FOKUS: #PPKM MIKRO

Kementan Evaluasi Pengelola Dana PHLN Dekonsentrasi

KBRN, Jakarta : Kementerian Pertanian memastikan sektor pertanian tanah air akan terus melesat. Untuk itu, Pengelola Dana PHLN Dekonsentrasi perlu dievaluasi. Termasuk pada program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Tahun 2021, SIMURP telah memasuki tahun ketiga. Dengan pelaksanaan kegiatan fokus terhadap Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) yang diarahkan dan dimaksimalkan untuk kegiatan penyuluhan yang berkaitan dengan CSA.

Program SIMURP diharapkan dapat menggenjot peningkatan sumber daya manusia. Hal ini menjadi penting, sebab SDM sangat berperan dalam membangun pertanian berkelanjutan. Karena CSA SIMURP sendiri selaras dengan rencana strategis Kementerian Pertanian yang memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. 

"Bertani itu keren ditambah lagi dukungan program CSA dari proyek SIMURP, pertanian makin memiliki dampak yang positif tentunya untuk meningkatkan produktivitas produksi tanaman dan pendapatan petani," katanya. 

Mentan SYL kembali menegaskan di masa pandemi Covid-19, pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu survive. Bahkan tumbuh positif di saat sektor lain mengalami tekanan. Oleh karena itu, Menteri SYL menilai pertanian ibarat merpati putih yang tidak pernah ingkar janji dan pertanian harus semakin maju, harus semakin kuat.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menyampaikan pelaksanaan CSA SIMURP di BPPSDMP merupakan bagian kegiatan utama Pengembangan Kerjasama Dalam Negeri dan Luar Negeri, yang secara langsung mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) BPPSDMP.  

"Sebagai bagian kegiatan utama BPPSDMP, SIMURP berkolaborasi dengan KOSTRATANI, dengan tujuan meningkatkan produksi dan produktivitas, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Penyuluh dan Petani dalam penerapan teknologi CSA, mengurangi resiko gagal panen serta mengurangi efek gas rumah kaca dan meningkatkan pendapatan Petani di Daerah Irigasi (DI) dan Daerah Irigasi Rawa (DIR) lokasi kegiatan," katanya.

Program SIMURP diharapkan dapat menggenjot peningkatan sumber daya manusia. Dikarenakan hal ini menjadi penting, sebab SDM sangat berperan dalam membangun pertanian berkelanjutan. 

“Petani harus turun ke lapangan, penyuluh harus turun ke lapangan dan mendampingi petani. Dalam kondisi apa pun, pangan tidak boleh bermasalah. Pangan tidak boleh bersoal. Untuk itu, kita harus tanam dan memastikan produksi tidak berhenti,” tegas Dedi.

Sementara Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin Caya dalam pertemuan Laporan Semesteran SIMURP, Rabu (15/09/2021), di Serpong, menyampaikan bahwa pelaksanaan SIMURP sesuai dengan 5 kebijakan proyek yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri di BPPSDMP. 

"Ada 4 K, yaitu Kritis, Kreativitas, Komunikasi dan Kolaborasi baik secara internal maupun eksternal. Di tengah kondisi saat ini diharapkan wilayah-wilayah yang mendapatkan dana PHLN dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan seharusnya tendangannya jauh lebih baik, namun harus tetap cepat, cermat dan aman," tegas Bustanul.

SIMURP yang dibiayai dari pinjaman luar negeri dari World Bank (WB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) menjadi salah satu andalan BPPSDMP sebagai filling the gap, Bustanul berharap agar para pengelola SIMURP Provinsi dan Kabupaten diwajibkan untuk segera merancang Subyek, Obyek, Metode (SOM) untuk akselerasi percepatan realisasi anggaran yang disusun dan di breakdown per 2 mingguan sehingga target di akhir September tercapai.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00