Konflik Iran-Amerika Serikat Makin Membara

KBRN, Jakarta : Iran telah melakukan serangan balasan kepada Amerika Serikat (AS) melalui serangan udara di dua basis militer AS yang berada di Irak Barat, pada Rabu (8/1/2020) dini hari.

Akademisi sekaligus peneliti militer Connie Rahakundini Bakrie menyatakan Iran tidak main main dalam melakukan serangan balasan untuk AS.

“Pokoknya, menurut saya, Iran itu pasti sangat sakit. Dia diam, walauun dia sudah di-approach 16 negara untuk menahan diri. Enggak semudah itulah, itu kan termasuk harga diri,” ungkap Connie kepada RRI.co.id saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Masalahnya, lanjut Connie, Amerika Serikat terlalu tergesa-gesa. Sebab, Amerika Serikat telah menyerang symbol yang paling dihormati Iran dan Irak.

Baca juga : Puluhan Rudal Iran Hantam Pasukan AS di Irak

“Amerika menyerang symbol yang paling kharismatik setelah Ayatollah (Panglima Militer Iran, red) pemimpin Iran, paling kharismatik sang Jenderal (Qasem Soleimani, red). Itu dia (AS) hantam,” terang Connie.

Connie juga menyayangkan sikap AS yang kemudian akan mengancam situs situs kebudayaan Iran. “Padahal, itu kan situs sejarah dunia lho, karena sejarah dunia ada di sana,” sebutnya.

Maka dari itu, tak mungkin Iran dengan kesebarannya terus diam saat AS mulai menyerang dan menewaskan Pemimpin Militer Pasukan Quds Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani (62). Iran juga dapat mengukur kekuatan militer Amerika Serikat saat ini.

Iran, kata Connie, akan menyerang AS dengan cara yng sudah dilakukan di dua basis militer AS di Timur Tengah. Tepatnya di Pangkalan Udara gabungan AS-Irak, Al-Assad dan Elbri, Irak Barak.

Exactly, seperti yang saya perkirakan, Iran akan menyerang basis Amerika yang ada di Timur Tengah. Hari ini bisa mulai di mana, besok di mana, kita enggak tahu. Mungkin Arab Saudi bisa diserang dan itu yang akan terjadi,” ucap dia.

Presiden AS, Donald Trump dikatannya juga tidak boleh membuat kesalahan lagi. Sebab, Trump dinilai tergesa-gesa dalam upaya melindungi diri dari impeachment atau pendakwaan dari berbagai negara yang mengecam. Serangan rudal AS menewaskan Soleimani dan komandan tinggi militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

“Sehingga, memang status Amerika harus dalam perang. Ketika status Amerik dalam perang, kan mereka enggak bisa di-impeach (dakwa),” kata dia.

Reaksi “Aliansi Iran”

Situasi memanas Iran-AS ini sudah berdampak dalam bidang ekonomi dunia hari dengan kenaikan harga bahan bakar minyak. Connie menjelaskan dampak eskalasi perang Iran-AS memicu Perang Dunia III dengan berbagai perhitungan.

“Kalau memicu Perang Dunia ke-III ini, kita bisa lihat kalau reaksi “Aliansi Iran”. Bagaimana reaksinya Cina, bagaimana reaksinya Rusia. Ya, kan? Dan juga kawan kawan lain Timur Tengah yang selama ini mendukung Iran,” ugkap Connie.

Maka dari itu, dia mengingatkan kembali agar Amerika Serikat harus menahan diri.

“Karena akan sulit seperti kata Trump kemarin, mereka (AS) akan men-deploy (menyebarkan, red) teknologi tercanggihnya, kan. Saya rasa, bisa memicu Perang Dunia ke-III,” ungkap Connie.

Tetapi, Iran pun dikatakannya akan semakin kuat karena dukungan perseenjataan dari dua negara pendukung. Walaupun negara pendukung Iran itu tidak “pasang badan” dukung Iran, namun mendukung lewat perdagangan senjata.

“Kalau Amerika berpikir betul betul harus damai, dia harus menahan diri, karena ini enggak main-main. Dan jangan salah, dampak dari kejadian ini, Korea Utara akan semakin bersiap-siap. Karena dia bisa berpikir, setelah Iran yang dianggap “bendera merah” kan, sekarang Korea Utara. Gitu,” kata Connie.

Dalam prosesi pemakaman Soleimani di Teheran, Irak, Selas (7/1/2020) kemarin, sebuah bendera merah dipasang Iran pada dinding masjid tempat Soleimani disalatkan.

“Korea Utara bersiap-siap, dia akan bersiap-siap karena dia (Korut, red) melihat pelajaran ini. Karena ini kan, masalahnya di dunia saling belajar. Mungkin, kita (Indonesia, red) saja yang enggak belajar. Loh, benar, gue sudah kesel banget. Sudah lama gue bilang, pembangunan kita sesuai kawasan, yang ada gue diketawain. Sekarang kita lihat, iya kan?,” kata Connie yang juga heran dengan kebijakan Pemerintah Indonesia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00