Usai Ular dan Kelelawar, Kini Trenggiling Tersangka Penyebar Novel Coronavirus

KBRN, Jakarta : Penyebaran virus Corona semakin meluas, dan menjadi permasalahan tersendiri di China dan Dunia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah Virus Corona sebagai kondisi gawat darurat global.

Dikutip dari data yang diperoleh dari Departemen Teknik Sipil Universitas John Hopkins, Baltimore, Maryland Amerika Serikat, tentang Coronavirus 2019-nCoV Global Cases by Johns Hopkins CSSE, update terbaru terdapat 40,307 kasus yang telah terkonfirmasi Virus Corona. AKibat Virus ini 907 orang dinyatakan meninggal.

Para Ilmuwan pun saat ini sedang berjuan untuk mencari anti virus dan mengetahui penyebab pasti dari awal Virus ini muncul. Virus ini diduga pertama kali muncul di sebuah pasar hewan liar di ibu kota Hubei, Wuhan China. Kelelawar dan ular sempat disebut-sebut sebagai penyebar virus corona ke manusia.

Namun temuan terbaru terdapat hewan lainnya yang diduga menjadi penyebar Virus ini yaitu Trenggiling. Studi yang dilakukan ilmuwan sipil dan militer Cina menemukan genetik virus Corona dari trenggiling 99 persen identik dengan virus Corona baru dari Wuhan.

Dikutip dari South China Morning Post, 9 Februari 2020, tim yang dipimpin oleh Profesor Shen Yongyi dari South China Agricultural University di Guangzhou, Provinsi Guangdong, menganalisis lebih dari 1.000 sampel dan menemukan bahwa 70 persen lebih trenggiling yang mereka periksa membawa virus yang berasal dari keluarga yang sama dengan infeksi yang ditemukan di Kota Wuhan.

Pada tingkat mikroskopis, para peneliti sipil dan rekan-rekannya dari Academy of Military Medical Sciences di Beijing menemukan bahwa, beberapa strain virus trenggiling tampak identik dengan virus Corona baru pada manusia, dan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa mereka memiliki 99 persen gen yang sama.

"Trenggiling adalah inang perantara potensial, tetapi mungkin ada beberapa inang perantara," kata Shen. "Misalnya SARS, selain musang, predator kecil lainnya juga dapat menyebarkan virus." tambahnya.

Dikutip dari Thepaper.cn, Liu Yahong, rektor universitas mengatakan, mereka berharap untuk membuat hasil penelitian ini dipublikasikan secepat mungkin untuk membantu pencegahan dan pengendalian epidemi secara ilmiah dan memberikan referensi bagi lebih banyak ilmuwan untuk melakukan pekerjaan lebih lanjut.

Zheng Aihua, seorang ahli virologi dengan Institut Zoologi di Chinese Academy of Sciences di Beijing, mengatakan sebuah makalah dan data masih diperlukan bagi para peneliti di seluruh dunia untuk mengevaluasi dan memperluas karya tersebut.

Baca juga : Update Korban Tewas Virus Corona Bertambah, Menjadi 902 Orang

Hewan Trenggiling

Dikutip dari berbagai sumber, Trenggiling adalah mamalia dari ordo Pholidota. Namun sayangnya menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Trenggiling termasuk kedalam hewan yang masuk ke daftar merah atau kritis terancam. Trenggiling terdiri dari empat spesies yang hidup di Afrika dan empat spesies lagi di Asia. Seluruh 8 spesies yang masih hidup tengah menghadapi ancaman kepunahan akibat perdagangan liar.

Trenggiling Sunda atau trenggiling Jawa yang hidup di hutan-hutan Indonesia juga tak luput dari ancaman kepunahan. Bahkan, trenggiling Sunda merupakan satu dari dua spesies trenggiling yang kritis terancam punah menurut daftar merah IUCN. Spesies kritis terancam punah lainnya adalah trenggiling Cina yang hampir punah pada pertengahan tahun 1990.

Trenggiling sendiri memiliki ciri khas yaitu memiliki sisik keras di sekujur tubuhnya. Sisik tersebut untuk melindunginya dari Predator, dengan cara menggulung diri membentuk bola. Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia yang seluruh tubuhnya tertutup keratin. Sekitar 20% dari jumlah bobot tubuh mereka datang dari sisik yang terbuat dari keratin. Ia juga memiliki lidah yang panjang untuk mencari makan yaitu semut dan serangga, yang menjadi makanan pokok utamanya.

Salah satu hal yang membuat trenggiling memiliki kemungkinan menjadi perantara virus corona adalah karena hewan tersebut merupakan salah satu hewan paling laris dalam pasar penjualan hewan liar secara ilegal di Asia. Terlebih lagi di China. Dibeberapa Negara Trenggiling diambil dagingnya untuk dijadikan makanan. Selain dijadikan makanan, daging dan sisik Trenggiling juga dipercaya sebagai obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit.

Mengutip buku “Pangolins: Science, Society and Conservatin” terbitan Academic Press, obat tradisional berbahan dasar sisik trenggiling dipercaya dapat mengobati rematik, penyakit kulit, bengkak dan luka bernanah, asthma, melancarkan ASI, hingga mengobati kanker. 

Maka dari itu, sisik trenggiling adalah bahan yang biasa dipakai dalam pembuatan obat tradisional di China. Bahkan, sisik trenggiling masuk dalam farmakope resmi Pemerintah China dan disebutkan bahwa mereka memiliki beberapa khasiat untuk kesehatan tubuh manusia. Farmakope adalah sebuah buku resmi berisi standar mutu obat yang dikeluarkan oleh suatu negara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00