Emisi Karbon Cina Turun di Kuartal Tiga

(Phys.org)

KBRN, Beijing: Untuk pertama kalinya emisi CO2 Cina turun pada kuartal ketiga sejak negara itu membuka kembali penguncian COVID-19, menurut penelitian yang diterbitkan Kamis (25/11/2021), dan menurut para ahli menjadi penandai "titik balik" karbon bagi negara tersebut.

Tetapi ancaman perlambatan ekonomi dapat segera mendorong pihak berwenang beralih mengeluarkan langkah-langkah stimulus infrastruktur, mendorong peningkatan emisi kembali, menurut peringatan penelitian oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA).

Negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah berjanji mencapai puncak emisi sebelum tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2060—tetapi pihak berwenang telah berjuang melepaskan negara itu dari ketergantungannya pada bahan bakar fosil.

Emisi Cina turun secara dramatis pada awal 2020 karena karantina besar-besaran yang bertujuan untuk mengekang virus corona, kemudian pulih ke tingkat bulanan yang lebih tinggi dari 2019 ketika kota dan pabrik dibuka kembali.

Tetapi pada kuartal ketiga tahun ini, negara itu mencatat penurunan 0,5 persen untuk tahun-ke-tahun pada emisi dari bahan bakar fosil dan semen—penurunan kuartalan pertama sejak rebound pasca-lockdown, menurut analis CREA Lauri Myllyvirta, seperti dikutip dari Phys.org, Jumat (26/11/2021).

Penurunan tersebut disebabkan merosotnya konstruksi setelah Beijing menindak spekulasi dan utang di sektor real estat, serta harga batu bara yang tinggi yang mengakibatkan penjatahan listrik di seluruh negeri, kata Myllyvirta.

"Penurunan emisi dapat menandai titik balik dan puncak awal total emisi Cina, bertahun-tahun sebelum targetnya mencapai puncaknya sebelum 2030," kata Myllyvirta dalam laporannya.

Tetapi dia memperingatkan bahwa "jika pemerintah Cina menyuntikkan stimulus konstruksi lebih lanjut untuk meningkatkan ekonominya, emisi dapat pulih sekali lagi, sebelum memuncak akhir dekade ini."

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00