Kapal Vietnam Dominasi Illegal Fishing di Indonesia

KBRN, Jakarta : Pelanggaran dan kejahatan penangkapan ikan ilegal, tidak terlapor dan tidak diatur oleh kapal ikan asing, masih marak terjadi di laut Indonesia sepanjang  2021.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan mengatakan, 75 kapal ikan asing ditangkap oleh otoritas keamanan laut Indonesia sepanjang tahun lalu.

“Otoritas penjaga laut Indonesia yang terdiri dari PSDKP, Kementerian Kelautan dan Perikanan, TNI Angkatan laut, Badan Keamanan Laut dan Polisi Air dan Udara sepanjang tahun 2021 melakukan penangkapan 75 kapal ikan asing yang melakukan kegiatan perikanan ilegal di laut Indonesia,” ungkap Abdi dalam keterangannya yang dikutip RRI.co.id, Rabu (12/1/2022).

Puluhan kapal asing yang ditangkap tersebut didominasi oleh kapal berbendera Viet Nam.

“Kapal ikan asing tersebut terdiri dari kapal berbendera Viet Nam 39 kapal, Malaysia 27 kapal, Filipina enam kapal, Taiwan satu kapal dan kapal tanpa bendera dua kapal. Jumlah kapal yang melakukan pelanggaran kemungkinan bisa lebih banyak karena terdapat beberapa kapal yang berhasil melarikan diri ketika akan ditangkap,” terang Abdi.

“50,6% lokasi penangkapan kapal pencuri ikan tersebut terjadi di laut Natuna dan dilakukan oleh kapal ikan berbendera Vietnam” tambahnya.

Menurut Abdi, ABK berstatus WNI juga turut diamankan dalam penangkapan 75 kapal ikan asing pada tahun lalu.

“Kurang lebih 400 orang ABK kapal ikan asing ikut terlibat dalam kegiatan perikanan ilegal. Mereka merupakan warga negara Vietnam, Filipina, Malaysia, Myanmar, Taiwan dan Indonesia. Ironisnya 18 orang ABK kapal pencuri ikan tersebut adalah Warga Negara Indonesia karena ikut bekerja diatas kapal,” ucap Abdi lagi.

Abdi menyatakan berdasarkan analisa yang dilakukan pihaknya, menunjukkan banyaknya kapal ikan asing yang melakukan praktik perikanan ilegal di laut Indonesia disebabkan postur dan kapasitas pengawasan perikanan yang dimiliki Indonesia belum berubah.

“Hari layar kapal pengawas perikanan tahun lalu hanya 100 hari per tahun sehingga tidak mampu merespon banyaknya pengaduan yang disampaikan oleh nelayan lokal atas maraknya kapal asing di Natuna. Menjelang akhir tahun 2021, kapal pengawasan milik KKP sudah tidak melakukan patroli karena kehabisan bahan bakar minyak,” ujarnya.

Sementara, peneliti DFW Indonesia Muhamad Arifudin mengatakan  nelayan dan kapal ikan Indonesia terlibat dalam kegiatan perikanan ilegal wilayah negara tetangga.

“84 orang nelayan dan ABK Indonesia tertangkap dan ditahan otoritas Malaysia, Papua Nugini dan Australia sepanjang tahun 2021,” pungkas Arif. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar