Huang Xiqiu Kelahiran Indonesia, Cuma 8 Hari Bangun RS Coronavirus di Wuhan

KBRN, Jakarta : Rumah Sakit Khusus Pasien Novel Corona, Huoshenshan, kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, berhasil dibangun dalam waktu lebih kurang 10 hari dan sudah mulai dibuka operasionalnya. 

Rumah Sakit Huoshenshan berdiri dengan luas bangunan 33.900 meter persegi dan kapasitas 1.000 tempat tidur. Pembangunannya melibatkan 700 pekerja profesional level manajerial dan 4.000 tenaga konstruksi. Pembangunan fisik fasilitas kesehatan ini berhasil selesai dalam waktu 8 (delapan) hari.

Rumah Sakit Huoshenshan ini pengelolaannya diserahkan kepada pihak militer Partai Komunis China, yaitu Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Fasilitas dua lantai di Huoshenshan nantinya akan ditempati 1.400 tenaga medis militer, termasuk beberapa yang berpengalaman menangani SARS dan Ebola. Demikian ditulis AFP, seperti dilansir The Guardian, Selasa (4/2/2020).

Rumah Sakit Penderita Novel Corona Dibangun Orang Indonesia?

Pembangunan rumah sakit penyakit menular berkapasitas 1.000 orang dalam waktu singkat tersebut bukan satu-satunya hal menarik. Siapa menyangka bahwa arsitek di balik rancang-bangun Rumah Sakit Huoshenshan adalah orang Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chuying adalah orang yang pertama kali mengungkapkan hal itu pada media briefing dengan wartawan, Kamis (6/2/2020).

BACA JUGA: Usai Ular dan Kelelawar, Kini Trenggiling Tersangka Penyebar Novel Coronavirus

Nama si arsitek, kata Chuying, adalah Profesor Huang Xiqiu, pria 79 tahun kelahiran Indonesia, tumbuh besar sebagai arsitek handal di China. Dan atas nama pemerintah Tiongkok, Chuying mengucapkan terima kasih atas kontribusi besarnya membuat rancang-bangun RS Huoshenshan.

Seperti kutipan media nasional dan aku Twitter @Mentimoen, Huang Xiqiu lahir pada 1941 di Jember, Jawa Timur, Indonesia. Pada 1957 ia berangkat ke China untuk studi arsitektur di Institut Teknologi Nanjing sampai 1964. Setelah itu, ia masih sempat merasakan era revolusi kebudayaan, hingga akhirnya pada 1984 diutus belajar ke Universitas Leuven, Belgia, bidang arsitektur medis dan meraih PhD pada 1988. Huang menghabiskan masa sekolah hingga tingkat menengah atas di Jember, Jawa Timur, sebelum kemudian belajar arsitek medis ke luar negeri.

Bukan hanya rumah sakit penderita Novel Corona saja yang diarsiteki Huang. Ternyata ia juga yang mengarsiteki pembangunan Rumah Sakit Khusus Pasien Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Xiaotangshan di Beijing pada 2003 silam.

Di mata Chuying, Profesor Huang Xiqiu adalah sosok yang sangat handal dan menghargai arsitektur, terutama yang berkaitan dengan bidang medis, seperti rumah sakit. Dengan kontribusinya selama ini, Huang juga telah menjadi bagian penting Tiongkok dalam memerangi serangan virus-virus mematikan sejak 2003 sampai 2019.

"Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda karena memperhatikan hal detail ini. Kami percaya bahwa Tuan Huang juga menyimpan kenangan indahnya tentang Indonesia," kata Chuying kepada wartawan.

BACA JUGA: Korban Novel Coronavirus 902 Jiwa, Tim WHO Internasional Masuk Tiongkok

Dengan peran vital Profesor Huang terhadap bangsa Tiongkok, Chuying berharap persahabatan Indonesia dan China akan semakin erat dan menghasilkan lebih banyak lagi hal-hal positif di masa mendatang.

Proses Pembangunan Rumah Sakit Huoshenshan, Khusus Penderita Novel Corona

Proses desain Rumah Sakit Huoshenshan selesai 24 Januari 2020. Kemudian lebih dari 100 alat berat datang dan dijadwalkan kerja siang dan malam secara shift untuk mengejar target pembangunan. Setelah siap, proses pembangunan dimulai sejak 25 Januari 2020. 

Empat hari kemudian, pada 29 Januari, kerangka 300 kamar mulai mulai dipasang. Terus berlanjut dengan instalasi fasilitas medis pada 1 Februari 2020. 

Tidak main-main, instalasi Rumah Sakit Huoshenshan menggunakan teknologi canggih dalam sejarah medis penanganan penyakit menular di Tiongkok, terutama untuk komunikasi dan mobilisasi peralatan kesehatan serta obat-obatan. 

Para dokter yang bertugas dapat berbicara dengan para ahli di luar rumah sakit melalui sistem video yang menghubungkan mereka dengan Rumah Sakit Umum PLA Beijing. 

Sistem komunikasi canggih ini dipasang dalam waktu kurang dari 12 jam oleh tim Wuhan Telecom Ltd yang beranggota 20 orang.

Selain teknologi canggih dalam penanganan medis dan komunikasi, rumah sakit ini juga menghadirkan teknologi robot medis, yang bertugas sebagai pengirim obat-obatan sekaligus membawa sampel uji laboratorium yang ditunjuk pemerintah. (Foto: Daemoen, Twitter @Mentimoen & Xiao Yijiu/AP/TheGuardian)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00