan sehingga anaknya mengalami kesulitan. Namun pihak sekolah hanya bisa memberikan keringanan waktu pengumpulan, tapi tidak membantu kesulitan belajar yang dialami ananda," beber Retno. 

Persoalan lain, peranan orang tua ikut membuat siswa banyak tertekan karena mereka memang tidak memiliki kemampuan ikut membimbing atau mengajar. 

“Saya tidak bisa menyelesaikan karena memang saya tidak bisa mengerjakannya, enggak paham materinya,” kata sang ibu saat meminta anaknya mengerjakan, sementara orangtua korban juga tidak memiliki kapasitas membantu anaknya mengerjakan tugas-tugas tersebut, urai Retno. 

Orangtua korban menduga kuat kalau surat dari sekolah yang diterima sehari sebelum korban memutuskan mengakhiri hidupnya adalah merupakan pemicu. Pasalnya dalam surat tersebut ada “tekanan” jika tugas-tugas tersebut tidak dikumpulkan ke gurunya, maka anak korban tidak bisa mengikuti ujian semester ganjil nantinya. 

"Kemungkinan korban ketakutan tidak mampu mengerjakan tugas, dan beresiko tidak ikut ujian semester dan nanti bisa tidak lulus SMP," katanya. 

Barangkali tujuan pihak sekolah hanya sekedar mengingatkan dan memberikan dorongan agar para siswanya mengerjakan tugas-tugasnya yang tertumpuk. Namun, bagi remaja yang mengalami ketidakmampuan mengerjakan tugas-tugas PJJ tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan pikiran untuk bunuh diri. 

Kasus bunuh diri siswa SMP (15 tahun) di Tarakan karena PJJ bukan kasus pertama.  Sebelumnya, di bulan yang sama, siswi  (17 tahun) di Kabupaten Gowa juga bunuh diri dengan cara meminum racun karena depresi menghadapi tugas-tugas sekolah yang menumpuk selama PJJ fase kedua. Sedangkan pada September 2020, seorang siswa SD (8 tahun) mengalami penganiayaan dari orangtuanya sendiri karena sulit diajari PJJ. (RL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00