Sepeda Buatan Gresik ke Olimpiade

(ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Panggung Olimpiade menjadi obsesi setiap atlet berprestasi. Khusus cabang balap sepeda, nomor yang dipertandingkan antara lain jalan raya (open road race) perseorangan. Inipun hanya sekali  etape dan dengan jumlah pebalap yg terbatas mewakii negaranya.

Jadi tidak seperti lomba Grand Tour de France, Vuelta de Espana, atau Giro d Italia, di mana pertandingan mempertemukan tim-tim besar berkekuatan 6-8 pebalap. Balapan jalan raya Olimpiade malah tak terlalu jauh jaraknya, selalu di bawah 200 km. Rutenya pun didominasi jalan datar, sehingga ajang ini lebih cocok bagi pebalap cepat (sprinter) ketimbang pebalap tipe pemanjat gunung (climber) maupun penjelajah. Namun sekali lagi, setiap pebalap akan mengurus dirinya sendiri. Tidak ada dukungan ataupun tarikan pebalap satu tim.

Sampai detik ini Indonesia belum pernah menempatkan pebalapnya baik di nomor jalan raya maupun velodrome olimpiade. Di tingkat Asia (Asian Games) pun prestasi para pebalap kita semakin jauh dari prestasi era Sapari dan Tarwi pada AsianGames 1988 di Jakarta. Dan lebih mengenaskan, di tingkat Asia Tenggara (SEA Games) kita juga kian tercecer menghadapi Malaysia dan Filipina, bahkan Vietnam yang sudah sering terjun di lomba sekelas Tour de Langkawi.

Nomor balapan lainnya lebih banyak dimainkan di velodrome, dengan bermacam-macam spesifikasi yang lebih cocok dimainkan pebalap khusus velodrome. Bukan pebalap jalan raya. Yang paling baru adalah nomor BMX. Ini juga habitat yang berbeda dengan jalan raya dan velodrome. Kejuraan dunia BMX juga sudah digelar dan umumnya lomba ini di olimpiade dikuasai para kandidat juara dunia BMX. 

Sudah Berusaha BMX

Di nomor balapan BMX, Indonesia sebenarnya sudah berusaha keras bisa mengirimkan wakilnya.  Ini dibuktikan oleh dua tim balap BMX asal Indonesia yang terus mengikuti lomba di luar negeri, untuk meraih poin agar bisa mengikuti Olimpiade. Selain itu, tentunya juga bisa dijadikan ajang latihan dan pembentukan karakter diri.

Prestasi yang diraih tim Indonesia di ajang International BMX C1 Championship 2018 Thailand, 3-4 November sangat membanggakan. Tim Thrill Factory Racing asal Gresik, Jawa Timur berhasil meraih juara 1 di kelas Women Junior lewat aksi memukau Wiji Lestari. Memang Wiji sudah terlihat kemampuannya saat berhasil meraih medali perunggu di SEA Games 2018 Jakarta, meskipun saat itu baru bergabung dengan tim Thrill Factory Racing.

Sebenarnya, Thrill Factory Racing (TFR) menurunkan tiga pembalap andalannya. Yaitu Toni Syarifudin (Men Elite), Tifania Adanie (Women Elite), dan Wiji Lestari (Women Junior). “Pesaing di kelas saya, Women Elite sangat ketat. Ada Amanda Car dari Thailand yang merupakan juara Asian Games 2014, ada juara nasional New Zealand, Rebecca Petch, dan masih banyak lagi atlet juara Sea Games dan Asean Games,” bilang Tifania yang berhasil meraih peringkat enam di hari pertama lomba.

Tak ketinggalan, tim United Bike Kencana (UBK) asal Malang juga berhasil menduduki peringkat pertama di kelas Challenge Girl (13 – 14 tahun) melalui aksi Jasmine Azzahra. Sedangkan tim UBK menurunkan lima orang pembalap. Yaitu Bagoes Saputra, Renoza Aldi, Firman Chandra, Ari Kristanto, dan Jasmine Azzahra.

 “Lima pembalap kami turun di dua kelas yakni Men Elite dan Challenge Girl (13-14 tahun). Prestasi Jasmine sangat baik, meraih dua medali emas juara satu di ronde pertama dan kedua,” cerita Sugeng Trihartono, manager balap tim UBK.

Sugeng juga menceritakan bahwa usaha Jasmine untuk menang sangat besar. “Mengingat semua pesaingnya banyak yang tinggal di Amerika dan Eropa sehingga jam terbang mereka sangat tinggi. Berbeda dengan Jasmine yang minim kompetisi di Indonesia,” tuturnya.

Sirkuit BMX yang berada di kawasan Saphanburi, Thailand ini memerlukan teknik tinggi untuk menaklukkannya. Lintasan full aspal dengan berbagai prosection pasti memerlukan keahlian untuk melompatinya. Tim UBK menggunakan sepeda BMX tipe Ryker Pro XL dan XXL untuk turun di Men Elite. “Sedangkan Jasmine menggunakan sepeda BMX tipe Jumper Race,” bilang Ari Kristanto, pelatih tim UBK kepada ‘mainsepeda.com’.

Berbeda dengan tim TFR yang hanya menggunakan satu tipe sepeda yakni Thrill BMX Havoc dengan box component dan Shimano. Terbukti, sepeda BMX bikinan Indonesia ini mampu mengantarkan merah putih meraih podium di Thailand.

“Kami sangat gembira dengan hasil yang baik meraih olympic point dari Wiji ini untuk menuju Tokyo 2020. Tapi ini baru awal, kami akan terus fokus untuk lomba-lomba BMX standar UCI lainnya,” tukas Nita Yuliana, marketing promotion PT. Indonesia Bike Works, produsen sepeda Thrill. Ia berharap Bagoes bisa mewakili Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020.

Meskipun Bagoes belum meraih podium tapi lomba yang diakui oleh UCI ini bisa dijadikan latihan dan uji coba atlet kami karena diikuti oleh pembalap profesional dari banyak negara seperti Kanada, New Zealand, Spanyol, Belanda, Jepang, Hongkong, dan Malaysia.

‘’Terutama untuk Jasmine yang masih harus terus dibentuk karakter dan ditambah pengalamannya untuk turun di lomba internasional seperti ini,” tutup Meilany.

Ikut Olimpiade

Meski belum berhasil mengirimkan atletnya ke olimpiade, cukup membanggakan tim

Thrill Factory Racing divisi BMX Race meloloskan Vineta Petersone (Latvia) dan Axelle Etienne (Prancis) ke Olimpiade Tokyo, Jepang, yang dimulai 23 Juli ini.

Petersone menduduki peringkat empat dunia pada peringkat terbaru Union Cycliste Internationale (UCI). Dia bakal menjadi salah satu pembalap Latvia yang turun di nomor BMX pada Olimpiade 2020. Nama lain dari negara Eropa Timur itu adalah Helvijs Babris yang bertarung di nomor Men Elite.

Menunjukkan perkembangan bagus sepanjang 2021, terakhir Petersone menduduki peringkat ke-13 di General Classification (GC) putaran keempat UCI BMX World Cup, Kolombia, 30 Mei lalu. Total dia telah mengumpulkan 586 poin. Sedangkan Etienne melorot dua peringkat ke ranking 12 dunia pada klasemen terbaru UCI. Dalam ajang terakhir di putaran kedua UCI BMX World Cup, Kolombia, 9 Mei lalu, Etienne menempati ranking ke-29 di tabel keseluruhan.

Baru-baru ini para pebalap sepeda BMX di kelas Men Junior bertarung di babak final pada Jakarta International BMX 2020 yang digelar di Sirkuit BMX Pulomas. Beberapa pebalap merupakan juara nasional BMX di negara masing-masing. Mereka sama-sama menunggangi Thrill Havoc dalam aksinya menaklukkan sirkuit-sirkuit sulit di dunia.

Thrill Havoc adalah salah satu seri andalan dari produsen asal Gresik, Thrill. Sepeda ini dikembangkan dengan riset mendalam bertahun-tahun dari tim pengembangan atlet balap nasional dan internasional. Sepeda ini acap terlihat di berbagai event, mulai dari pentas nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga Olimpiade.

Mimpi berada di panggung Olimpiade cabang balap sepeda masih terasa jauh, Tetapi upaya berbagai tim dan tokoh penting yang terus mendorong perkembangan balap sepeda, memberikan harapan mimpi ini bakal terwujud.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00