Mendulang Emas di Panggung Dunia

Infografis: Supriyanto
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa menaikkan Sang Merah Putih ke tiang tertinggi. Pertama Presiden atau Kepala Negara, kedua adalah atlet yang berprestasi.

Negara mana tak bangga bendera kebesarannya berkibar di negeri orang? Kesadaran itulah yang membuat Negara sadar mencapai banyak prestasi olahraga, untuk menaikkan nama besar dan gengsinya. Ajang olahraga antarnegara seperti SEA Games menawarkan ragam kegemilangan. 

Indonesia sendiri sejak ikut serta di SEA Games IX tahun 1977 sudah 10 kali mencapai juara umum, di bawah Thailand dengan 13 kali juara. Namun, dominasi Indonesia di Asia Tenggara akhir-akhir ini meredup, dengan capaian buruk terlempar di peringkat lima tahun 2015 di Singapura dan 2017 di Malaysia. Peringkat ini hanya naik satu strip di SEA Games Filipina 2019, duduk di urutan 4.  

Tahun ini di Hanoi, Vietnam, kontingen Indonesia tak menetapkan target peringkat. Bahkan Presiden Joko Widodo pun saat melepas kontingen ini, hanya berharap Indonesia mampu menaikkan prestasinya lebih baik. 

Presiden tak menyebut posisi juara umum atau dua besar sebagai target. Pesan ini menyiratkan gelagat bahwa tak mudah ‘naik kasta’ di Asia Tenggara ini, tanpa upaya ekstra keras.

Kiprah Olimpiade

Sejatinya, target utama olahraga prestasi kita adalah olimpiade. Sejauh ini medali olimpiade masih bergantung pada bulu tangkis dan angkat besi. Kontingen Indonesia telah mengoleksi 32 medali sejak pertama kali ikut olimpiade, meski sudah berpartisipasi tahun 1952 di Helsinki. 

Medali pertama baru lahir di Olimpiade Seoul 1988. Medali perak itu diraih tiga srikandi pemanah, Lilis Handayani, Kusuma Wardhani, dan Nurfitriyana Saiman Lantang. Mereka mengalahkan tim paling favorit, Amerika Serikat dalam duel sengit.  

Ketika itu, peringkat Indonesia berada di atas Filipina dan Thailand yang merebut satu medali perunggu. Juga lebih baik dibanding India, yang nihil medali di Seoul. 

Di Korsel, Indonesia membawa 29 atlet dari 11 cabang olahraga, antara lain Mardi Lestari, Yayuk Basuki, Suharyadi, Donald Wailan Walalangi, Adrianus Taroreh adalah sederet nama terkenal. 

Sedangkan Nurfitriyana, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani sama sekali tidak terkenal. Masih kalah beken dari pelatihnya, Donald Pandiangan yang pernah ikut Olimpiade 1976 dan 1984. 

Pasca kejayaan di Seoul 1988, panahan seakan kehilangan tajinya.Pada Olimpiade Tokyo 2020, atlet terbaik membawa lima medali; 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu, menempatkan Indonesia di urutan 55 dunia, melampaui negara-negara Asia Tenggara lainnya. 

Padahal, Indonesia hanya berangkatkan 28 atlet, sedangkan Malaysia 41 atlet dan Thailand 30 atlet. Justru prestasi atlet pada Paralimpiade Tokyo 2020 lebih baik. Dari 23 atlet yang berangkat berhasil diraih sembilan medali; 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu, membawa Indonesia ke posisi 43 dunia. Pada Paralimpiade Rio de Janeiro 2016 posisi kita masih di peringkat ke-76. 

Hasil Tokyo ini lebih baik di antara tiga olimpiade London 2012, Rio 2016 dan Tokyo 2020. Di London kita pulang tanpa emas, sedangkan di Rio 2016 membawa pulang 1 emas, 2 perak tanpa perunggu. 

Olimpiade 2020 Tokyo berakhir pada 8 Agustus 2021 lalu. Ajang olahraga paling akbar sedunia ini diikuti 11.090 atlet dari 205 negara, untuk pertama kalinya digelar tanpa penonton.  

Amerika Serikat berhasil menggusur China dalam perolehan medali, hingga menit terakhir. Tuan rumah, Jepang, secara spektakuler menduduki tiga terbaik. 

Terlepas dari kesuksesan Jepang menggelar Olimpiade di tengah gelombang badai Covid-19, masa depan olahraga nasional kita layak dikritisi.

Grand Design Olahraga

Melihat capaian yang masih jauh dari memuaskan itulah, Kementerian Olahraga mencoba berbenah dengan menggagas GDON (Grand Design Olahraga Nasional) sebagai payung regulasi dan strategi pembinaan olahraga nasional. Masyarakat berharap GDON disahkan menjadi Peraturan Presiden (PP) sehingga mencerminkan keseriusan pemerintah memprioritaskan program pembinaan olahraga prestasi.

Indonesia memiliki modal sosial yang besar, di mana jumlah anak usia 5-19 tahun diperkirakan lebih 66 juta atau hampir 25% dari jumlah penduduk berdasar data sensus tahun 2020. 

Melalui program GDON inilah Indonesia menargetkan pada 2021–2024 bisa menduduki peringkat ke-30 dan 40 dunia pada Olimpiade dan Paralimpiade 2024.

Pada 2025–2029, Indonesia diharapkan bisa naik ke peringkat ke-20 dan 30 besar pada Olimpiade dan Paralimpiade 2028. Pada 2030–2034, masuk 10 besar pada Olimpiade dan Paralimpiade 2032. Kemudian, pada 2035–2039,  Indonesia menempati peringkat ke-8 dunia pada Olimpiade dan Paralimpiade 2036.

Puncaknya masuk peringkat lima besar dunia pada 2040–2044. (www.kemenpora go. id). Desain besar olahraga tersebut selain mengubah cara pandang kita terhadap proses produksi atlet, juga akan memaksimalkan peranan ‘sport science’ dan psikologi olahraga. Atlet hebat tak bisa dilahirkan hanya dari bakat alam. 

Seperti halnya Negara maju, khususnya Cina prestasi atlet harus ”dipabrikasi” lewat rencana yang matang, strategi yang tepat, melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Di sinilah perguruan tinggi mengambil perannya. Universitas Negeri Surabaya misalnya, memiliki berbagai fasilitas dan venues olahraga memadai. Inilah satu-satunya perguruan tinggi yang punya kolam renang internasional, lapangan atletik berlapis tartan, lapangan panahan, lapangan hoki, sepak bola, bola basket indoor, dan laboratorium sport lengkap.

Statusnya kini justru berubah menjadi universitas biasa. Bukan lagi kawah pencetak teknokrat olahraga. Hal yang sama juga terjadi pada ‘sekolah khusus mencetak atlet berprestasi’ seperti di Ragunan dan Sidoarjo. Tentu perlu perhatian khusus dalam strategi GDON.

Tim Review

Kemenpora juga membentuk Tim Review. Meski dipertanyakan publik, keberadaan tim Review dianggap membuka paradigma baru. Produk era Menpora Zainudin Amali ini disorot karena mencoret pesenam Sutjiati Narendra dari tim SEA Games 2021. Keputusan ini banyak dipertanyakan termasuk oleh Komisi X DPR RI.

Induk PB Persani sendiri menilai Sutjiati tidak lolos kualifikasi karena masih kalah pengalaman dari Rifda Irfanalutfhi. Tim Review pula yang memangkas jumlah cabor dan atlet yang berangkat ke SEA Games Vietnam hanya tinggal 31 cabor dan 476 atlet.

Bayangkan pada SEA Games 2019 di Manila, Indonesia terlempar ke posisi empat dengan raihan 72 emas meski mengirimkan 841 atlet yang turun di 52 cabor. Hal ini dianggap Tim Review dan Kemenpora hal sia-sia. 

Apalagi di tengah pandemi Covid-19, pemerintah juga mengetatkan anggaran olahraga. SEA Games kini cuma dijadikan sasaran antara untuk persiapan menuju ajang yang lebih besar seperti Kualifikasi Olimpiade 2024 dan Asian Games 2022. 

Mekanisme baru ini diharapkan lebih banyak memilih atlet Indonesia yang tampil di Olimpiade dan berprestasi. Tak lagi cuma mengandalkan bulutangkis dan angkat besi. Bagaimana mengangkat olahraga sebagai ‘flag carrier’ Negara banyak dicontohkan oleh Cina. Sistem pemerintahannya yang sosialis (selain sudah kapitalistis) memudahkan integrasi pembinaan terpusat.

Perintah dan arahan mudah ditaati hingga lapisan terbawah, tanpa banyak perdebatan dan apalagi pembangkangan para pengurus. Sistem mirip ini pula yang dulu berkembang di Jerman Timur, Kuba, dan Rusia, sehingga mereka jadi raksasa olimpiade. Tetapi kita juga mengenal sistem pembinaan yang lebih moderat, dan berhasil memaksimalkan potensi bakat alam. Misalnya Kenya, Ethiopia, dan Jamaica yang bukan Negara kaya, tetapi selalu mendominasi nomor atletik mulai dari 100m, 200m, hingga jarak menengah dan marathon. 

Bagaimana pula banyak negeri terbelakang di Afrika mampu mencetak pesepakbola kelas dunia di liga Eropa.Indonesia bisa juga melakukan itu dengan memetakan bakat alam yang sudah ada, lalu menggemblengnya dengan sport science. 

Bakat pelari, petinju, dan pesepakbola sangat berlimpah di Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Dengan strategi pembinaan yang benar, antara lain pemanduan bakat sejak anak-anak dan perbaikan nutrisi plus kompetisi berjenjang, banyak bintang bisa dicetak.

Di atas berbagai teori dan gagasan indah itu, jauh lebih penting melakukan aksi nyata yang terintegrasi dan berkesinambungan. Bulu tangkis boleh dianggap sebagai model sukses. Cabang catur, angkat besi, atletik, renang, bola voli, bola basket, panahan sudah cukup berusaha konsisten, meski tertatih.  

Dengan PON (Pekan Olahraga Nasional) yang sejak tahun 2000 di Surabaya sudah ‘keluar’ Jakarta, maka banyak fasilitas olahraga tersebar di berbagai provinsi.

Kita menunggu lebih banyak Merah Putih naik ke puncak tertinggi dunia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar