RS St. Joseph Tuntut Pertanggungjawaban Polisi Israel

Keluarga dan teman membawa peti jenazah wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh, yang terbunuh saat razia Israel di Jenin, Tepi Barat, saat pemakamannya di Yerusalem, Jumat (13/5/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Ammawr Awad/rwa/cfo

KBRN, Jakarta: Rumah Sakit (RS) St. Joseph Yerusalem Timur, menuntut pertanggungjawaban polisi Israel atas serangan yang terjadi saat proses pemakaman jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, Jumat (13/05/2022) lalu.

Direktur Jenderal RS St. Joseph Jamil Koussa mengatakan, kepolisian Israel merupakan pihak yang harus bertanggungjawab sepenuhnya atas kekacauan dan serangan pekan lalu di area rumah sakit.

“Setiap lembaga harus bertanggung jawab atas tindakan yang telah mereka lakukan. Tapi, polisi harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Jumat lalu,” ungkap Jamil Koussa dalam konferensi pers yang diikuti RRI.co.id, Senin (16/05/2022) pagi waktu setempat.

Shireen Abu Akleh tewas akibat ditembak aparat kepolisian Israel di Kota Jenin, Tepi Barat, Palestina, Rabu (11/05/2022).

Jamil menjabarkan, pihaknya telah meminta aparat kepolisian untuk meninggalkan area rumah sakit, sesaat sebelum kekacauan terjadi.

Namun, permintaaan rumah sakit ditolak oleh polisi yang bertugas.

“Sebelum kejadian, kami berbicara dengan perwakilan kehormatan Uni Eropa (UE) dan dewan Perancis. Kami menggarisbawahi betapa serius situasinya. Kami meminta mereka untuk menjauhkan polisi dari gerbang rumah sakit. Tapi, polisi yang bertugas mengatakan, “Saya memiliki perintah tetapi selama (ada) bendera dan slogan, saya tidak akan membiarkan orang-orang meninggalkan rumah sakit bahkan satu sentimeter di luar rumah sakit”,” papar Jamil.

Kepolisian Israel menyebutkan, berdasarkan investigasi yang dilakukan, aparat yang bertugas diperintahkan untuk menekan para demonstran.

Pihak RS St. Joseph menegaskan, tidak mengkhawatirkan hasil investigasi dari pihak kepolisian.

“Ini bukan merupakan kekhawatiran dari investigasi seperti apa dan bagaimana mereka melakukannya. Apa yang kami khawatirkan adalah investigasi tersebut akan menarik kepentingan mereka,” kata Jamil Koussa.

Pada kesempatan yang sama, Patriark Latin Yerusalem Pierbattista Pizzaballa menyatakan, komunitas gereja-gereja Kristen di Yerusalem mengutuk serangan yang dilakukan oleh kepolisian Israel, yang turut menyebabkan banyak orang terjatuh termasuk peti jenazah Shireen Abu Akleh.

“Polisi menyerbu dan tidak menghormati gereja. Tindakan mereka juga melanggar Hak Asasi Manusia serta hukum internasional,” ucap Pierbattista Pizzaballa.

Serangan aparat kepolisian Israel Jumat (13/05/2022) lalu dinilai melukai banyak pihak.

“Apa yang terjadi pada Jumat lalu tidak hanya melukai komunitas umat Kristiani, para saudara dari reporter Aljazeera dan masyarakat Palestina yang berada di rumah sakit. Serangan itu juga melukai para staf rumah sakit. Tapi, juga mereka yang berada di sana untuk memperoleh kedamaian dan (pelayanan) keramahan,” jelas Patriark Latin Yerusalem Pierbattista Pizzaballa dalam konferensi pers awal pekan ini.

Diketahui, Shireen ditembak di bagian kepala saat menjalankan tugas dan mengenakan rompi pers.

Penyelenggara Nasional untuk Komite Anti-Diskriminasi Amerika-Arab (ADC) mencatat, Shireen Abu Akleh menjadi warga negara Amerika Serikat (AS) kedua yang dibunuh oleh pasukan Israel pada tahun ini.

Sebelumnya, Omar Assad yang berusia 78 tahun meninggal setelah ditahan di Tepi Barat pada Januari lalu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar