FOKUS: #PPKM MIKRO

Dharma Wanita RRI Jakarta Study Banding Melirik Peluang Sampah Menjadi Rupiah

KBRN, Jakarta : Seiring kesadaran lingkungan yang semakin baik, banyak orang terpanggil untuk memilah sampah mulai dari rumah. 

Tergugahnya kaum ibu untuk memulai dari diri sendiri, turut dirasakan Junita Manik, SKM. MKes, Ketua Dharma Wanita RRI Jakarta. Ketertarikan itu muncul, mengingat dharma wanita sebagai mitra strategis pemerintah yang bisa turut memberdayakan masyarakat dengan kegiatan tersebut. 

“Ketertarikan saya itu karena salah satu peranaan dharma wanita adalah optimasiliasi sebagai mitra strategis pemerintah, dalam hal ini untuk pemberdayaan masyarakat. Jadi  saya ingin mengajak ibu-ibu dharma wanita itu punya peran aktif bagaimana bisa memberdayakan masyarakat baik di kantor lingkungan kantor maupun di lingkungan masing-masing agar dapat meningkatkan kesejahteraan baik keluarga maupun kesehatan lingkungan.” Ungkap Ketua Dharma Wanita RRI Jakarta Junita Manik, SKM.MKes di Jln Gunung Batu no 5 Kantor Badan Standarisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KLHK Bogor.

Junita Manik yang memiliki rambut hitam itu menuturkan yang ikut pelatihan bisa minim sampah dharma wanita nasional selama 3 bulan, merasakan banyak manfaatnya, agar ilmu pengetahuan yang diperoleh berguna.

Ia mengajak ibu-ibu Dharma Wanita RRI Jakarta mengunjungi Bank Sampah Unit Cendana di kawasan Bogor Jawa Barat dalam rangka Hari Bersih Sampah Sedunia yang diperingati 18 September mendatang. Kegiatan ini dilakukan lanjut Junita Manik, untuk mengetahui bahwa kita bisa turut andil dalam penanganan sampah mulai dari rumah sendiri. 

“Kenapa saya bawa dharma wanita RRI Jakarta kesana, karena saya ingin mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di lapangan, sehingga mereka bisa membayangkan dan menganalisis kira-kira manfaat yang mereka dapatkan dari pembelajaran ini akan memudahkan mereka untuk bisa menerapkan nanti ketika mereka ingin mencoba menerapkan di tempat tinggal maupun di kantor RRI Jakarta.” Terang Junita Manik yang juga istri dari Kepsta RRI Jakarta Enderiman Butar Butar.

Hal yang sama disampaikan Ketua Pokja Program Kampung Iklim Dharma Wanita Persatuan ( DWP) BSILHK Mayang Syaiful Anwar. Dirinya yang turut belajar di Bank Sampah Unit Cendana, Bogor menuturkan dari waktu 24 jam yang dia miliki, 2 jam dipergunakan untuk memilah sampah. Ini dilakukan karena sampah rumah tangga yang dihasilkan menjadi tanggung jawabnya . Hal ini lanjut Mayang, akhirnya bisa menekan volume sampah rumahnya dari 2 kilogram per hari menjadi 2 ons.

“Saya juga bisa menurunkan sampah, yang tadinya dalam satu hari bisa 1 – 2 kilogram menjadi 2 ons. Dengan cara yang anorganic masukin ke Bank Sampah dan yang organic jadi kompos. Dengan memilah sampah rumah kita jadi bersih, bantu teman-teman di Bank Sampah untuk tidak memilih dan kebersihan sebagain dari iman bagi kita." Kata Wakil Ketua Dharma Wanita Perubahan Iklim Mayang Saiful Anwar.

Senada dengan Mayang Saiful Anwar, Neni Satria Astana, Direktur Bank Sampah Unit Cendana DWP BSILHK berharap adanya Peraturan Walikota (Perwali) yang mewajibkan setiap KK menjadi nasabah Bank Sampah. Selain itu kita mendapat penghargaan dari Pemkot Bogor.

"Untuk nasabah didaerah sini rata-rata 400kg pernah 1 ton, yang kami ambil tiap 3 Minggu, uangnya dari Final LH sebesar Rp.500 ribu, untuk botol mineral jenis pet sekilo itu Rp6000, dan besi itu Rp5000.-"ujar Neni yang juga Ketua Bidang Ekonomi.

Ditempat yang sama, Ketua DWP BSILHK, Nelly Agus Justianto menambahkan, tantangan terberat dalam mengelola sampah itu adalah menggerakkan mindset, bahwa sampah yang tidak ada nilai dan dibuang ke tempat sampah yang nanti diambil oleh pihak lingkungan, sebenarnya bisa menjadi nilai ekonomis.

"Kami terus sosialiasi kepada masyarakat dan mudah mudahan menjadi habit ke anaknya, dengan memiliah sampah organik menjadi pupuk dan non organik menjadi nilai ekonomis."katanya. 

Pembangunan Bank Sampah merupakan momentum dalam membina kesadaran kolektif masyarakat agar dapat bersahabat dengan sampah. Apalagi pemerintah sudah mengaturnya dalam Undang-Undang nomor 18 tahun 2008, bahwa setiap orang punya kewajiban untuk mengurangi dan menangani sampah. 

Sejarah Bank Sampah Unit Cendana berdiri  20 april 2018, diawali dari ibu-ibu dan karyawati, seiring berjalannya waktu animo membludak akhirnya  para anggota rimbawan membuka cabang di komplek masing-masing. ( total  6 cabang )  dan 2 sudah mandiri kini tinggal 4 cabang. 

Keberhasilan Bank Sampah Cendana tergantung dari nasabah, bagaimana mereka teredukasi sekaligus melakukan aksi mengumpul dan memilah sampah yg dimulai dari keluarga.

Jumlah nasabah Bank Sampah Cendana hingga saat ini 240 orang, Jenis sampah yang diterima 35 jenis

Dana yang dimiliki tahun 2018 - 2019 : 22 juta, pada tahun 2020 - 2021 sempat menurun karena pandemi, sehingga kini digiatkan kembali sosialisasi kepada  anggota  nasabah agar tetap aktif dan diperlukan Perwal.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00