Joe Biden Sebut AS Perlu Reformasi Tubuh Kepolisian

Polisi Amerika Serikat memberikan penghormatan kepada George Floyd

KBRN, Jakarta : Kematian George Floyd tidak hanya mengundang aksi protes menuntut keadilan bagi seorang pria berkulit hitam yang tidak bersenjata itu. Tapi, juga untuk adanya reformasi ditubuh kepolisian Amerika Serikat.

Hal itu disuarakan oleh Joe Biden, rival Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat November mendatang.

Biden menyerukan agar kongres Amerika Serikat segera mendesak Presiden Donald Trump, untuk melarang chokeholds (melingkarkan lengan di leher orang lain dalam genggaman yang erat dari belakang) oleh aparat kepolisian.

“Saya memanggil kongres untuk bertindak bulan ini pada reformasi polisi nyata untuk melarang chokeholds. Kongres harus meletakkannya di meja presiden dalam beberapa hari ke depan,” tegas Biden ketika berbicara di hadapan para pendukungnya di kota Philadelphia, Pennsylvania, sebagaimana disiarkan langsung oleh Al Jazeera, Selasa (2/6/2020).

Wakil Presiden Amerika Serikat ke – 47 itu turut mendorong pula untuk adanya payung hukum jelas, bagi standar penggunaan senjata oleh aparat kepolisian.

“Langkah-langkah lainnya yaitu mentransfer senjata perang kepada pasukan polisi, meningkatkan pengawasan dan akuntabilitas, untuk membuat model penggunaan standar yang juga harus dijadikan hukum bulan ini. Tidak ada lagi alasan,” ucap kandidat dari Partai Demokrat itu.

Biden menyebut adanya reformasi di tubuh kepolisian, maka akan mengubah cara kerja para polisi di negeri Paman Sam itu.

“Pemerintah federal harus memberikan berbagai kota seperti alat-alat dan sumber daya yang mereka butuhkan. Mereka perlu melaksanakan reformasi. Lebih banyak petugas polisi yang memenuhi standar prosesi yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka melakukannya. Lebih banyak alasan mengapa polisi yang buruk harus ditangani dengan sangat dan cepat. Kita semua perlu melihat dengan saksama budaya yang memungkinkan tragedi yang tidak masuk akal ini terus terjadi,” papar Biden.

Sedangkan, Presiden Donald Trump menegaskan akan mengerahkan aparat militer, jika eskalasi gelombang protes yang brutal tidak kunjung reda.

“Jika kota atau Negara Bagian menolak untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti penduduk mereka, maka saya akan mengerahkan militer negara bersatu dengan cepat menyelesaikan masalah bagi mereka,” ujar Trump di Gedung Putih seperti dilansir dalam siaran BBC, Senin (1/6/2020).

Donald Trump bahkan menyebut aksi protes yang diwarnai dengan aksi penjarahan dan pengrusakan itu, sebagai aksi teror dalam negeri.

“Dalam beberapa hari ini bangsa kita telah dicengkram oleh anarkis profesional, gerombolan perusuh, pembakar, penjarah, kriminal, perusuh, antifa, dan lainnya. Itu bukanlah merupakan bagian dari aksi protes yang damai. Ini adalah teror domestik, perusakan terhadap hidup orang-orang yang tidak berdosa atau menyebabkan banyak orang yang tidak bersalah berjatuhan. Darah merupakan pelanggaran bagi kemanusiaan serta tindakan yang melawan tuhan,” pungkas Trump.

Sementara, Trump yang sempat berfoto di depan Gereja St, John’s menuai kritik dari banyak pihak. Sebab, polisi menembakkan gas air mata untuk mengusir para demonstran yang tengah berunjuk rasa atas kematian George Floyd dari luar Gedung Putih sesaat sebelum Trump menuju ke gereja yang sempat dilanda kebakaran dalam aksi protes akhir pekan lalu tersebut.

Sejak protes kematian George Floyd bergulir hingga saat ini setidaknya ribuan demonstran telah ditangkap.

George Floyd akhirnya menghembuskan nafas terakhir usai lehernya ditindih oleh oknum polisi Minneapolis, Derek Chauvin, selama sembilan menit tanpa perlawanan, Selasa (25/5/2020).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00