Inggris Negara Pertama Gunakan Vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech

Ilustrasi/Vaksin COVID-19 produksi Pfizer-BioNTech mulai digunakan pertama kali oleh Inggris (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Kabar baik tengah menyelimuti Inggris di tengah pandemi COVID-19.

Pasalnya, Inggris resmi menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan vaksin Pfizer/BioNTech untuk melawan virus COVID-19.

Penggunaan vaksin Pfizer/BioNTech yang merupakan produksi perusahaan farmasi Pfizer asal Amerika Serikat dan BioNTech asal Jerman itu, mendapatkan otoritasi dari Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris (MHRA).

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menyatakan, vaksin akan mulai tersedia pada pekan depan sebanyak 800.000 dosis pada tahap pertama.

“Kemudian, akan dilanjutkan dengan pengiriman dengan jumlah cepat yang sesuai dengan kemampuan memproduksi dan proses itu tentunya dilakukan oleh Pfizer di Belgia. Jadi, itu semua tergantung dengan kecepatan untuk kapan kita bisa menyediakan vaksin tersebut,” ungkap Hancock dalam wawancara bersama BBC News, Rabu (2/12/2020).

Hancock memastikan ratusan ribu vaksin tahap pertama itu akan diberikan kepada mereka yang sangat rentan, seperti yang berada di panti jompo.

“Para lansia di panti jompo dan staf panti jompo telah ditempatkan di urutan teratas daftar prioritas, diikuti oleh lebih dari usia 80-an dan staf kesehatan dan perawatan,” jelasnya.

Terkait dengan penyimpanan vaksin yang memerlukan suhu hingga -70 derajat celcius, Hancock menyebut akan dilakukan pada tiga metode.

“Penyimpanan akan kita gunakan tiga model, penyimpanan di rumah sakit, pusat vaksinasi dan komunitas yang menyediakan tempat penyimpanan (vaksin),” papar Hancock.

Inggris tercatat telah melakukan pemesanan hingga 40 juta dosis vaksin Pfizer/BioNTech untuk 20 juta warga dengan 10 juta dosis yang akan tiba sepanjang 2020.

Setiap orang akan memerlukan dua dosis, sehingga diperlukan jarak 21 hari untuk setiap dosis.

Inggris optimis dengan adanya vaksinasi kepada warganya menggunakan vaksin Pfizer/BioNTech, akan memberikan hasil positif untuk tercapainya kehidupan seperti sebelum adanya pandemi COVID-19.

“Setelah itu kami akan mulai melindungi warga, sebagaimana perlidungan itu ada melalui dua suntikan ini. Langkah itu akan menyelamatkan kehidupan. Kemudian, ketika kita telah melindungi mereka yang sangat rentan maka itu akan membantu kita kembali ke kehidupan normal dan tentunya kembali kepada hal-hal yang kita cintai dulu,” harap Hancock.

Rekomendasi kepada MHRA untuk menyetujui penggunaan vaksin Pfizer/BioNTech di Inggris, turut ditentukan oleh Komisi Kelompok Kerja Ahli Kedokteran Manusia.

Komisi itu menyatakan rekomendasi penggunaan vaksin Pfizer/BioNTech secara resmi di Inggris selain dikarenakan efektifitas penggunaan hingga 95%, juga disebabkan efek samping penggunaannya tergolong ringan.

“Kami melihat pada data laboratirum, proses produksi, data kualitas, serta data uji coba klinis. Data menunjukkan bahwa penggunaan vaksin ini 95 persen efektif, untuk seluruh kelompok yang telah diberi vaksin selama uji coba. Tingkat keamanan vaksin ini sama seperti vaksin lainnya. Seperti, dampak sampingnya sangat ringan dan hanya terjadi beberapa hari,” ucap Sir Munir Pirmohamed, Ketua Komisi Kelompok Kerja Ahli Kedokteran Manusia dalam press briefing yang berlangsung Rabu (2/12/2020) di London.

Menurut Munir, komite juga menilai pasien yang telah terinfeksi COVID-19, tidak ditemukan pencegahan berarti setelah mendapatkan suntikan vaksin Pfizer/BioNTech.

“Komite juga mempertimbangkan tidak ada pencegahan spesifik yang diperlukan untuk adminstrasi vaksin ini, terhadap mereka yang telah terinfeksi COVID-19. Serta, tidak diperlukan uji coba sebelum mendapatkan vaksin tersebut,” terangnya.

Meski demikian, Munir berpendapat, tetap diperlukan adanya pengawasan terhadap mereka yang telah divaksinasi.

“Kami merekomendasikan MHRA untuk mengambil alih pengawasan penggunaan vaksin setelah digunakan. Ini juga termasuk penggunaan kartu kuning serta program khusus yang akan mengundang masyarakat untuk bergabung,” tambah Munir.

Ahli Virus Inggris Muhammad Munir, mengatakan berbagai tantangan kemungkinan besar akan dihadapi, ketika vaksin disebar di masyarakat secara luas.

“Pada intinya kita semua dalam mode positif sekarang, meskipun akan ada berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam beberapa bulan. Terutama ketika kemampuan vaksin akan disebar masuk ke masyarakat umum. Sebab, saat ini jika kita berbicara khusus mengenai Inggris, kita memiliki 10 juta dosis yang akan tiba tahun ini dan akan diberikan kepada 5 juta orang,” tegas Muhammad Munir dalam sesi wawancara di CNN.

Ilmuwan penemu vaksin Pfizer/BioNTech Profesor Ugur Sahin memperkirakan distribusi vaksin secara masif diperkirakan akan terwujud pada Maret-April tahun depan, dengan situasi pandemi COVID-19 yang terkendali baik.

“Kita mengharapkan vaksin ini akan siap di tengah musim dingin yang sulit dan itu akan menjadi terburu-buru sebelum kondisinya menjadi lebih baik. Kami memperkirakan penyebaran vaksin akan dimulai pada Maret-April tahun depan. Serta, secara ideal kita akan memiliki situasi yang terkendali tahun depan,” ungkap ilmuwan asal Turki itu dalam wawancara di Sky News yang disiarkan pada 12 November lalu.

Pfizer/BioNTech adalah vaksin pertama yang mempublikasikan hasil awal yang positif dari tahap akhir pengujian.

Melansir BBC News Pfizer/BioNTech adalah jenis baru yang disebut vaksin mRNA yang menggunakan sebagian kecil kode genetik dari virus pandemic, untuk mengajari tubuh cara melawan Covid-19 dan membangun kekebalan.

Vaksin mRNA belum pernah disetujui untuk digunakan pada manusia sebelumnya, meskipun orang telah menerimanya dalam uji klinis.

Karena vaksin harus disimpan pada suhu sekitar -70C, vaksin akan diangkut dalam kotak khusus hingga 5.000 dosis, dikemas dalam es kering.

Setelah dikirim, dapat disimpan hingga lima hari di lemari pendingin. Setelah, dikeluarkan  dari lemari pendingin  vaksin perlu digunakan dalam waktu enam jam.

BioNTech dan Pfizer telah mengajukan kandidat vaksin mereka ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada pertengahan November.

Hal serupa juga telah dilakukan kepada Badan Obat Eropa Uni Eropa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00