Korsel Bersiap Hadapi Gelombang Kedua Pandemi COVID-19

KBRN, Jakarta : Korea Selatan (Korsel) kembali mengumumkan pengetatan gerak masyarakat pada 29 Mei–14 Juni, sebagai upaya menekan angka kasus COVID)-19. Baru saja menerapkan pelonggaran pada awal Mei lalu, Kamis (28/5/2020), Korsel mengumumkan kembali ditemukan kasus baru COVID-19.

Wakil Menteri Kesehatan Korsel, Kim Kang-lip, menyebut 79 kasus baru COVID-19 terjadi pada Kamis lalu.

“28 Mei dini hari terjadi 79 kasus baru, dimana 68 kasus diantaranya merupakan kasus infeksi dari masyarakat lokal dan sisanya dari luar negeri,” jelas Kim dilansir Euronews, Jumat (29/5/2020).

Kim turut menyebut mayoritas pasien positif berasa dari pusat distributor parcel lokal.

“Diantara kasus dari masyarakat lokal itu 54 diantara dari pusat distributor pengantar parcel dan hari ini ada 69 kasus terkait dari pusat distributor yang sama. Kami melihat ada jumlah kasus yang besar setelah inspeksi total,” ungkapnya.

Korsel sendiri sebelumnya dipuji oleh dunia karena dapat mengatasi persebaran COVID-19 dengan cepat. Seperti dengan menerapkan tes cepat dan skema pelacakan yang juga diikuti oleh banyak negara.

Namun, sejak ditemukan kasus baru setelah relaksasi, Korsel memaksakan kembali sejumlah pelarangan. Termasuk, pengetatan terhadap social distancing (menjaga jarak).

Ditemukannya puluhan kasus baru di Korsel, menurut Profesor Lee Hyuk-min dari Universitas Yonsei, justru sebagai sinyal agar Korsel bersiap diri menghadapi peluang gelombang kedua pandemi COVID-19.

“Saya yakin akan ada gelombang kedua dari persebaran virus ini. Kita tidak perlu menunggu sampai musim gugur tiba untuk menyaksi hal ini. Sebab, hal itu segera akan terjadi dari infeksi yang berasal dari klaster lain. Jika kita turut menurunkan penjagaan kita dan menghentikan sanitasi dan disinfektan harian,” tegas Lee dalam sesi wawancara bersama South China Morning Post.

Disisi lain Lee menyatakan dirasa penting untuk membuka kembali aktifitas masyarakat secara bertahap, serta dalam waktu bersamaan untuk mencari metode menjaga jarak yang tepat.

“Akan ada “tabrakan konstan” antara ide dari menjaga jarak itu tidak akan dapat bertahan selamanya dan ide kita tidak bisa membiarkan penjagaan kita kendur merujuk pada betapa menularnya virus ini. Kita perlu membuka (aktifitas) masyarakat secara bertahap, didalam waktu yang bersamaan mencari metode dari menjaga jarak yang efektif seperti apa. Serta, metode yang tidak perlu kita gunakan lagi,” papar Lee.

Gereja terbesar di Korsel “Yoido Full Gospel” telah memulai kembali aktifitasnya pada Kamis (28/5/2020) dan dihadiri oleh ribuan jemaat.

Pastor Younghoon Lee mengatakan operasional gereja mengikuti pedoman yang telah ditentukan oleh pemerintah.

“Jika mengikuti aturan dan arahan pemerintah pasti akan aman. Bernyanyi bersama itu boleh saja, tetapi berbicara dengan orang disamping Anda itu dilarang,” pungkas Younghoon dilansir Today.

Di dalam Gereja Yoido Full Gospel dilengkapi dengan thermal scanner, pengecekan temperature, QR Book untuk mendeteksi langsung jika terdapat jemaat yang sakit, serta mewajibkan seluruh jemaat mengenakan masker.

Sementara, Kementerian Pendidikan Korsel menyebut 251 sekolah di kota Buncheon yang merupakan gudang distributor parsel, dipaksa untuk tutup. Termasuk sekitar 117 sekolah di Seoul juga menunda rencana untuk membuka kembali, setelah seorang siswa ditemukan terkena COVID-19 dengan ibu yang bekerja di gudang Coupang yang terletak di Seoul. (Foto:Istimewa)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00