Pilih Tanaman Penyerap Karbon

(Unsplash)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Upaya mengurangi karbon atau polutan di kota-kota besar yang padat kendaraan bermotor, dapat dilakukan dengan memilih jenis tanaman. Berbagai jenis tanaman peneduh maupun hias dapat ditanam sebanyak mungkin di sepanjang pinggir jalan, bantaran kali, maupun taman-taman kota.

Berbagai kota besar di Indonesia juga sudah menyadari peran tanaman dalam menyerap polusi. Kota Surabaya, Malang, Bandung  dapat dijadikan contoh.

Dikutip dari Nationalgeographic.co.id , sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tanaman memiliki reaksi yang sangat kompleks dan 'tersiksa' terhadap hujan. Peneliti dari University of Western Australia (UWA) dan Lund University menemukan fakta bahwa tanaman bereaksi kepada hujan dengan sinyal senyawa yang rumit. Dimuat dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, dinyatakan proses tersebut melibatkan ribuan gen, ratusan protein, dan hormon perkembangan lain yang langsung terpengaruh setelah sepuluh menit air hujan menyentuh tanaman. Reaksi 'panik' tanaman berlangsung sekitar 25 menit. 

Sebagai bagian dari sifat paniknya, tanaman juga akan memompa hormon bernama asam jasmonat. Senyawa ini bertindak sebagai 'sinyal peringatan' kepada daun dan tanaman lainnya. 

Meskipun air merupakan bahan penting yang dibutuhkan untuk fotosintesis, tapi hujan juga membawa bakteri, virus dan spora jamur yang bisa membahayakan tanaman. "Meskipun terdengar aneh, hujan sebenarnya merupakan penyebab utama penyebaran penyakit di antara tanaman," kata Profesor Harvey Millar, pemimpin penelitian sekaligus ahli biologi energi tumbuhan dari UWA. 

Ketika hujan jatuh di antara dedaunan, tetesan kecil air memantul ke segala arah. Itu bisa saja membawa penyakit sehingga penting bagi tanaman untuk memberikan peringatan. 

Selama ini tanaman dianggap sebagai makhluk hidup yang pasif. Tanaman dapat berinteraksi secara cerdas dengan lingkungannya. Tanaman memiliki kecerdasan dan kesadaran yang nyata seperti binatang. 

  Penyerap Karbon

Setiap jenis tanaman memiliki kadar penyerapan karbondioksida yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi antara lain mutu klorofil daun, yang ditentukan oleh banyak sedikitnya magnesium yang menjadi inti klorofil. Semakin besar tingkat magnesium yang dikandung dalam klorofil tumbuhan, warna daun akan semakin berwarna hijau gelap. Ini membantu mengoptimalkan proses fotosintesis yang terjadi.

Tumbuhan atau pohon buah-buahan termasuk golongan penyerap karbon yang paling baik. Faktor lainnya yang ikut menentukan daya serap karbondioksida adalah suhu, dan sinar matahari, ketersediaan air.

Beberapa tanaman penyelamat lingkungan yang mampu menyerap karbondioksida terbaik di dunia :

  1. Trembesi (Albizia saman / Samanea saman): Trembesi atau Ki hujan (Albizia saman) sinonim Samanea saman, merupakan sebuah tumbuhan pohon besar, tinggi, dengan tajuk yang sangat melebar. Tumbuhan ini pernah populer sebagai tumbuhan peneduh. Akarnya yang sangat meluas membuatnya kurang populer karena dapat merusak jalan dan bangunan di sekitarnya. Kemampuannya menyerap air tanah sangat kuat serta kotoran dari jenis serangga yang tinggal di pohon. Daunnya juga sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung (ataupun gelap) sehingga air hujan dapat menyentuh tanah langsung melewati lebatnya kanopi pohon ini. Rerumputan juga berwarna lebih hijau di bawah pohon hujan dibandingkan dengan rumput disekelilingnya.

Pohon ini memang diperuntukkan bagi ruang publik yang sangat luas seperti taman. Sangat mudah dikenali dari karakteristik dahan pohonnya yang akan membentuk payung. Daunnya tumbuh melebar melebihi ketinggian pohonnya. Di negara asalnya pohon ini dipergunakan sebagai pohon penyejuk di perkebunan maupun taman.

Ternyata pohon trembesi juga mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa, yaitu 28,5 ton karbondiokasida setiap tahunnya. Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya. Trembesi juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif, tanpa penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat.

  1. Cassia:    Sebagaimana Senna, jenis-jenis Cassia  bunganya berwarna indah, sehingga sesuai sebagai pohon penghias taman. Beberapa jenisnya juga dimanfaatkan dalam kegiatan penghutanan kembali (reforestasi); bahkan jenis-jenis tertentu juga dimanfaatkan untuk mengatasi proses penggurunan (desertifikasi). Tanaman ini mampu menyerap karbondioksida sebesar 5.295,47 (Kg/ pohon/ tahun).
  1. Kenanga : Pohon kenanga terdiri atas dua macam, kenanga biasa (Cananga odorata macrophylla) yang berbentuk pohon dengan tinggi mencapai 20 meter. Kedua, kenanga perdu (Cananga odorata fruticosa) yang biasa ditanama sebagai tanaman hias dengan tinggi maksimal 3 meter. Kenanga dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl., menghendaki iklim panas dengan curah hujan antara 300 – 500 mm sinar matahari yang cukup dengan suhu 25 – 30 °C. Memerlukan sinar matahari penuh atau sebagian, dan lebih menyukai tanah yang memiliki kandungan asam di dalam habitat aslinya di dalam hutan tadah hujan.

Daya serap bersih karbondioksida tertinggi tiap daun adalah kenanga sebesar 1.52 g/ cm2/ jam. Jadi kenanga selain bisa membuat kita rileks dengan aroma khasnya yang wangi, juga dapat membantu membersihkan udara dari tumpukan CO2 di atmosfer.

  1. Pingku (Dysoxylum excelsum):   Tumbuhan ini dahulu memang banyak terdapat di kawasan hutan di Pulau Bali. Tapi sekarang, populasi pohon ini di Bali mugkin sudah kalah dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali dalam sehari. Karena itu, tidak mengherankan bila menemukan pohon ini bukanlah mudah, di kawasan hutan habitat aslinya sekalipun. Tumbuh di kawasan hutan hujan musiman, pada umumnya sampai pada ketinggian 500-800 m dpl., tetapi juga bisa sampai pada ketinggian 1.700 m dpl. Tanaman ini mampu menyerap karbondioksida sebesar 720,49 (Kg/ pohon/ tahun).
  1. Beringin (Ficus benyamina) : Pohon besar dengan tinggi mencapai 20 - 25 meter, dengan tajuk bulat. Pohon beringin yang lebih tua dicirikan oleh akar gantung yang tumbuh menjadi tunggul kayu tebal yang seiring berjalannya waktu menjadi tidak terbedakan dengan pokok utama pohon. Pohon beringin dapat menyebar menggunakan akar gantung ini untuk menutupi daerahnya, seperti spesies pohon besar (yang termasuk pohon Ficus carica).

Pohon beringin mempunyai akar gantung untuk bernapas. Akar tersebut tumbuh dari batang dan menggantung kearah tanah. Akar ini menyerap uap air dan gas dari udara. Akan tetapi setelah masuk ke tanah, akar tersebut berfungsi menyerap air dan garam mineral. Tanaman ini mampu menyerap karbondioksida sebesar 535,90 (Kg/ pohon/ tahun).

  1. Kiara Payung (Fellicium decipiens) : Kiara Payung berdaun lebat dengan warna hijau yang tua, serta teksturnya yang kuat. Ia tahan terhadap terik dan panasnya cahaya matahari, dengan batang yang sangat keras sehingga  kuat dan sanggup bertahan dari terpaan angin kencang. Dapat tumbuh hingga 5 meter atau bahkan lebih. Namun apabila ditanam di kiri dan kanan jalan raya perkotaan dimana biasanya lebar jalan tersebut mencapai 11 meter,  pohon rindang ini bisa saja menutupi badan jalan dengan daun – daunnya.

Kiara Payung dapat berfungsi sebagai pengarah angin, penyaring udara yang sudah tercemar (polutan), meredam suara, mencegah erosi, pelindung dari cahaya matahari yang menyengat dan air hujan yang turun, serta juga dapat menjadi kontrol visual dan memiliki nilai estetika. Tanaman ini mampu menyerap karbondioksida sebesar 404,83 (Kg/ pohon/ tahun).

Tanaman penyelamat lingkungan lainnya yang mampu menyerap banyak karbondioksida, yaitu :

 Jati, Tectona grandis, 135,27 kg/tahun

  Nangka, Arthocarpus heterophyllus, 126,51 kg/tahun

  Johar, Cassia grandis, 116,25 kg/tahun

  Sirsak, Annona muricata, 75,29 kg/tahun

  Puspa, Schima wallichii, 63,31 kg/tahun

  Akasia, Acacia auriculiformis, 48,68 kg/tahun

  Flamboyan, Delonix regia, 42,20 kg/tahun

  Sawo kecil, Maniilkara kauki, 36,19 kg/tahun

  Akasia, Acacia mangium, 15,19 kg/tahun

  Angsana, Pterocarpus indicus, 11,12 kg/tahun

  Dadap merah, Erythrina cristagalli, 4,55 kg/tahun

  Rambutan, Nephelium lappaceum, 2,19 kg/tahun

  Asam, Tamarindus indica, 1,49 kg/tahun

Bambu juga efektif menyerap CO2 yang besar, sekitar 30% lebih baik dari pohon kebanyakan.Bambu sangat cepat tumbuh, mencapai 90 cm per hari, bergantung spesies, kondisi alam dan tanah tempat bambu tumbuh. Bambu menjadi salah satu kunci penyelamat bumi dari bencana global warming.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar