AS Pertimbangkan Masukan Israel Soal Nuklir Iran

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden yang memiliki pendekatan berbeda soal proyek nuklir Iran (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Adanya sinyal “lampu hijau” Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Joe Biden, untuk kembali bergabung ke dalam perjanjian JCPOA 2015 tampaknya disambut positif oleh Iran.

Perlakuan berbeda pada adminstrasi Presiden Donald Trump terhadap program nuklir Iran, dari tekanan maksimum, menjadi diplomasi maksimum pada pemerintahan Presiden Joe Biden.

Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki mengatakan, Presiden Biden disebut mengedepankan diplomasi, namun tetap memperkuat pembatasan nuklir Iran.

"Presiden juga telah menjelaskan, bahwa dia percaya hal itu melalui diplomasi. AS harus berusaha untuk memperpanjang dan memperkuat pembatasan nuklir terhadap Iran serta mengatasi masalah lain yang menjadi perhatian,” ujar Psaki dalam pertemuan bersama media pekan ini.

AS dikatakan bakal bergabung kembali pada perjanjian JCPOA 2015 dan meringankan sanksi ekonomi, apabila Iran mematuhi berbagai kesepakatan yang terkandung dalam perjanjian.

BACA JUGA: Israel Dibalik Tewasnya lmuwan Nuklir Iran

“Iran harus melanjutkan kepatuhan dengan pembatasan nuklir yang signifikan, berdasarkan kesepakatan agar hal itu berlanjut,” imbuh Psaki.

Psaki memastikan AS segera menghelat pertemuan dengan para negara mitra dan sekutu, untuk membahas program nuklir Iran.

“Kami berharap bahwa beberapa percakapan baru-baru ini dengan mitra asing atau pemimpin asing akan dilakukan dengan mitra dan sekutu. Bahwa, kami pasti mengantisipasi ini akan menjadi bagian dari diskusi,” jelasnya.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Reza Widyarsa, menilai, pendapat Israel akan menjadi pertimbangan AS sebelum akhirnya bergabung kembali ke perjanjian JCPOA 2015 maupun memberikan keringanan sanksi ekonomi terhadap Iran.

BACA JUGA: Pakar Nuklir Iran Tewas, PBB: Hindari Ketegangan

“Karena, AS tetap memandang Israel sebagai sekutu utama mereka di Timur Tengah. Selain Mesir dan Arab Saudi. Karena, Israel adalah perpanjangan tangan AS. Jangan sampai Israel merasa ditinggal oleh AS,” ungkap Reza ketika dihubungi RRI.CO.ID, Rabu (27/1/2021).

Terdapat dua hal yang dipastikan menjadi menjadi keinginan Israel, agar dipertimbangkan oleh AS terkait Iran.

“Kelihatannya Israel “oke” dengan usulan Biden. Hanya saja Isreal memasukkan pasal-pasal seperti jamannya Obama itu, bahwa Israel ingin Iran menghentikan mendukung Hizbullah dan sebagainya, yang dianggap aksi terorisme oleh Israel di Timur Tengah. Kemudian, Israel ingin Iran mengurangi program rudal balistik. Mungkin untuk mengurangi rudal balistik mungkin tidak masalah bagi Iran, hanya problemnya adalah mengenai apa yang dikatakan Israel bahwa Iran mendukung aksi terorisme di Timur Tengah. Karena, itu terkait dengan foreign policy dan keamanan nasional Iran. Selama itu bisa dikompromikan oleh Iran, saya rasa akan cepat (tercapai kesepakatan nuklir baru dengan AS-red),” paparnya.

Menurut Reza, permasalahan dalam negeri terlebih adanya tuntutan perbaikan ekonomi akibat adanya pandemi COVID-19, juga menjadi pertimbangan Iran untuk kemungkinan besar melaksanakan tuntutan AS terhadap program nuklirnya.

BACA JUGA: Indonesia Dorong Penghapusan Total Senjata Nuklir

“Apalagi karena COVID-19 Iran lebih banyak memerlukan investasi dan uang. Karena, kalau ini sudah deal jadi perdagangan Iran dengan dunia internasional itu akan terbuka sekali. Semua blokade itu akan diangkatkan,” tegas Reza.

Beberapa saat setelah inagurasi Joe Biden sebagai Presiden AS ke – 46, Presiden Hassan Rouhani, menyatakan, adanya pemenuhan kewajiban pada pemerintahan Biden dan menyebut usaha Trump untuk menghancurkan JCPOA telah gagal.

“Hari ini bola ada di panggilan AS dan Washington kembali dan harus memenuhi kewajibannya. Karir politik Trump telah berakhir, tetapi JCPOA masih hidup. Semua usahanya untuk menghancurkan JCPOA tidak akan berhasil dan dia gagal,” ucap Rouhani.

Presiden Trump pada 8 Mei 2018 mengumumkan AS akan keluar dari JCPOA.

JCPOA atau juga dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran merupakan perjanjian mengenai program nuklir Iran yang disepakati di Kota Wina, 14 Juli 2015 oleh Iran, P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman) dan Uni Eropa. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00