ICW Kritik Red Notice Harun Masiku, L-SAK: Aneh Bin Keblinger

KBRN, Jakarta : Kritik Indonesia Corruption Watch (ICW) atas terbitnya red notice terhadap DPO Harun Masiku patut dicermati seksama. Pasalnya, red notice menjadi salah satu indikator keseriusan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menangkap terduga korupsi di PAW anggota DPR RI ini.

Bahkan, sebelumnya KPK juga telah menyampaikan ultimatum untuk mempidanakan siapapun yang menghalangi upaya penangkapan buronan KPK tersebut.

"Aneh bin keblinger, ICW malah menyebut upaya itu untuk membungkam kritik masyarakat. Padahal, jika pernyataan keblinger ICW dipaksakan sebagai sebuah kritik, hal itu menunjukkan bahwa tidak ada upaya pembungkaman kritik dari masyarakat," ujar Peneliti L-SAK, Ahmad Aron H, di Jakarta, Senin (2/8/2021).

Dia justru curiga peran apa dari pesan yang tengah dilakoni ICW di dalam persoalan ini. Sebab, katanya, kritik adalah proses analisis dan evaluasi yang dapat menambah pemahaman dan untuk memperbaiki sesuatu.

"Tetapi kalau hanya berupaya menyalahkan disertai dengan membangun narasi negatif agar terkonstruksi ketidakpercayaan, jelas bagi publik siapa sebenarnya yang harus dikritik dan yang tidak perlu dipercayai," tegasnya.

Dari sisi text pesan yang dikatakan ICW, lanjut dia, tidak ada sedikitpun hal yang memperluas wawasan apalagi mencipta konstruksi perbaikan. "Pun dari konteksnya, perspektif ICW malah tidak senang dengan upaya keseriusan pemberantasan korupsi atau juga tidak senang bila KPK tetap kuat melaksanakan tugas dan fungsinya memberantas korupsi," katanya.

Bahkan dalam konteks lebih luas, menurut dia narasi pelemahan KPK dibangun ICW di saat kinerja KPK periode ini sangat optimal dan serius mengusut korupsi lahan di DKI Jakarta dan tidak terbukanya bantuan dana asing melalui KPK.

"Maka pertanyaan untuk ICW, apakah pembungkaman yang dimaksud itu membungkam kasus-kasus tersebut agar tidak menjadi perhatian masyarakat?" ucapnya.

Ia menilai KPK harus kuat dan tetap diawasi masyarakat untuk terus melakukan pemberantasan korupsi. "Dalam kasus buron Harun Masiku yang telah terdeteksi interpol melarikan diri dan berada di luar negeri, maka L-SAK mengusulkan ide konstruktif," ungkapnya.

Ia pun mengaku L-SAK akan membuat sayembara untuk warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, pelajar, mahasiswa, atau para pekerja dan lainnya.

"Barang siapa yang bisa membantu memberikan informasi keberadaan Harun Masiku kepada KPK, maka L-SAK akan menyediakan hadiah motor matic gress yang gesit sebagai simbol masyarakat adalah motor penggerak pemberantasan korupsi," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00