Melihat Perkembangan Kerjasama Ekonomi Indonesia dan Ethiopia

KBRN, Jakarta : Ethiopia adalah salah satu negara teraman di Afrika timur, ekonomi tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Juga cuaca sangat nyaman untuk hidup dan beradaptasi, suhu sekitar sekitar 25-30 derajat.

Etiopia pernah disebut Abyssinia. Di suatu tempat di sepanjang garis, bertahun-tahun yang lalu ketika Etiopia ditemukan oleh orang luar, mereka tidak terbiasa dengan fitur Afrika pada seseorang. Mereka dijuluki Etiopia, yang berarti kulit gelap. Negara itu tumbuh menjadi julukan itu oleh negara-negara lain, akhirnya disebut Etiopia, atau tanah orang-orang berkulit gelap. Namun, jika Anda melihat ke Etiopia Modern, warna kulit berkisar dari yang paling terang sampai yang paling gelap, tergantung pada wilayah dan genetika.

Hubungan antara Indonesia dan Etiopia adalah salah satu hubungan terpenting di wilayah Afrika. Hubungan yang dekat antara Indonesia dan Etiopia ditandai antara lain oleh kehadiran delegasi Etiopia ke Konferensi Asia - Afrika di Bandung pada tahun 1955 dan kerjasama di forum multilateral termasuk Gerakan multiateral (Non Aligned Movement/NAM) sejak didirikan pada tahun 1961. Pada tahun yang sama dengan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Etiopia secara resmi didirikan.

Pada tahun 1964 Pemerintah Republik Indonesia mendirikan kedutaan tersebut di Addis Ababa. Kedutaan Besar Indonesia di Addis Ababa juga diakreditasi kepada Djibouti dan Uni Afrika. Di sisi lain, Pemerintah Republik Demokratik Federal Etiopia membentuk kedutaan keduanya di Jakarta pada tahun 2016.

Tiga belas tahun setelah Konferensi Asia-Afrika, Kaisar Haile Selassie, membuat kunjungan negara ke Indonesia pada tahun 1968. Dia diterima oleh Presiden Indonesia, Soeharto. Sejak saat itu, jumlah kunjungan resmi tingkat tinggi oleh kedua negara meningkat. Dalam kunjungannya ke Etiopia, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno L.P. Marsudi bersama dengan rekan-rekan Etiopian-nya, Tedros Adhanom, menandatangani Memorandum Pemahaman tentang Forum Konsultatif Bilateral pada tanggal 29 Januari 2015. Pertemuan pertama Forum ini diadakan selama Forum Indonesia - Afrika di Bali, Indonesia Afrika Forum (IAF), April 2018.

Telah ada hubungan dinamis dalam hubungan ekonomi antara kedua negara sejak lama. Kepentingan pengusaha Etiopia untuk mendapatkan informasi tentang investasi ekspor produk Indonesia semakin kuat. Total perdagangan antara Indonesia dan Etiopia pada tahun 2018 sebesar 85.348,1 juta USD ( Sumber : sesuai perhitungan yang dilakukan oleh BPS, diolah Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Perdagangan). Angka ini menanjak jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang sebesar 68.477,7 juta USD.

Banyak produk Indonesia seperti garmen, produk tekstil, baterai, baterai kendaraan, produk kertas / kertas, produk kimia, sabun dan deterjen, gelas, perabotan, enamel, produk plastik, obat-obatan, peralatan medis, dan makanan (mie instan) terkenal di pasar Ethiopia karena kualitasnya yang baik dan harga terjangkau mereka.

Berdasarkan data perdagangan pusat internasional, impor utama Etiopia dari Indonesia didominasi oleh sabun dan deterjen, minyak sawit dan turunannya, kertas, benang, perangkat elektronik, margarin, dan produk furnitur. Produk lain yang diimpor oleh Etiopia meliputi kabel (akrilik dan benang), garmen, tekstil, baterai, produk kimia, barang pecah belah, enamel, produk plastik, pakaian bayi, ban kendaraan, bahan baku mie, wafer, permen, dll.), Dan peralatan medis. Di sisi lain, Indonesia mengimpor kapas, kulit, rempah-rempah, dan kopi dari Ethiopia.

PT. Sinar Antjol, penghasil B-29 dan sabun deterjen, Didirikan pada tahun 1942 memulai perjalanan kami dan duta besar Etiopia di Addis Ababa Al Busyra Basnur pada hari kamis, 28 Maret 2019. Kunjungan kerja kali ini dipilih karena kebutuhan masyarakat Ethiopia untuk deterjen berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif menjadi lebih besar peluang para pebisnis. Perubahan ini dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan PT. Sinar Antjol. Sinar Antjol telah menjadi salah satu pemain utama industri sabun di Ethiopia saat ini, Produksi baru untuk sabun selalu di kembangkan dan bertahap.

"Kami akan terus berkembang dan mempromosikan perusahaan kami di Etiopia" ucap Taryat selaku Country Manager (CM), asal Indonesia di perusahaan itu.

Menurut Taryat, ia merasa kewalahan atas permintaan masyarakat Etiopia yang semakin tinggi dan tanpa adanya pesaing di sana.

Taryat memberikan masukan bagi calon investor warga Indonesia yang ingin masuk ke Ethiopia sebaiknya membuka perusahaan seperti perusahaan pengemasan dan perusahaan garmen. Sebab, menurutnya, Etiopia masih sangat minim akan hal itu dan sangat di butuhkan oleh pasar di sana.

“Satu hal bagi calon investor Indonesia yang tertarik membuka bisnis usaha di Addis Ababa, Etiopia, di negara ini kita harus tetap ikuti aturan pemerintahnya agar dapat bisa berkolaborasi dengan baik terutama dari segi otonomi daerah dan kesejahteraan,”tutup Taryat. (Ril)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00