Krisis Pangan Mengancam, Seruan Presiden Jokowi Diapresiasi

Presiden RI Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden (kanan) saat menghadiri forum KTT G7 di Elmau, Jerman, Senin (27/6/2022). (ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Kepresidenan/Laily Rachev/aa.).jpg

KBRN, Jakarta: Seruan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar negara-negara anggota G7 dan G20 bersatu padu menyelamatkan negara-negara berkembang dari krisis pangan diapresiasi, karena disampaikan dalam situasi tepat.

Pernyataan Presiden Jokowi tersebut disampaikan dalam pandangannya pada KTT G7 sesi II, dengan topik ketahanan pangan dan kesetaraan gender berlangsung di Elmau, Jerman, Senin (27/6/2022), pekan ini.

"Saat ini kelaparan ekstrem mengancam masyarakat di negara berkembang," kata Guru Besar Universitas Indonesia Profesor Hikmahanto Juwana dalam keterangannya, Rabu (29/6/2022).

Sisi lain, Hikmahanto menilai, ajakan Presiden Jokowi soal krisis pangan ini juga terkait dorongan perdamaian konflik Rusia dan Ukraina. Sebab, produksi hasil pertanian, khususnya gandum terbesar di dunia berada pada dua negara ini.

Katena itu, lanjutnya, pidato Presiden Jokowi tidak langsung menyinggung soal bahaya perang yang terjadi di Ukraina, namun maksud dari pernyataan tersebut juga menyangkut upaya mendamaikan dua negara di Eropa Timur itu.

"Iya betul, menurut saya ini pendekatan yang dilakukan oleh pak Jokowi agar negara-negara dituju tidak memanasi Ukraina,” kata Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani itu.

Diyakini, pernyataan Presiden Jokowi soal menyelamatkan negara-negara berkembang dari krisis pangan ekstrem ini pasti diikuti negara anggota G7 dan G20. 

“Saya rasa ini kan imbauan dari pak Presiden dan mungkin saja negara-negara ini akan mengikuti imbauan ini untuk selamat dari krisis pangan ekstrem, karena perang ini sudah terlalu lama di Eropa, semua sudah capek dan terus terang semua tidak tahu tujuannya apa,” ujarnya.

“Justru yang terdampak itu adalah negara berkembang yang secara finansial nggak punya duit, yang kemudian pak Presiden bilang ini sekian juta orang akan terpengaruh, akan mati jika terjadi krisis pangan ini,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo menyerukan negara G7 dan G20 untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam rakyat di negara-negara berkembang akan jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrim.

“323 juta orang di tahun 2022 ini, menurut World Food Programme, terancam menghadapi kerawanan pangan akut. G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar untuk atasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang, dan mulai saat ini,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, pangan adalah permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling dasar, sementara kaum perempuan dari keluarga miskin dipastikan akan paling menderita menghadapi kekurangan pangan bagi anak dan keluarganya.

“Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global, harus kembali normal,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar