Indonesia Gencarkan Garap Pasar Pasifik

KBRN, Jakarta: Negara-negara Pasifik menjadi salah satu pasar target Indonesia, dalam menggencarkan diplomasi ekonomi.

Guna memaksimalkan penggarapan pasar Pasifik, untuk kali kedua pemerintah menggelar “Pacific Exposition” (PE) yang diselenggarakan secara daring.

“Penyelenggaran “PE” kedua mengusung tema “Its Time for Pacific” secara virtual selama empat hari, yaitu pada 27 – 30 Oktober,” ujar Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya dalam konferensi pers secara daring, Kamis (21/10/2021).

Tantowi menyebut, peluang diplomasi ekonomi Indonesia di negara-negara Pasifik masih besar, jika merujuk pada perolehan nilai ekspor Indonesia yang defisit.

“Data kemendag RI 2020 total nilai perdagangan RI dan negara-negara Pasifik USD 9,025 miliar dengan nilai ekspor USD 3,43 miliar dan nilai impor masih USD 5,58 miliar. Jadi, kita masih mengalami defisit. Dengan adanya GAP ekspor-impor cukup besar tersebut, maka masih ada peluang besar untuk ekspor Indonesia ke negara-negara ini agar neraca perdagangan kita seimbang,” papar Dubes RI di Wellington.

“Bahkan, one day akan surplus. Mayoritas produk-produk ekspor Indonesia ke negara-negara Pasifik non Australia dan Selandia Baru adalah consumer goods, intermediate goods, food products and machineries electronics,” sambungnya.

Selain, dikatakan ekspor Indonesia yang masih defisit ke negara-negara Pasifik, disebabkan Indonesia tercatat masih mengimpor berbagai produk tertentu dengan nilai cukup tinggi misalnya dari Australia dan Selandia Baru.

“Misal produk-produk daging merah dan yang paling utama adalah dairy product. Australia dan Selandia Baru masih menjadi importir produk-produk susu di Indonesia. Kita akan surplus jika kita sudah mulai memproduksi manufacture product atau produk jadi,” terang Tantowi Yahya.

Secara khusus melalui penyelenggaraan PE sebagai upaya memperkuat identitas Indonesia Timur di Pasifik.

“Akan ada enam provinsi di Indonesia akan berpartisipasi di PE dan PE juga untuk memperkuat identitas kepasifikan Indonesia. Keenam provinsi itu adalah NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat,” jelas Tantowi lagi.

Tantowi Yahya menyebut selama empat hari penyelenggaraannya, PE akan dibagi ke dalam tiga program.

“Pameran perdagangan dihadiri 200 exhibitor, business matching, dan forum yang terdiri atas The Pacific Talks, Trade, Investment and Creative Economy Forum, Tourism Forum, Fisheries Forum dan Health Forum,” pungkasnya.

Indonesia sukses menghelat PE pertama pada 2019 yang berlangsung di SkyCity Auckland Convention Center dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Selandia Baru dan  Australia.

Transaksi bisnis pada PE pertama dua tahun lalu mencapai USD 70,3 juta. (Foto: Istimewa)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00