Kebutuhan Sembako WNI Aman Pasca Banjir Henan

Prajurit Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengevakuasi anak-anak yang terdampar akibat banjir menggunakan ember di Weihui Xinxiang, provinsi Henan, China, Kamis (22/7/2021). Gambar diambil 22 Juli 2021. ANTARA FOTO/cnsphoto via REUTERS/HP/djo

KBRN, Jakarta: Tiga hari pasca banjir bandang yang menerjang Provinsi Henan, Tiongkok, kebutuhan akan sembako di wilayah itu dipastikan aman.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok cabang Zhengzhou, Haris Setiawan, mengatakan, tidak terdapat hambatan berarti untuk memperoleh sembako di toko-toko terdekat.

“Untuk sembako kita masih beli di toko-toko di sini,” ungkap Haris ketika dihubungi RRI.co.id, Jumat (23/07/2021).

Menurut Haris, kemudahan akses memperoleh sembako itu juga menjadi dasar, pihaknya belum meminta Kedutaan Besar RI (KJRI) di Beijing untuk menyalurkan bantuan.

“Kalau bantuan dari KBRI sebenarnya mereka menawarkan apabila kita memerlukan, tapi nyatanya teman-teman dan WNI di sini juga tidak ada yang melaporkan kebutuhan mendadak. Soalnya di sini toko juga mereka masih ada dan kita masih beli. Hanya saja waktu awal-awal ketika banjir bandang hari Selasa itu memang (untuk) air mereka agak naikin harga,” terang mahasiswa yang tengah menempuh studi S2 di Universitas Zhengzhou.

Dikatakan, hanya saja akses air bersih masih sulit didapatkan pasca banjir, termasuk akses terhadap koneksi internet.

“Untuk kebutuhan teman-teman di sini relatif dari asrama mungkin kebutuhan air bersih. Karena, di beberapa asrama masih tidak ada air dan yang lain seperti internet. Karena, juga internet lagi low seperti wifi belum menyala. Internet mobile phone juga kadang nyambung kadang tidak,” ucap Haris.

Di Ibu Kota Zhengzhou, setidaknya terdapat 40 WNI serta dua mahasiswa yang menempuh studi di Universitas Zhengzhou.

Banjir menyebabkan 12 orang meninggal, setelah sempat terjebak di kereta bawah tanah bersamaan dengan terjangan air yang masuk secara deras.

Banyak pihak menyalahkan otoritas berwenang, yang tidak menghentikan operasional kereta bawah tanah sebelum banjir menggenang.

Seorang penumpang mengatakan, ia hampir kehilangan tenaga sebab banjir yang datang sangat kuat.

“Banjir sangat kuat dan orang-orang ikut terseret. Ada orang lain dan saya, kami hampir saya menyerah. Sebab, kami tidak memiliki kekuatan lagi. Tapi, lengan saya terus berpegangan di rel,” ujar penumpang pria itu.

Pemerintah Tiongkok menerjunkan ribuan pasukan militer, guna menangani banjir.

Anggota Militer RRT Zhang Zhonghua menyebut, para pasukan disebar ke sejumlah kota dengan fokus penyelamatan dan evakuasi massal.

“Tim kami telah bergegas ke Zhengzhou, Luoyang, Kaifeng, dan tempat-tempat lain di wilayah tersebut. Kami fokus pada pengalihan banjir dan pencegahan pada penyelamatan dan evakuasi massal. Operasi penyelamatan masih berlangsung. Pasukan lain di Henan juga siap untuk berpartisipasi,” papar Zhang Zhonghua dalam wawancara di CCTV.

Hingga Kamis (22/07/2021) jumlah korban meninggal akibat banjir bandang di Provinsi Henan bertambah menjadi 33 orang.

Sebelumnya, hujan dengan intensitas lebat telah terjadi sejak Sabtu (17/07/2021) sehingga menyebabkan Sungai Kuning dan waduk meluap.

Meski, kerap dilanda hujan dengan intensitas tinggi tiap tahunnya, namun hujan dan banjir yang terjadi di wilayah Provinsi Henan kali ini disebut yang terburuk dalam 1.000 tahun terakhir di Tiongkok. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00