FOKUS: #PPKM MIKRO

Dukung Pertanian Ramah Lingkungan, Cirebon Lakukan Pengukuran Emisi Gas Rumah Kaca

KBRN, Jakarta : Pertanian di Kabupaten Cirebon sudah menerapkan Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Teknik ini dimanfaatkan untuk mengukur emisi Gas Rumah Kaca (GRK). 

Emisi GRK sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Hal ini ditandai dengan cuaca yang tidak bisa diduga, yang akhirnya sangat mempengaruhi pembangunan pertanian khususnya budidaya pertanian. 

SIMURP sendiri merupakan program utama Kementerian Pertanian salah satu tujuannya adalah menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui CSA atau Pertanian Cerdas Iklim.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, Kementan banyak memiliki program strategis guna peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani, salah satunya Program SIMURP. 

"CSA SIMURP memiliki dampak positif untuk pertanian. SIMURP pun sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian yang difokuskan pada tiga tujuan pembangunan pertanian," tutur Mentan SYL. 

Menurutnya, untuk mengatasi perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan CSA SIMURP selaras dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian yang memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan. 

”Melalui CSA atau Pertanian Cerdas Iklim, SIMURP dapat menggenjot peningkatan sumber daya manusia. Hal ini menjadi penting sebab, SDM sangat berperan dalam membangun pertanian berkelanjutan,” terang Dedi.

BPP Pabedilan, melalui Poktan Guru Desa Barisan, Kecamatan Losari, sebagai penerima maanfaat SIMURP, telah melakukan pengambilan sampel GRK, Jumat (30/7/2021), bersama Fasilitator dari Balai Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati, Titi Sopiawati. 

Pengambilan sampel GRK merupakan pengambilan sampel yang ke 3 (terakhir) pada umur padi 95 HST. Pengambilan sampel GRK dilakukan di lahan CSA SIMURP dan non CSA SIMURP, dengan 3 kali ulangan.

Secara rinci, Titi Sopiawati melakukan pengambilan sampel dengan menggunakan chamber besar untuk gas methan (NH4) dan chamber kecil untuk  gas N2O. 

Pengambilan sampel dan pencatatan suhu pada chamber gas methan dilakukan pada menit ke 5,10,15,20 dan 25 sedangkan pada chamber gas N2O pada menit ke 10,20,30,40 dan 50.

”Sampel yang telah terambil beserta data suhu tiap menit dan tiap chamber selanjutnya dikirim ke Balingtan Pati untuk dianalisis/dibaca di laboratorium dengan kromatografi gas (GC), hasil pembacaaan fluks GRK ditujukan untuk mendapatkan nilai konsentrasi Emisi GRK pada lahan demplot CSA dibandingkan dengan non CSA,” terangnya.

Kegiatan pengambilan sampel diikuti oleh oleh penyuluh TOT, penyuluh pendamping, POPT, petani sekitar penerima kegiatan SIMURP CSA Padi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00