Jadi Ketua ASEAN 2023, Indonesia Fokus Bahas Myanmar

Pertemuan Para Menteri Luar Negeri (AMM) ASEAN ke - 55, di Phnom Penh, Kamboja. (Foto:KemluRI)

KBRN, Jakarta: Indonesia akan memulai tugasnya sebagai Ketua ASEAN pada 2023 setelah Kamboja. Permasalahan di Myanmar terutama terkait penerapan Lima Poin Konsensus oleh junta militer bakal menjadi isu penting untuk dibahas tahun depan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah mengatakan, Indonesia akan menjadikan penerapan Lima Poin Konsensus sebagai salah satu fokus di dalam keketuannya di ASEAN pada 2023.

“Bagaimana ke depannya semuanya juga akan bergantung kepada asesmen yang akan disampaikan oleh leaders (para pemimpin) dalam KTT nanti yang akan menjadi panduan bagi Indonesia dalam menjalankan keketuaannya di tahun 2023 khusus menyangkut isu Myanmar,” ujar Teuku Faizasyah ketika dikonfirmasi Jumat (12/08/2022).

Sebagaimana diketahui bahwa sejak diputuskan pada 24 April 2021 hingga saat ini, junta militer Myanmar belum menunjukkan perkembangan siginifikan terkait penerapan Lima Poin Konsensus.

Kepala Biro Dukungan Strategis Pimpinan Kemlu RI, Achmad Rizal Purnama menyebutkan, secara jelas bahwa tidak ada komitmen dari junta militer Myanmar untuk melaksanakan Lima Poin Konsensus.

“Dari Joint Communique tersebut posisi para menteri luar negeri ASEAN clear menyampaikan bahwasanya tidak ada atau sedikit adanya progres dari implementasinya dan bahkan disampaikan tidak ada komitmen dari militer Myanmar untuk melaksanakan lima poin konsensus,” kata Rizal.

Eksekusi mati empat aktivis oposisi oleh pemerintah yang berkuasa di Myanmar pada Juli lalu, menambah catatan kelam atas krisis politik di negara itu.

Terlebih, eksekusi dilakukan kurang dari dua pekan penyelenggaraan pertemuan para Menlu ASEAN di Phnom Penh, Kamboja.

KTT ASEAN atau Pertemuan Para Pemimpin ASEAN (ALM) pada 24 April 2021, di Sektretariat ASEAN, Jakarta yang dihadiri sembilan pemimpin ASEAN dan kepala junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, menyetujui Lima Poin Konsensus. 

Yaitu, segera diakhirinya kekerasan di Myanmar, dialog di antara semua pihak, penunjukan utusan khusus, bantuan kemanusiaan oleh ASEAN, dan kunjungan utusan khusus ke Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar