Perbandingan Penanganan Covid-19 di Brasil dan Argentina

Ilustrasi (Doc Istimewa) .jpg

KBRN, Jakarta: Memasuki tahun kedua, pandemi Covid-19 telah menyebabkan lebih dari tiga juta penduduk dunia meninggal dunia. Jumlah terbanyak adalah di Amerika Serikat, Brasil, Meksiko dan India.

Negara-negara Amerika Latin juga menghadapi tantangan tersendiri akibat pandemi Covid-19. Argentina misalnya, sekitar 42 juta orang terinfeksi namun ketersediaan vaksin Covid-19 saat ini jumlahnya masih minim.

Minggu (18/04/2021), sebanyak 800 ribu dosis vaksin tiba di Argentina dan pengadaannya melalui COVAX facility yang diakomodir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menteri Kesehatan Argentina Carla Vizzotti menyebut, ratusan ribu dosis vaksin itu akan disebar ke sejumlah daerah berbeda.

“Terhitung hari ini kami akan bekerja untuk mendistribusikan batch terbaru ke sejumlah wilayah berbeda yang membutuhkan. Kami akan bekerja secepat mungkin untuk proses pendistribusian tersebut,” ucap Vizzotti dalam keterangan pers yang disiarkan Aljazeera.  

Sebelumnya, lebih dari enam juta dosis vaksin Covid-19 tiba di Argentina.

Namun, tampaknya Argentina akan memerlukan upaya kuat untuk mendapatkan vaksin COVID-19 guna mencapai target yang sebelumnya disampaikan oleh mantan Menteri Kesehatan Gines Gonxalez Garcia.

Dimana Garcia pada Februari lalu menargetkan, program vaksinasi akan rampung pada kurun waktu Agustus-September 2021.

Meski, Covid-19 secara nyata telah menyebabkan hampir 372 ribu orang meninggal dunia, namun Presiden Brasil Jair Bolsonaro tetap menolak untuk adanya penerapan lockdown di negaranya.

Asosiasi Perawatan Intensif Brasil pekan lalu melaporkan, virus Covid-19 mayoritas menginfeksi anak muda hingga berusia 40 tahun.

Menteri Kesehatan Sao Paulo Jean Gorinchteyn, mengatakan, para pasien yang dirawat di rumah sakit, bahkan datang dalam keadaan yang lebih serius dari para pasien lansia.

“Pada gelombang pertama, kami melihat sebagian besar orang yang lebih tua. Tapi, bukan ini yang kita lihat sekarang. Ini adalah penyakit yang terbukti lebih agresif, terutama pada anak-anak muda. Karena, anak-anak muda ini menunda pergi ke rumah sakit, karena mereka lebih santai menghadapi penyakitnya, karena mereka masih muda. Jadi, mereka datang dalam kondisi yang jauh lebih serius,” papar Gorinchteyn dilansir Deutsche Welle.

Namun, sejumlah ilmuwan di Brasil menyatakan, tingginya kansus di negara itu dan menyerang anak-anak muda, juga disebabkan oleh varian P1.

Pandemi Covid-19 berkepanjangan juga menyisakan cerita tersendiri bagi Luciana Firmino, yang terpaksa kehilangan mata pencaharian.

Firmino ibu anak yang sebelumnya bekerja di salon itu, menuturkan, akibat kesulitan ekonomi dan kemiskinan yang dihadapi, dia berencana untuk menyerahkan anak-anaknya ke panti sosial dengan terpaksa.

“Saya kehilangan harapan, mungkin kami akan tinggal di jalanan atau di bawah jembatan dalam waktu dekat. Saya berpikir sepertinya saya harus menyerahkan anak-anak saya ke pelayanan sosial,” ungkap Firmino dalam wawancara bersama BBC.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00