Flu 1918 Tewaskan 100 Juta Penduduk Dunia, Bagaimana Covid-19?

KBRN, New York : Wabah influenza 1918 (Flu 1918) adalah salah satu pandemi yang paling menghancurkan dalam sejarah manusia. 

Influenza tahun 1918 silam menewaskan 50 juta hingga 100 juta orang. Pelajaran apa yang ditawarkannya untuk krisis kesehatan dunia akibat wabah Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 saat ini?

Epidemi penyakit menular, ibaratnya telah tinggal bersama manusia setidaknya selama 10.000 tahun, sejak nenek moyang datang bertani dan membangun pemukiman semi permanen pertama kali. Mereka seolah memantau pergerakan manusia sambil mempelajari kelemahannya.

Penyakit menular atau wabah nampaknya kerap selangkah di depan manusia. Begitu mereka keluar dan 'menginvasi' tubuh manusia, tidak ada yang dapat dilakukan, kecuali berusaha agar kerusakan maupun akibat yang ditimbulkan tidak terlalu besar.

Influenza 1918 telah dihadapi dengan harga yang sangat mahal, yakni ratusan juta nyawa. Tapi sekarang, manusia kembali berada dalam keadaan yang sama. 

Influenza 1918 dan Covid-19

Pandemi influenza 1918, sebenarnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi dunia ini dalam menghadapi Covid-19. Puluhan ribu tentara Amerika Serikat (AS) yang mendadak terbaring akibat flu, bahkan hingga menemui ajalnya, kemudian ribuan manusia di berbagai negara berkembang juga terinfeksi. 

Bagaimana caranya? Ini berlaku sama juga dengan penyebaran Coronavirus. Penting untuk dicatat bahwa wabah Covid-19 sudah ditetapkan WHO sebagai pandemik. Benarkah Covid-19 memang seharusnya ditempatkan sebagai pandemik? Mari lihat sama-sama bagaimana keadaan wabah saat 1918 dan 2020.

Untuk diketahui sebelumnya, virus yang menyebabkan penyakit tersebut bernama Sars-CoV-2, dan merupakan patogen baru pada manusia yang menyerang sistem imun. Ini sangat menular, tetapi belum diketahui seberapa mematikan. Salah satu cara untuk mengukur ini adalah dengan case-fatality rate (CFR), yaitu proporsi orang yang jatuh sakit kemudian mati. 

CFR flu 1918 masih diperdebatkan, terutama karena saat itu tidak ada tes diagnostik yang dapat diandalkan untuk flu, tetapi jumlah yang dikutip biasanya adalah 2,5%. Mengenai Covid-19, data masih sedikit untuk saat ini, dan semua orang setuju bahwa akan diperlukan waktu sebelum mengetahui CFR yang sebenarnya.

BACA JUGA: Breaking News : WHO Akhirnya Tetapkan Covid-19 Sebagai Pandemik

Perbedaan utama antara flu 1918 dan Covid-19 adalah bahwa flu 1918 terutama menyerang mereka yang berusia antara 20 dan 40 tahun. Sementara Covid-19 rata-rata menginfeksi mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Ahli virologi dan sejarawan flu Inggris John Oxford, dari Queen Mary University of London, menyebut Covid-19 “sebuah refleksi pucat tahun 1918 dimana 200.000 (warga Inggris) meninggal dengan tenang di rumah dan kebanyakan dari mereka masih muda”. 

Memang, salah satu alasan flu 1918 begitu dahsyat adalah karena wabah itu seolah membersihkan suatu komunitas besar secara bertahap dengan kematian perlahan namun berkelanjutan. 

Sars-CoV-2 milik 'keluarga' coronavirus, hampir sama dengan yang menyebabkan wabah sindrom pernafasan akut yang parah (Sars) di Cina antara tahun 2002 dan 2004, dan sindrom pernapasan Timur Tengah (Mers), yang muncul pertama kali di Arab Saudi pada 2012.

Sars dan Mers jauh lebih mematikan daripada Covid-19, dengan CFR masing-masing 10% dan 36%. Tetapi semua virus menyebar dengan cara yang sama, yaitu bertahap. 

Dengan demikian, untuk cara penyebarannya, Flu 1918 dinilai menyebar dengan cepat dan relatif merata melalui suatu populasi, sedangkan coronavirus cenderung menginfeksi dalam kelompok kecil terlebih dulu sebelum meluas. 

Secara teori, itu membuat wabah coronavirus lebih mudah untuk ditahan sebelum menjadi lebih global. Annelies Wilder-Smith, seorang profesor penyakit menular yang muncul di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, berpikir bahwa perbandingan yang tidak beralasan dengan flu mungkin telah mencegah banyak pemerintahan negara-negara Barat mengambil tindakan keras yang diperlukan untuk mengatasi Covid-19 sekarang.

Wilder-Smith berpendapat, bahwa Covid-19 ini mungkin “besar” dan bisa menjadi yang ditakuti oleh para ahli penyakit menular. Dan ketika para ahli mengatakan "besar", artinya virus tersebut pandemi, tetapi tidak jelas seberapa besar mematikan nantinya.

Untuk saat ini, dalam serangan wabah Covid-19, para ahli memperkirakan, hingga 80% orang Inggris dapat terinfeksi, dan 500.000 orang bisa mati (dari populasi Inggris yang jauh lebih besar daripada tahun 1918). 

Namun di tengah kekhawatiran akan kemungkinan terburuk itu, Covid-19 hampir pasti tidak akan menjadi seburuk pandemi flu 1918, tetapi itu bisa tetap buruk, mungkin setara dengan pandemi 1957 atau 1968. Sampai vaksin penawarnya tersedia (katanya dalam 18 bulan), pencegahan menjadi nsatu-satunya harapan untuk memperlambat penyebarannya.

Pencegahan maupun penanganan antara Flu 1918 dan Covid-19 juga tidak jauh berbeda, mulai dari karantina, isolasi, masker dan cuci tangan adalah metode baku. Kemudian saling menghormati untuk menjaga jarak antara yang sakit dan sehat, itu juga ditempuh guna meminimalkan penularan penyakit.

Satu pelajaran yang diambil pemerintah dari tahun 1918 adalah bahwa tindakan kesehatan masyarakat wajib cenderung kontraproduktif. Penanganan jauh lebih efektif jika orang memilih untuk patuh. Tetapi agar itu terjadi, mereka perlu diberi informasi tentang ancaman yang mereka hadapi, dan untuk mempercayai pihak berwenang untuk bertindak demi kepentingan kolektif mereka. 

Jika salah satu atau keduanya, dari hal-hal ini hilang, penanganan berfungsi kurang baik. Pada tahun 1918, sebagian besar pemerintah tidak sadar oleh pandemi karena mereka tidak memiliki sistem pengawasan penyakit beserta tidak ada kampanye informasi publik.

Situasi Antara Flu 1918 dan Covid-19

Salah satu alasan flu 1918 dikenal sebagai flu "Spanyol" adalah karena negara tersebut netral dalam perang dan tidak menyensor pers. Sedangkan AS, Inggris, dan Prancis, yang semuanya terdampak flu saat itu, mencegah info flu masuk koran dengan alasan menghindari kerusakan moral. 

BACA JUGA: Perempuan Tangguh Itu Bernama Sulianti Saroso

Tapi ketika semua akhirnya terbuka, surat kabar langsung mengeluarkan pesan kesehatan masyarakat yang tumpang tindih, saling bertentangan dan mengulangi desas-desus yang tidak berdasar berkenaan dengan situasi perang kala itu, bahwa kapal U-boat Jerman di AS sengaja menaburkan flu 1918.

Ada banyak kesamaan situasi dunia saat Flu 1918 dan Covid-19 tahun 2020 ini. Banyak beredar berita palsu pada tahun 1918 dan ada banyak pula berita palsu pada 2020. 

Ada laporan mengerikan tentang orang yang minum alkohol industri atau menggunakan kokain untuk menangkal Covid-19. Pada tahun 1918, orang-orang juga berpikir alkohol akan melindungi mereka, dan dukun menguangkan keputusasaan orang-orang dengan mengemas ramuan yang tidak efektif dan kadang-kadang bahkan beracun, menjadi "ramuan" yang mereka jual dengan harga selangit. 

Tenaga medis dan penulis Brasil Pedro Nava menjelaskan pada tahun 1918 bagaimana, di Rio de Janeiro, pemain sepak bola bermain di stadion yang kosong. Hal yang sama terjadi hari ini, hanya sekarang orang menonton pertandingan di TV.

Kebiasaan lama juga sangat sulit dilepaskan, banyak orang masih saling berciuman, bersalaman, dalam interaksi sosial mereka sehari-hari untuk saling menyapa dengan sesamanya.

Keunikan juga terjadi kala wabah Flu 1918, dimana awalnya disebut 'Flu Spanyol', namun orang Brasil menyebutnya 'Flu Jerman'. Kemudian karena mengetahui berita terakhir penyebaran flu ada di Brasil, orang Senegal menyebut wabah tersebut sebagai 'Flu Brasil'. 

Sementara itu, orang Polandia menyebutnya penyakit Bolshevik. Sedangkan Denmark menyebutnya penyakit yang 'datang dari selatan'. Karena istilah-istilah itulah, kemudian tidak tahu dari mana asalnya, penduduk dunia mulai menyalahkan Tiongkok soal wabah Flu 1918.

Keputusan WHO memberikan nama terhadap Coronavirus yang muncul di Wuhan, Tiongkok, dengan Covid-19 banyak mendulang pujian, karena berhasil menghindari pemberian nama wabah yang menstigmatisasi. Pedoman WHO 2015 tentang bagaimana menyebutkan penyakit dapat mengambil banyak pujian untuk ini. 

Jadi wabah baru ini bukan flu Cina atau flu trenggiling, melainkan Covid-19 yang lebih biasa dibandingkan Flu 2018. Manusia masih bisa mengendalikan Covid-19.

Sumber: Laura Spinney/TheGuardian/11 Maret 2020

Foto: Alamy Stock Photo

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00