Tragedi Tiket Murah

(ANTARA)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Musibah Sriwijaya Air  di atas perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu kemarin seakan membuka lembaran lama  kebijakan LCC (Low Cost Carrier, penerbangan bertarif murah).  Inikah konsekuensi atas paradoks  menggairahkan bisnis penerbangan, versus moda transportasi lainnya?

Tiket murah pesawat terbukti dinikmati banyak penumpang, tetapi juga telah ‘memakan korban’  sektor lainnya. Kita masih harus mempertimbangkan kondisi geografi dan sosial Indonesia sebagai negeri kepulauan. Murahnya biaya terbang tanpa pra-kondisi yang cukup, memukul bus dan kapal berikut rantai ekonomi yang menyertainya.

Pada awal LCC diterapkan, gempa ekonomi melanda jalur pantura pulau Jawa mulai Banyuwangi hingga Merak, Bakauheni hingga Padang, yang mendadak lesu darah. Ada banyak rumah makan, warung kakilima, penginapan/motel, biro perjalanan,  depot pengisian BBM, bengkel, tambal ban yang gulung tikar, gara-gara tidak disambangi bus-bus antarpropinsi.

Bisnis rakyat seperti seperti peturasan, pedagang asongan, kuli barang, cuci bus, bahkan tukang ojek dan makelar penumpang, juga binasa. Angka pengangguran bertambah.

Pelabuhan laut kian sepi. Pelni kehilangan rute-rute gemuknya. Kereta api pun  tak berdaya karena sulit bersaing murahnya tiket dengan pesawat terbang.  

Bahkan LCC terbukti juga  memakan sejawat sendiri, Garuda Indonesia dan Merpati. Citilink sebagai anak kandung Garuda yang diandalkan bertarung di LCC juga nyaris berdarah-darah.

Jargon kini berkat tiket murah ‘’semua orang bisa terbang!’’ berhasil menggairahkan bandara dan maskapai.  Kebijakan ini berhasil mendorong antusiasme masyarakat menggunakan jasa layanan angkutan udara semakin tinggi.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penumpang domestik Januari-November 2014 mencapai 53,4 juta orang, atau naik 6,25% dibanding  tahun sebelumnya yang 50,3 juta orang. Kenaikan jumlah penumpang tersebut diimbangi pula dengan meningkatnya jumlah armada pesawat yang disediakan berbagai maskapai penerbangan di Indonesia. (Adinda Wahyu Azmarani, FISIP Universitas Airlangga,

Kebijakan dan Manajemen Publik September - Desember 2016, Analisis Kualitas Pelayanan Maskapai LCC)

Data Sertifikat Operator Penerbangan 121 pun menunjukkan pada tahun 2010, jumlah armada pesawat 427 unit . tahun berikutnya turun 423 armada. Lonjakan terjadi tahun 2012 saat jumlah armada naik 12,29 % menjadi 475 unit. Tahun 2013 meningkat pesat 11,36 % menjadi 529 unit pesawat. Data ini menunjukkan kebijakan LCC berhasil menghidupkan maskapai.

Selanjutnya : Bermodal Pesawat Uzur

Halaman 1 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00