Virus Mana Paling Menakutkan : COVID-19, HIV/Aids atau Flu Spanyol 1918?

KBRN, Beijing : Untuk negara-negara yang melaporkan lebih dari 1.000 kasus Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), berapa tingkat infeksi dan kematiannya? Ternyata banyak hal yang bisa menentukan.

Dari faktor-faktor lokal yang berkaitan dengan sistem perawatan kesehatan, ketersediaan tes untuk virus, demografi populasi, dan intervensi pemerintah semuanya akan berpengaruh pada perjalanan penyakit di setiap negara di mana ia muncul. 

Tragedi Coronavirus di Wuhan, Tiongkok, sudah mulai mereda. Sekarang wabah pindah ke eropa dengan jumlah terbesar ada di Italia, dimana 23% populasi berusia di atas 65 terjangkit dengan 6% kasus berakibat fatal atau berujung kematian. Namun begitu, wabah COVID-19 cukup besar juga terjadi di Korea Selatan dan Iran dimana jumlah warga lanjut usia (lansia) lebih sedikit.

Di Italia, tingkat infeksi mencapai 20,62 kasus per 100.000 orang. Angka itu cukup beralasan muncul, karena dalam 10 hari saja, Hubei sudah memiliki 5.806 kasus Corona, dan Italia berada di angka 4.636 kasus, dengan selisih hanya 1.170. Artinya, pada tahap yang sama dalam epidemi, kasus Covid-19 Hubei dan Italia berada di lintasan pergerakan virus berkecepatan sama. Lalu bagaimana tingkat infeksi negara lain?

Berikut data tingkat infeksi negara lain (selain China dan Italia) menurut Johns Hopkins University Center for Systems Science and Engineering, World Bank, yang dirilis pada 11 Maret pukul 12:59 PM UTC, seperti dilansir The Guardian, Sabtu (14/3/2020):

1. Korea Selatan, tingkat infeksi mencapai 15,02 kasus per 100.000 orang.

2. Iran, tingkat infeksi mencapai 11 kasus per 100.000 orang.

3. Spanyol, tingkat infeksi mencapai 4,87 kasus per 100.000 orang.

4. Perancis, tingkat infeksi mencapai 3,41 kasus per 100.000 orang.

5. Jerman, tingkat infeksi mencapai 2,3 kasus per 100.000 orang.

6. Amerika Serikat, tingkat infeksi mencapai 0,53 kasus per 100.000 orang.

Dengan demikian, jika ingin diurutkan negara dengan kasus terbesar Coronavirus adalah:

1. China, 80.967 kasus.

2. Italia, 10.149 kasus.

3. Iran, 9.000 kasus.

4. Korea Selatan, 7.755 kasus.

5. Spanyol, 2.026 kasus.

6. Perancis, 1.784 kasus.

7. Jerman, 1.622 kasus.

8. Amerika Serikat, 1.039 kasus.

Melihat angka-angka tersebut pastinya muncul gambaran di pikiran betapa berbahayanya COVID-19 ini. Tapi jika ingin membandingkan, ada sindrom pernafasan akut parah (SAR) dan sindrom pernafasan Timur Tengah (Mers), dimana keduanya juga disebabkan oleh virus Corona yang berasal dari hewan (sama seperti Wuhan). 

Sars memiliki tingkat kematian lebih dari 10%. Pada tahun 2002, Sars menyebar ke 37 negara, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan membunuh lebih dari 750 jiwa. Di atas Sars, Mers, dan COVID-19, ternyata ada Flu Spanyol yang menjadi pandemi paling mematikan dalam sejarah, karena 'berhasil' menewaskan hingga 100 juta orang antara 1918 dan 1920.

Dan dari pergulatan virus terpanjang di dunia ini, HIV/Aids menempati urutan pertama perjuangan panjang manusia, yakni dalam periode 1981-2017 atau selama 36 tahun, penduduk dunia berjuang melawannya, yang merenggut korban jiwa lebih dari 40 juta orang.

Data Terkini Kematian Akibat Coronavirus dan Jumlah yang Sembuh

Jumlah kasus virus Corona di dunia terus bertambah hingga Minggu, 15 Maret 2020. Masih menurut data Johns Hopkins University, tercatat kasus Covid-19 secara global mencapai 156.112, dengan total jumlah kematian sebanyak 5.829 penduduk dunia.

BACA JUGA: Virus Corona Suka dengan Pasien Berpenyakit Jantung, Hipertensi dan Diabetes

Kendati demikian, mereka yang berhasil sembuh dari virus ini sekarang sudah menyentuh angka 73.955. Total sudah ada 141 negara yang mengonfirmasi terkena virus yang pertama kali diketahui menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok tersebut.

Berikut 10 besar negara dunia dengan jumlah kasus terbanyak (ditambah Indonesia): 

1. China dengan 80.976 kasus, lebih dari 3.100 kematian. 

2. Italia 21.157 kasus, 1.441 kematian. 

3. Iran 12.729 kasus, 611 kematian. 

4. Korea Selatan 8.086 kasus, 72 kematian. 

5. Spanyol 6.391 kasus, 195 kematian. 

6. Jerman 4.585 kasus, 9 kematian. 

7. Perancis 4.480 kasus, 91 kematian. 

8. Amerika Serikat 2.726 kasus, 37 kematian. 

9. Swiss, 1.359 kasus, 13 kematian. 

10. Inggris, 1.143 kasus, 21 kematian.

...dan Indonesia, 96 kasus, dengan 5 (lima) kematian.

Coronavirus vs Flu Spanyol 1918 Mana Lebih Dahsyat?

Salah satu alasan flu 1918 begitu dahsyat adalah karena wabah itu seolah membersihkan suatu komunitas besar secara bertahap dengan kematian perlahan namun berkelanjutan. 

Sars-CoV-2 milik 'keluarga' coronavirus, hampir sama dengan yang menyebabkan wabah sindrom pernafasan akut yang parah (Sars) di Cina antara tahun 2002 dan 2004, dan sindrom pernapasan Timur Tengah (Mers), yang muncul pertama kali di Arab Saudi pada 2012.

Sars dan Mers jauh lebih mematikan daripada Covid-19, dengan CFR masing-masing 10% dan 36%. Tetapi semua virus menyebar dengan cara yang sama, yaitu bertahap. 

Dengan demikian, untuk cara penyebarannya, Flu 1918 dinilai mematikan karena wabah tersebut menyebar dengan cepat dan relatif merata melalui suatu populasi, sedangkan coronavirus cenderung menginfeksi dalam kelompok kecil terlebih dulu sebelum meluas. 

Secara teori, itu membuat wabah coronavirus lebih mudah untuk ditahan sebelum menjadi lebih global. Annelies Wilder-Smith, seorang profesor penyakit menular yang muncul di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, berpikir bahwa perbandingan yang tidak beralasan dengan flu mungkin telah mencegah banyak pemerintahan negara-negara Barat mengambil tindakan keras yang diperlukan untuk mengatasi Covid-19 sekarang.

Wilder-Smith berpendapat, bahwa Covid-19 ini mungkin “besar” dan bisa menjadi yang ditakuti oleh para ahli penyakit menular. Dan ketika para ahli mengatakan "besar", artinya virus tersebut pandemi, tetapi tidak jelas seberapa besar mematikan nantinya.

Namun di tengah kekhawatiran akan kemungkinan terburuk itu, Covid-19 hampir pasti tidak akan menjadi seburuk pandemi flu 1918. Sampai vaksin penawarnya tersedia (katanya dalam 18 bulan), pencegahan menjadi nsatu-satunya harapan untuk memperlambat penyebaran.

Pencegahan maupun penanganan antara Flu 1918 dan Covid-19 juga tidak jauh berbeda, mulai dari karantina, isolasi, masker dan cuci tangan adalah metode baku. Kemudian saling menghormati untuk menjaga jarak antara yang sakit dan sehat, itu juga ditempuh guna meminimalkan penularan penyakit.

Satu pelajaran yang diambil pemerintah dari tahun 1918 adalah bahwa tindakan kesehatan masyarakat wajib cenderung kontraproduktif. Penanganan jauh lebih efektif jika orang memilih untuk patuh akan arahan medis. Agar mereka patuh, perlu diberi informasi tentang ancaman yang mereka hadapi jika tidak mengikuti arahan serta tidak mempercayai pihak berwenang untuk bertindak, yang padahal semuanya itu demi kepentingan kolektif mereka sendiri. 

Sumber 1: Cath Levett and Paul Torpey/TheGuardian

Sumber 2: Laura Spinney/TheGuardian

Sumber 3: Kompas

Foto: TheGuardian

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00