FOKUS: #PPKM MIKRO

Lewat Sentuhan Kementan, Cirebon Capai IP 300

KBRN, Jakarta : Kinerja Kementerian Pertanian sangat dirasakan petani di Kabuaten Cirebon. Kementan meningkatkan indeks pertanaman (IP) di Cirebon menjad IP 300, atau tiga kali tanam dalam setahun. Produktivitas pun mampu ditingkatkan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Di tengah pandemi saat ini hanya sektor pertanian yang menjadi penopang roda perekonomian bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

"Bertani itu keren ditambah lagi dukungan program Climate Smart Agriculture (CSA) dari proyek SIMURP, pertanian makin memiliki dampak yang positif tentunya untuk meningkatkan produktivitas produksi tanaman dan pendapatan petani diantaranya melalui peningkatan IP," katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menambahkan bahwa CSA atau Pertanian Cerdas Iklim merupakan kunci andalan SIMURP sehingga harus betul-betul dipahami oleh seluruh pelaksana SIMURP Pusat dan daerah.

Secara rinci Dedi menjelaskan bahwa CSA berfokus pada ketahanan pangan dan ketahanan iklim dengan tiga pilar utama. 

"Pertama, meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian secara berkelanjutan diantaranya melalui peningkatan IP. Kedua, beradaptasi dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan Ketiga, jika memungkinkan, mengurangi dan atau menghilangkan emisi GRK," katanya.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Waled, yang merupakan salah satu lokasi SIMURP sekaligus BPP Kostratani di Kabupaten Cirebon, mendukung fungsi sebagai pusat pembelajaran dengan melaksanakan kegiatan penembangan demplot padi berbasis CSA. 

Salah satunya dengan meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi dan peningkatan Indeks pertanaman menjadi tiga kali atau dikenal dengan IP 300 dengan memanfaatkan teknologi modern melalui pertanian cerdas iklim.

Persiapan pelaksanaan demplot pengembangan CSA dan pelaksanaan CSA Satelit dilakukan pada Kamis (16/09/2021), di saung tani kelompok tani Harapan Mukti Desa Jatirenggang Kecamatan Pabuaran. 

Pertemuan juga membahas pembuatan pupuk organik dan persiapan tanam dengan menggunakan teknologi Jajar Legowo yang disampaikan oleh penyuluh pendamping alumni Training of Trainer (ToT). 

Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Kepala Desa Kuwu, Kaur Ekbang Pemerintah Desa Jatirenggang, penyuluh pendamping SIMURP dan petani anggota kelompoktani yang mendapat manfaat SIMURP.  

Koordinator BPP Waled, Hentiyo menyampaikan bahwa banyak manfaat yang didapat dari pertemuan diantaranya ketersediaan bahan organik yang berada di dalam tanah untuk peningkatan produksi padi sawah. 

"Karena masih jarang atau sedikitnya petani memberikan pupuk organik/bahan organik pada tanah sawah," ujarnya. 

Hentiyo menambahkan penggunaan pupuk kimia sintesis dan penggunaan pestisida kimia yang terus menerus menyebabkan kerusakan pada struktur kimia dan mikroorganisme yang berada di dalam tanah sehingga tanah menjadi tidak sehat dan menyebabkan penurunan produksi serta tingkat GRK yang dihasilkan menjadi lebih besar. 

Salah satu upaya pemecahan masalah-masalah adalah dengan menggunakan pupuk organik dan jarak tanam jajar legowo. 

"Melalui Program CSA SIMURP diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman dan produksi serta dapat mengurangi emisi GRK yang disinyalir dihasilkan dari pertanian," terang Hentiyo.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00