Warga El Salvador Versus Bitcoin

Demonstrasi warga di El Salvador yang menolak kebijakan penggunaan Bitcoin di negaranya (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Pada 9 Juni 2021, El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang mengesahkan penggunaan bitcoin sebagai alat tukar, dari hasil pemungutan suara dengan dukungan 64 dari 82 anggota kongres.

Negara yang terletak di Amerika Tengah itu, kemudian meresmikan penggunaan bitcoin pada awal September, berdasarkan instruksi Presiden Nayib Bukele.

Namun, Rabu (15/09/2021), ribuan warga El Salvador turun ke jalanan Ibu Kota San Salvador, berdemonstrasi menolak penggunaan bitcoin sebagai alat bayar dan disaat yang bersamaan menentang UU baru yang mengatur pemberhentian seluruh hakim di atas 60 tahun atau dengan masa kerja lebih dari 30 tahun.

Seorang pedemo, Samuel Ramirez mengatakan, kemungkinan akan ada tindakan yang lebih buruk dari aksi demonstrasi kali ini.

“Dan pesan untuk pemerintah bahwa jika seseorang mendengarkan rakyat saat ini, rakyat mungkin dapat bangkit, memberontak dan mengambil tindakan yang jauh lebih radikal,” ungkap Ramirez kepada AFP Spanish di tengah aksi demo, seperti dikutip RRI.co.id, Jumat (17/9/2021).

Sejak diresmikan penggunaannya sebagai alat pembayaran, tidak sedikit warga El Salvador yang menolak penggunaan bitcoin.

Marbel yang merupakan seorang pedagang suvenir menyebutkan, lebih memilih untuk tetap menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai alat tukar.

“Saya tidak menyukai bitcoin dan tidak menerimanya. Walaupun hanya untuk sementara. Ketika saya ditanya seberapa banyak uang yang saya hasilkan, saya memilih untuk mengeluarkan tagihan dan saya akan mengatakan, lihatlah, ini adalah gulungan tagihan dan saya melihat uang saya,” terang Marbel dalam wawancara Deutsche Welle.

Pengesahan penggunaan bitcoin sebagai alat tukar di El Salvador, diikuti dengan dikembangkannya aplikasi e-wallet bernama “Chivo”.

Pemerintah Nayib Bukele juga melahirkan 200 ATM yang disebar ke seluruh penjuru negeri, mendukung operasional “Chivo” serta memberikan bonus USD 30 untuk warga yang mengunduh aplikasi “Chivo” di telepon pintar mereka.

Namun, salah satu ATM “Chivo” turut dirusak dan dibakar oleh para demonstran pada aksi pekan ini.

Presiden Bukele memiliki obsesi untuk menjadikan bitcoin sebagai alat tukar di El Salvador menanggapi aksi demo Rabu lalu dan menyebut ada pihak lain yang sengaja membayar aksi tersebut.

“Sayangnya mereka dilindungi oleh beberapa “teman” dari komunitas internasional. Saya mengatakan beberapa, karena mereka tidak semua tetapi beberapa bahkan dibiayai. Yang menyedihkan adalah bahwa saya membiayai oposisi sesat yang tidak peduli untuk menyakiti orang tua,” ujar Bukele.

Saat konferensi bitcoin 5 Juni lalu di Miami, Amerika Serikat, dengan Jack Mallers yang merupakan CEO Strike sebagai pembicara, kemudian diikuti dengan kemunculan video Presiden Bukele dengan pesan akan menjadikan bitcoin sebagai alat tukar di negaranya mengejutkan banyak pihak.

Sejak saat itu Bukele menggandeng Jack Mallers.

Meski, El Salvador disebut memerlukan suntikan dana sebesar USD 1 miliar, untuk mendukung keuangan dalam negeri.

Mallers menjelaskan, bitcoin merupakan sebuah jaringan moneter terbuka, dimana tidak berpotensi untuk adanya tindakan korupsi dari para pejabat negara El Salvador.

“Bitcoin memiliki properti yang sangat penting dalam ketahanan sensor dan merupakan jaringan moneter terbuka. Jadi, tidak ada perantara dan El Salvador merangkul itu. Dan, untuk menjawab pertanyaan Anda, tidak (peluang korupsi-red),” papar Mallers dalam wawancara di CNBC.

Mallers memastikan pihaknya akan membantu pemerintah El Salvador untuk membangun infrastruktur keuangan paling inklusif dengan menjadikan bitcoin sebagai alat tukar.

“Fokus saya adalah merangkul properti yang memiliki Bitcoin yang menjadikannya sebagai jaringan moneter paling kuat di planet ini. Dalam membantu El Salvador membangun infrastruktur keuangan paling inklusif. Negara mana pun yang pernah ada dalam sejarah manusia,” tegasnya.

Wall Street Journal dalam laporannya menyebut sekitar 80% warga Salvador memiliki sedikit atau bahkan tidak percaya diri terhadap bitcoin.

Salah satu alasannya dikarenakan warga tidak ingin upah mereka didominasi ke dalam bitcoin, sebab terkait dengan nilai fluktuasi tajam yang dimiliki bitcoin.

Serta, sebagian warga tidak memiliki telepon genggam kalaupun ada mereka tidak memiliki paket data.

Sebelumnya, regulator dan pembuat kebijakan di seluruh dunia telah memperingatkan tentang volatilitas bitcoin dan memfasilitasi pencucian uang serta penggunaan terlarang lainnya.

Tetapi Bukele yang mengusulkan UU untuk membuat bitcoin sebagai alat tukar, telah menggembar-gemborkan penggunaan bitcoin.

Karena, potensinya untuk membantu warga Salvador yang tinggal di luar negeri untuk mengirimkan uang kepada keluarga mereka.

Bukele bahkan memiliki rencana yang lebih ambisius untuk bitcoin, dengan mengatakan ingin menggunakan energi terbarukan dari gunung berapi negara itu, untuk menawarkan fasilitas penambangan bitcoin yang menghasilkan unit baru bagi mata uang kripto.

Saat ini El Salvador telah mengoperasikan kawasan “Pantai Bitcoin”, dimana terdapat 100 toko yang dimiliki oleh warga lokal dan menerima pembayaran menggunakan bitcoin. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00