Majelis Hakim Tinjau Lokasi, Warga Syukuran Dan Minta Pemerintah Ganti Untung Bukan Ganti Rugi

KBRN Jakarta: Ratusan Warga RT-16/RW-04 Kelurahan Semper Barat - Kecamatan Cilincing -Jakarta Utara melaksanakan acara syukuran dan makan tumpeng bersama. Acara itu digelar di Masjid Jami'al Hidayah Semper Barat Jakarta Utara, hari ini,Jum'at (14/02/2020)

Syukuran warga Kelurahan Semper Barat RT- 16/ RW - 04 Kecamatan Cilincing Jakarta Utara yang digelar terkait dengan di tinjaunya lokasi pemukiman mereka yang saat ini menjadi obyek sengketa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Tinjauan lokasi dilakukan oleh para majelis Hakim dari PN jakarta utara dalam perkara perdata No.254/G.Pdt/2019/PNJakut

Kuasa hukum warga AR Effendy saat dilokasi menjelaskan dalam tinjauan lokasi sengketa ini, warga penghuni sebagai penggugat intervensi, ingin menunjukkan bahwa tanah yang diperebutkan oleh para pihak penggugat asal dan tergugat asal adalah secara eksistensi ditempati oleh para warga dan di rawat sejak 20 tahun yang lalu.

"Kalau sekarang ada secara mendadak muncul pihak yang tiba-tiba menggugat dan menjadi tergugat merupakan hal yang aneh dan tidak masuk akal. Kenapa mereka baru sadar, baru tiba-tiba muncul dan baru merasa memiliki lahan yang sudah di huni oleh warga selama 20 tahun, yang selama ini tidak pernah ada masalah apapun", ujarnya.

Selain itu, tandas AR Effendy warga selaku penggugat intervensi ingin juga menunjukkan bahwa lahan yang diperebutkan oleh para pihak itu benar-benar dihuni dirawat dikembangkan sejak lebih dari 20 tahun lalu.

"Tanpa ada masalah apapun sebelumnya dan selama ini belum pernah ada yang datang yang mengaku sebagai pemilik tanah. wNamun sejak diterbitkannya sertifikat yang tidak jelas yang tidak dikenal alamatnya, Warga mulai selalu diusik oleh oknum2 yang memiliki kepentingan", tandasnya.

Tergugat asal adalah H maqbul dan keluarganya memiliki 5 sertifikat yang alamatnya tidak dikenal oleh warga .

Sedangkan penggugat asal yakni Purwanto Cs, menggugat dengan dasar dokumen tanah adat berikut vervonding yang mengaku sebagai pemilik tanah.

AR. Effendy menegaskan warga sebagai penggugat intervensi berdiri dipihak independen yang tidak ada kepentingan baik dipihak penggugat asal dan tergugat asal.

"Tentunya warga ingin membela hak-haknya dimana rumah yang didiami dihuni oleh warga yang tiba-tiba diperebutkan oleh pihak-pihak lain", tegasnya.

Seluruh warga dan kuasa hukum AR Effendy dan rekan berharap putusan hakim berpihak kepada warga yang sudah selama berpuluh puluh tahun memelihara, menghuni dan mengembangkan lingkungan dengan baik, sehingga menjadi satu wilayah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

"Warga juga meminta penggugat asal dan tergugat asal, bisa membuktikan dokumen-dokumen yang dimiliki identik dengan lahan sengketa yang dihuni warga. Karena pada dasarnya memang warga menempati tanah negara.

"Warga menunggu ganti untung bukan ganti rugi atas tanah yang sudah mereka tempati puluhan tahun. Ganti rugi atas bangunan sudah diterima oleh warga dari pemerintah melalui kementerian PUPR. Kementarian PUPR sebagai pihak tergugat telah mendaftarkan untuk konsinyasi dana ganti rugi atas tanah tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Seperti diketahui, pembebadasan lahan dilakukan pemerintah untuk pembangunan jalan tol Cibitung Cilincing".(IRV)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00