FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Menjadi Hub Vaksin, India-Korsel Rival Indonesia

Ilustrasi / Vaksin mRNA (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan Afrika Selatan sebagai hub (pusat) transfer teknologi pengembangan vaksin COVID-19 di Afrika Juni lalu, Indonesia pun kini tertarik untuk bisa menjadi pusat di Kawasan Asia.

Transfer teknologi vaksin difokuskan pada jenis mRNA.

Namun, untuk mewujudkan cita-citanya itu, Indonesia harus berhadapan dengan India dan Korea Selatan.

“Saat ini posisi kita bersaing dengan India dan Korea Selatan, proses due delegence (uji kelayakan) Indonesia akan dilakukan dalam waktu dekat. Keputusan untuk hub vaksin mRNA untuk kawasan Asia ini akan diumumkan pada 2022,” ungkap Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kemenlu RI Penny Dewi Herasati, ketika memberikan pengarahan pers secara daring dari Beograd, Serbia, dikutip RRI.co.id, Selasa (12/10/2021).

Dijelaskan Penny, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, untuk bisa menjadi pusat transfer teknologi vaksin mRNA oleh WHO.

“Capaian-capaian Indonesia selama ini juga menjadi hitungan. Jadi, kalkulasinya di berbagai lini. Misal, partisipasi Menlu menjadi co chair AMC, itu menjadi satu hitungan juga. Bagaimana Indonesia sentiasa aktif memperjuangkan kepentingan negara berkembang, dalam hal ini itu akan menjadi poin untuk Indonesia. Angka kasus, saya kira juga akan menjadi poin,” paparnya.

Indonesia menjadikan Bio Farma sebagai pusat lokasi berlatih para ilmuwan Asia, jika Indonesia terpilih menjadi pusat transfer teknologi virus mRNA nantinya.

“Kebetulan pharmaceutical industry kita adalah Bio Farma. Jadi, Bio Farma akan menjadi center of excellence (pusat keunggulan), dimana para ilmuwan di negara Asia akan datang untuk dilatih dan mendapatkan transfer teknologi platform mRNA,” terang Penny.

Mandat WHO terhadap suatu negara sebagai pusat transfer teknologi vaksin mRNA, saat ini belum diikuti dengan proses produksi.

“Mengenai produksi kapan dan berapa jumlahnya, itu adalah step selanjutnya,” ucapnya.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, hub transfer teknologi pengembangan vaksin mRNA, merupakan upaya pemerataan produksi vaksin.

“Ini adalah langkah penting yang akan membuahkan hasil dalam jangka menengah. Dalam jangka pendek, kita perlu melakukan segala kemungkinan untuk meningkatkan pemerataan produksi dan distribusi vaksin, melalui COVAX,” jelas Tedros.

Untuk meningkatkan manufaktur vaksin COVID-19, WHO terus menyerukan berbagi pengetahuan, teknologi dan lisensi dan pelepasan hak kekayaan intelektual.

Penunjukkan Afrika Selatan sebagai pusat transfer teknologi vaksin mRNA di Kawasan Afrika, didukung oleh sejumlah perusahaan konsorsium dan institusi terkait. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00