Limbah Farmasi Cemari Sungai-sungai Utama India

(Phys.org)

KBRN, New Delhi: Sungai-sungai besar India tercemari logam berat, pewarna, bahan kimia beracun dan produk farmasi, menurut hasil sebuah penelitian.

Studi yang diterbitkan pada bulan Desember di jurnal Science of the Total Environment, menemukan limbah farmasi konsentrasi tinggi serta logam beracun seperti arsenik, seng, kromium, timbal dan nikel di Cauvery, sungai besar di India selatan.

Ligy Philip, penulis studi dan anggota tim peneliti dari Indian Institute of Technology (IIT) Madras, Chennai, mengatakan, "Pengamatan kami mengkhawatirkan. Penilaian risiko lingkungan tim telah menunjukkan bahwa kontaminan farmasi menimbulkan risiko sedang hingga tinggi bagi bentuk kehidupan akuatik khusus dari sistem sungai."

Produk farmasi yang ditemukan di sungai antara lain antiperadangan seperti ibuprofen dan diklofenak, antihipertensi seperti atenolol dan isoprenalin, penghambat enzim seperti perindopril, stimulan seperti kafein, antidepresan seperti karbamazepin, dan antibiotik seperti ciprofloxacin, seperti dikutip dari Phys.org, Kamis (2/12/2021).

India adalah salah satu produsen obat farmasi terbesar di dunia. Meskipun ada peraturan yang mengatur limbah dari unit manufaktur, hanya ada sedikit pemantauan nyata oleh regulator seperti dewan pengendalian polusi negara bagian. Misalnya, Badan Pengendalian Pencemaran Negara Bagian Karnataka mengambil sampel hanya sekali dalam tiga bulan dan hanya pada siang hari sedangkan pembuangan limbah ilegal sering dilakukan pada malam hari.

Studi IIT Madras menunjukkan konsekuensi dari pemantauan yang tidak memadai terhadap anak-anak sungai tempat limbah dibuang dan akhirnya mencapai sungai Cauvery.

"Jelas ada kebutuhan untuk memastikan bahwa sistem pengolahan air limbah bekerja secara optimal untuk mengurangi tingkat kontaminan yang mencapai sungai," kata para peneliti. "Studi kami dimaksudkan untuk mendorong penelitian lebih lanjut untuk menilai dampak jangka panjang pada kesehatan manusia dan lingkungan."

"Kami mengumpulkan sampel dari 22 titik lokasi di sepanjang Cauvery dan mendirikan 11 stasiun pemantauan di dekat titik pembuangan dan 11 lainnya di dekat titik masuk sistem pasokan air," kata Philip. Proses pemantauan memakan waktu dua tahun untuk mencakup variasi musiman dalam tingkat kontaminan, terutama senyawa farmasi.

Tim Philip menemukan ada peningkatan tingkat kontaminan termasuk kontaminan farmasi selama periode pasca-musim karena berkurangnya aliran air.

Cauvery bukan satu-satunya sungai besar di India yang tercemar limbah dari industri farmasi dan lainnya. Awal November, sungai Yamuna yang mengalir melewati ibu kota negara, ditemukan tertutup busa putih tebal sebagai akibat dari reaksi antara tingginya tingkat limbah industri dan limbah yang dipompa.

Sungai Gangga, yang dianggap sebagai salah satu badan air paling suci di dunia, sejak tahun 2014 menjadi sasaran program pembersihan bernilai miliaran dolar yang tingkat keberhasilannya terbatas.

"Ada kurangnya kemauan dari badan-badan pengendalian polusi untuk menerapkan pedoman yang ketat serta kurangnya kesadaran atau komitmen warga," kata Nagesh Kumar, profesor di departemen teknik sipil di Indian Institute of Science, Bangalore.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar