Polisi Diminta Tindak Tegas Penyebar Hoax

Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D, saat menyampaikan Orasi Kebudayaan, dengan tema Collective Violence Dalam Trajektori Peradaban
Orasi Kebudayaan digelar bertepatan dengan Ulang Tahun Prof Hermawan yang ke 65 tahun. (Foto : Erik Hamzah, RRI)
Rektor Ubhara Jaya, Irjen Pol. (Purn) Dr. H. Bambang Karsono, Drs, SH, MM, (Foto : Erik Hamzah, RRI Jakarta)

KBRN, Bekasi : Melalui pendekatan Saintek (Sains dan Teknologi) dan pendekatan intelektual, bangsa ini harus belajar melakukan moderasi. Makin beradab sebuah bangsa, diharapkan semakin berkurang pula, aspek kekerasan terutama kekerasan kolektif.

Hal ini ditegaskan, Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D, usai menyampaikan Orasi Kebudayaan, dengan tema 'Collective Violence Dalam Trajektori Peradaban' yang berlangsung di Auditorium Universitas Bhayangkara Jaya, Bekasi, Senin (4/7/2022). Kegiatan ini digelar bertepatan dengan Ulang Tahun Prof Hermawan yang ke 65 tahun.

"Ini penting di ingatkan terus-menerus dan diterapkan terus menerus, khususnya pada menjelang tahun politik 2024 nanti," ujar Peneliti Senior LIPI sekaligus Ketua Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya tersebut.

Prof Hermawan juga meminta pihak Kepolisian bisa bertindak tegas sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terhadap para pelaku penyebar informasi palsu (hoax). Terutama pada hoax yang sengaja di produksi dalam rangka mengancam ketertiban umum dan mengancam keberlangsungan peradaban bangsa.

"Kalau komunikasi di sosmed itu itu sudah mengancam pada ketertiban umum, mengancam pada keberlangsungan peradaban bangsa ini, polisi harus bertindak lebih keras," ujarnya.

Prof Hermawan berpendapat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling bebas di dunia, dalam hal menggunakan internet. Namun kadang kala, kebebasan itu justru dimanfaatkan 'oknum' untuk kepentingan lain, salah satunya memecah belah kesatuan dan persatuan.

"Karena kenapa? ini masyarakat (Indonesia) yang paling bebas menggunakan internet di dunia ini. Hidup saya kosmopolitan, saya hidup di mana-mana di Jepang, di mana-mana. Enggak sebebas kita. Itu masyarakat kalau dibatasi oleh undang-undang protes. Katanya demokrasi. Tapi demokrasi yang lepas kontrol dalam hal komunikasi media, itu bagi saya anarkisme. Anarkisme itu bukan bagian dari demokasi. Itu merusak," tegasnya.

Agar hoax bisa ditekan dan masyarakat bisa memilah mana informasi benar dan mana informasi yang salah, semua pihak diminta turun tangan melakukan sosialisasi pencegahan. Sosialisasi bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga perlu keterlibatan kalangan Akademisi.

"Yang saya lakukan ini. Saya ingin memberi contoh kepada kawan-kawan Akademisi yang lain. Supaya  mereka melakukan hal yang sama. Karena kalau enggak bisa hancur bangsa ini. karena orang sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang hoax, mana yang benar. Polisi harus lebih (memberikan sanksi) untuk kayak begitu. Hoax bisa merajalela kalau di diamkan," katanya.

Sementara itu Rektor Ubhara Jaya, Irjen Pol. (Purn) Dr. H. Bambang Karsono, Drs, SH, MM, menyebut jika Prof Hermawan memiliki keunikan dan sulit ditebak. Tetapi, banyak ide yang dihasilkan menyangkut masalah kemasyarakatan atau yang menyentuh hakikat hidup masyarakat banyak.

Kali ini dengan kekerasan yang sudah menggejala dimana-mana. Prof Hermawan merasa ini perlu diredam secara kokektif. Menurut Rektor, ajakan yang dilakukan Prof Hermawan sangat bagus sekali. 

"Apalagi jelang Pemilu (2024) ini. Terutana yang kami soroti adalah banyaknya berita-berita yang hoax. Orang sulit mencari mana yang benar dan mana yang hoax, bahaya itu. Nanti bisa membentuk opini masyarakat kolektif, susah kita membendungnya. Tapi dengan mulai dengan adanya ajakan-ajakan yang persuasif seperti ini, diharapkan bisa lebih wise, bijaksana begitu," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar