Nahas, Jenazah WNI ABK Tiongkok Dibuang di Perairan Korsel

Pembuangan peti jenazah WNI ABK Tiongkok di Perairan Korsel. (Foto: Istimewa)

KBRN, Jakarta : Kabar tak sedap datang dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) penangkap ikan milik Tiongkok di perairan Korea Selatan, Long Xing 629. Sebab, beredar luas video yang memperlihatkan enam pria berwajah khas Tiongkok, membuang peti jenazah ABK WNI dari kapal yang tengah berada di perairan Korea Selatan. Stasiun televisi nasional Korea Selatan, MBC yang turut menyiarkan video detik-detik pelarungan peti jenazah, sempat mewawancarai dua ABK WNI, pada Selasa (5/5/2020).

Sebelumnya, 15 ABK WNI telah dipindahkan dari kapal Long Xing 629 ke Busan, Korea Selatan pada 24 April 2020 dan tengah menjalani karantina wajib yang merupakan protokol pemerintah setempat dalam upaya mencegah penularan COVID-19.

Dalam wawancara virtual tampak salah seorang ABK WNI dengan wajah yang disamarkan, menyebut seorang rekannya yang meninggal dunia itu mengalami kram pada kaki dan terserang sesak.

“Awalnya kram, terus dia tau-tau kakinya bengkak dan dari kaki itu langsung nyerang ke badan langsung sesak dia,” ungkap ABK WNI yang suaranya turut disamarkan, Selasa (5/5/2020) kemarin.

ABK WNI lainnya menggambarkan bahwa mereka menghabiskan waktu hingga 30 jam berdiri, selama proses penangkapan ikan.

“Waktu kerjanya itu jadi kayak berdiri itu sekitar 30 jam dan setiap 6 jamkan makan ya. Nah, jam makan inilah yang dimanfaatkan kami hanya untuk duduk,” tambahnya.

Duta Besar RI di Seoul, Umar Hadi menyebut kabar mengenai adanya satu jenazah ABK WNI dilarung dari kapal Long Xing 629 diterima kabarnya, pada Jumat (24/4/2020).

“Yang kami terima 24 April, adalah 1 ABK (jenazah) kapal di Long Xing di larung ke laut lepas,” ujar Umar Hadi dalam wawancara bersama salah satu stasiun televisi swasta tanah air, Rabu (6/5/2020).

Umar menjelaskan berdasarkan pengakuan para ABK, dua jenazah ABK WNI lainnya telah lebih dulu dibuang ke laut.

“Kemudian 15 orang yang dikarantina di Busan, mereka menceritakan bahwa  sebetulnya sebelum yang satu itu sudah ada 2 lagi yang dilarung. Kita belum tahu (alasan jenazah dilarung),” kata Umar.

Umar memastikan kasus pelarungan jenazah ABK WNI tengah ditangani oleh otoritas Korea Selatan, termasuk adanya dugaan pelanggaran kesepakatan kerja oleh perusahaan sebab dalam surat pernyataan disebutkan jika ABK meninggal dunia maka jenazahnya dikremasi dan dikirim ke Indonesia.

“Sekarang kasus ini sedang diinvestigasi oleh otoritas keamanan di Korsel yaitu Korea Coast Guard. Soal surat pernyataan, ini yang sedang kita telusuri atau diinvestigasi oleh otoritas keamanan Korea Selatan. Kami di KBRI Seoul dan KBRI di Beijing dan Kemenlu terus mendesak atau bertanya baik dengan perusahaan pemilik kapal maupun agen-agen penyalur ABK ini,” ucap Umar.

Belasan ABK WNI, kata Umar, juga meminta agar mendapatkan fasilitas advokasi menghadapi kasus yang tengah mereka hadapi dengan pihak perusahaan kapal.

“Mereka juga minta bantuan kepada pengacara-pengacara probono di Korea Selatan. Ini memang kasus yang sangat memprihatinkan, tapi juga situasinya tidak semudah yang kita lihat. Tapi kita percaya upaya penyelidikan investigasi akan membuahkan hasil,” terangnya.

Sayangnya, satu dari 15 ABK WNI yang dikarantina di Busan meninggal dunia di Rumah Sakit setempat akibat pneumonia.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha menyatakan, 14 ABK WNI dipastikan akan kembali ke tanah air, pada Jumat (8/5/2020). Dia juga memastikan seluruh biaya transportasi ditanggung oleh pihak perusahaan.

“KBRI Seoul telah berkoordinasi dengan agen kapal yaitu FISCO, ini adalah agen kapal yang ditunjuk oleh pihak principal (perusahaan) yang ada di RRT sejak 16 april 2020. Termasuk, untuk memfasilitasi ketibaan 14 ABK kita. Informasi terakhir yang kami dapatkan, jadi pihak principal sudah menyiapkan tiket pulang pada tanggal 8 Mei, setelah melaksanakan proses karantina wajib,” ucap Judha Nugraha dalam press briefing virtual, Rabu (6/5/2020).

International Labour Organization (ILO) Seafarer’s Service Regulation telah mengatur prosedur pelarungan jenazah (burial at sea). Dalam ketentuan ILO disebutkan bahwa kapten kapal dapat memutuskan melarung jenazah dalam kondisi antara lain jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00