Pandemi, Furnitur Indonesia Laku Keras di Swiss

Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad melakuan pertemuan dengan Living Dreams, pengusaha Swiss, importir produk furnitur Indonesia berskala besar di Meilen, Kanton (Provinsi) Zurich di Swiss baru-baru ini. Pemiliknya adalah warga asli Swiss yang sudah cukup lama bermitra erat dengan para pengusaha di Indonesia, terutama pengusaha UMKM di Indonesia. (Dok. KBRI Bern)

KBRN, Meilen: Masyarakat dalam negeri patut berbangga, sebab furnitur asal Indonesia digemari di Swiss.

Dimana furnitur asal Indonesia yang menjadi ‘best seller’ di Swiss, utamanya yang memilki kualitas tinggi dan mutu terjamin.

Jenis furnitur yang disukai misalkan mebel berbahan alami kayu serta yang tahan terhadap perubahan musim di Swiss.

Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad melakuan pertemuan dengan Living Dreams, pengusaha Swiss, importir produk furnitur Indonesia berskala besar di Meilen, Kanton (Provinsi) Zurich di Swiss baru-baru ini.  

Pemiliknya adalah warga asli Swiss yang sudah cukup lama bermitra erat dengan para pengusaha di Indonesia, terutama pengusaha UMKM di Indonesia.

“Living Dreams memiliki beberapa showroom sekaligus warehouse yang cukup luas di Meilen. Selain di Meilen (Swiss) terdapat dua toko lainnya di Zurich (Swiss) dan Mallorca (Spanyol),” ujar Muliaman Hadad dalam keterangan resmi yang dikutip RRI.co.id, Jumat (17/09/2021).

Menurut Muliaman, pertemuannya dengan pihak Living Dreams sebagai upaya memperkuat jejaring mitra bisnis serta untuk promosi the 36th Trade Expo Indonesia Digital Edition 2021 yang akan terselenggara pada tanggal 21 Oktober-4 November 2021 di Indonesia, dengan tema ”Reviving Global Trade”.

Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad melakuan pertemuan dengan Living Dreams, pengusaha Swiss, importir produk furnitur Indonesia berskala besar (Dok. KBRI Bern)

“Selain itu tujuan pertemuan untuk melakukan diseminasi informasi terkait perjanjian Indonesia-EFTA CEPA dan manfaat implementasi Indonesia EFTA-CEPA (seperti pengurangan tarif/pajak impor produk Indonesia ke Swiss),” tambahnya.

Pemilik Living Dreams, Nicole Hoch mengungkapkan, selama pandemi justru penjualannya meningkat sekitar 20 persen.

“Karena, masyarakat Swiss lebih banyak menghabiskan waktu di rumah (working from home) dan mengalihkan biaya travelingnya ke pembelian perabot rumah. Hal ini juga salah satunya ikut berkontribusi dan memengaruhi peningkatan nilai impor furnitur Indonesia ke Swiss,” ucap Hoch.

Ragam produk furnitur, yang dibeli dari Indonesia yang laris manis dibeli yaitu produk indoor dan outdoor, dengan mayoritas bernuansa kayu alami.

Selain produk furnitur berbahan kayu, Living Dreams juga menjual produk-produk home decor berbahan perunggu dan batu alam.

“Sekitar 80 persen dari mayoritas barang-barang furniture dan home decor yang dijual dari tokonya berasal dari Indonesia,” terang Hoch.

Perusahaan Living Dreams telah melakukan pembelian skala besar furnitur asal Indonesia selama kurang lebih 15 tahun, khususnya dari Lombok, Surabaya, Boyolali dan Yogyakarta.

“Kita harapkan penjualan furnitur asal Indonesia semakin kuat di Swiss, karena peminatnya di Swiss cukup besar. Terutama juga dengan akan berlakunya Indonesia-EFTA CEPA pada 1 November 2021, produk-produk Indonesia diharapkan akan semakin bersaing. Peluang terbuka lebar. Kiranya akan membawa peningkatan nilai impor furnitur Indonesia ke Swiss, terutama untuk produk-produk UMKM dari para pengrajin kayu dan produser mebel di Indonesia agar semakin eksis di Swiss,” papar Muliaman.

Sebagai informasi, nilai perdagangan furnitur semester satu tahun 2021, furnitur menempati urutan keenam untuk komoditas utama Indonesia ke Swiss dengan nilai USD 12, 28 juta dari Januari – Juni 2021.

Nilai ini naik 17% dibanding Januari – Juni 2020, yaitu senilai USD 9,87 juta. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00