Stafsus Wapres: Industri Halal adalah Politik Perdagangan Internasional

KBRN, Jakarta : Para pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan bersama-sama mewujudkan arahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia pada tahun 2024.

Demikian disampaikan Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Lukmanul Hakim, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Series Global Halal Hub, di kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Untuk menuju target itu, katanya, diperlukan ekosistem terintegrasi yang meliputi suprastruktur, infrastruktur, dan model bisnis yang dapat mengakselerasi industri halal dan produk halal sebagai keunggulan kompetitif (competitive advantage) Indonesia.

“Dengan Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar, posisi tawar untuk pengembangan industri halal semakin kuat sebagai competitive advantage dan juga bagian dari political trade (politik perdagangan) internasional,” ujar Lukmanul Hakim.

Untuk mendukung itu, lanjutnya, perlu political will dari semua pemangku kepentingan dan menangkap peluang ekonomi industri halal dunia yang sangat besar.

Ekosistem industri halal terintegrasi, menurut Lukmanul Hakim, sangat penting untuk mewujudkan industri halal Indonesia yang berdaya saing, efisien, dan mampu menjadi pemimpin pasar di dunia.

Karena itu, pemerintah konsen mendukung infrastruktur Kawasan Industri Halal (KIH) dan infrastruktur pendukungnya termasuk logistik halal, transportasi, hingga pelabuhan halal (halal port). “Halal port sudah dimiliki negara-negara lain seperti Malaysia, Belanda, Brazil dan lainnya," paparnya.

Ia menjelaskan, Wakil Presiden mendapat refocusing tugas untuk mewujudkan arahan Presiden salah satunya adalah pengembangan industri halal.

“Bapak Wapres meminta adanya langkah quick-wins untuk mempercepat perwujudan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia pada 2024,” tutur Lukmanul Hakim.

Ia menilai, industri halal dapat menjadi nilai tambah ekonomi nasional, karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di sektor makanan halal (halal food), keuangan syariah (islamic finance), modest fashion, pariwisata ramah muslim, farmasi & kosmetika, dan media & rekreasi (media & recreation).

Peringkat Indonesia dalam The State of Global Islamic Economic Index 2020/2021 berada di peringkat ke 4 dunia. "Namun, perlu dicermati saat ini Indonesia baru menjadi negara konsumen terbesar, bukan sebagai negara produsen produk halal terbesar," tegasnya.

Sementara negara-negara lainnya, termasuk negara-negara maju yang berpenduduk muslim sedikit, menangkap industri halal sebagai peluang pasar besar di dunia.

“Negara produsen dan eksportir makanan halal terbesar di dunia saat ini adalah Brazil, India, Amerika Serikat, Rusia, dan China, sedangkan Indonesia adalah negara sebagai konsumen makanan halal terbesar di dunia,” ungkap Lukmanul Hakim mengutip hasil kajian Dinard Standard yang bermarkas di Dubai.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar