Sembunyi 3 tahun, DPO Kejari Tual ditangkap Tim Intelijen Kejagung di Kota Depok

DPO AO (51) diamankan di Cilodong, Kota Depok, Rabu (22/9).
Kasi Intelijen Kejari Kota Depok Andi Rio Rahmat Rahmatu.

KBRN, Depok: Tim Intelijen Kejaksaan Agung RI dan tim Kejaksaan Negeri Kota Depok berhasil mengamankan seorang DPO asal Kejaksaan Negeri Tual. Terpidana Ade Ohoiwutun (51) diamankan di Jalan Tanjakan Saung Tenda No 98, Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021).

"Ade Ohoiwutun adalah tersangka korupsi hasil pengusutan Kejari Tual, Maluku. Tim Intelijen Kejagung dan tim Intelijen Kejari Depok berhasil menangkap yang bersangkutan di Kota Depok, sekitar pukul 15:20 WIB," kata Kasi Intelijen Kejari Kota Depok Andi Rio Rahmat Rahmatu, kepada wartawan di Kantor Kejari Depok.

Terpidana AO telah bersembunyi selama 3 tahun di Kota Depok, terhitung sejak tahun 2018 lalu.

"Yang bersangkutan sudah 3 tahun tinggal dialamat lokasi penangkapan," katanya.

Warga kelahiran Jalan Citra Hutan Jati Damar, Kecamatan Dullah Selatan RT02/RW04, Kota Tual, Maluku, tahun 1970 ini adalah pesiunan ASN dengan jabatan bendahara pengeluaran pada Sekertaris Dewan DPRD Kota Tual.

Adapun tindak pidana korupsi yang didalami oleh Kejari Kota Tual yang menyeret Ade Ohoiwutun dan Sekwan M Kabalmay terkait Pengadaan Makan Minum DPRD Tahun Anggaran 2010.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 834 K/Pid.Sus/2017 Tanggal 20 Februari 2018. Ade Ohoiwutun terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Korupsi Pengadaan Makan Minum DPRD Tahun Anggaran 2010.

"Ade dan Kabalmay telah memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu koorporasi dan telah menimbulkan kerugian keuangan Negara atau perekonomian Negara dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia Cq. Pemerintah Kota Tual sebesar Rp3.1 miliar," ucap Andi.

Ade divonis pidana penjara selama 6 tahun dan denda Rp200 juta, dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti pidana kurungan 6 (enam) bulan.

Selain itu, Ade juga dijatuhi pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar Rp787 juta.

"Jika uang pengganti tidak dibayar paling lama 1 (satu) bulan setelah putusan maka harta bendanya disita oleh jaksa dan di lelang. Apabila tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti maka dipidana penjara selama 3 (tiga) tahun," ujar Andi.

Informasi yang berhasil dihimpun RRI, setelah diamankan, Ade Ohoiwutun dibantarkan ke Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Selanjutnya, yang bersangkutan akan dibawa pulang ke Maluku.

Andi menghimbau, kepada DPO Kejaksaan Agung khususnya Kejaksaan Republik Indonesia untuk segera menyerahkan diri. Karena, sambung Andi, tidak ada tempat yang aman untuk DPO bersembunyi dari Kejaksaan dimana pun berada di NKRI. (RL)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00