Virus Baru Datang Berkelindan

Ilustrasi
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Tren penambahan kasus dalam seminggu terakhir ini menunjukkan virus corona masih menjadi ancaman serius. Merebaknya virus varian baru Delta berpotensi berkelindan dengan pelonggaran aktivitas masyarakat.

Banyak pakar kesehatan bahkan memprediksi Indonesia akan mengalami gelombang ketiga wabah Covid pada akhir tahun 2021 atau awal  tahun depan.

Pemerintah sendiri melakukan relaksasi di sejumlah wilayah dalam penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sejumlah aturan dilonggarkan mulai dari pembukaan mal 100 persen hingga resepsi pernikahan dapat dihadiri 75 persen tamu undangan.

Bahkan, kini untuk perjalanan internasional bagi pendatang yang telah vaksinasi lengkap,  karantinanya dipotong hanya jadi tiga hari. Namun masyarakat tetap diminta waspada di masa relaksasi di tengah ancaman gelombang ketiga ini. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mewanti-wanti agar masyarakat tetap mewaspadai penularan meski sebaran kasus positif telah menurun.

Sementara itu menurut CNN Indonesia, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra memprediksi Indonesia berpotensi mengalami ledakan kasus virus corona (covid-19) yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Hermawan menilai, mobilitas warga yang saat ini seakan sudah normal, berpotensi besar menjadi akar penularan yang masif.  Apalagi jika seruan dan kampanye jaga jarak aman kian mengendur.

Bisa terjadi sesuatu yang tak terduga (unpredictable), kasus covid-19 itu meledak tiba-tiba akibat adanya mutasi virus baru yang didukung keramaian, penularannya semakin cepat. Meski belum bisa dipastikan kapan ledakan kasus terjadi, namun apabila berkaca pada pengalaman, lonjakan kasus-kasus terjadi pada libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru hingga Idulfitri. Artinya harus waspada menghadapi kerumunan masal akhir 2021 atau bahkan awal 2022. Lonjakan kasus dipicu akumulasi mobilitas warga yang tak terbendung saat ini.

Kebijakan Tak Konsisten

Timbul kesan di masyarakat  pemerintah tidak konsisten. Diminta wanti-wanti dan waspadai gelombang ketiga, tapi terjadi pelonggaran segala urusan. Mal boleh buka 100 persen sekarang, masyarakat pun abai menjaga jarak dan kerumunan. Hermawan mengingatkan, kebijakan pemerintah terkini tidak berdasarkan saintifik dan mitigasi risiko ancaman. Misalnya, memangkas masa karantina bagi pelaku perjalanan internasional menjadi 3 x 24 jam bagi yang baru menerima satu dosis vaksin covid-19.

Kebijakan itu belum memandang pandemi sebagai sebuah risiko ancaman, lantaran pintu masuk merupakan akses pertama bagaimana mutasi atau varian baru virus corona mampu membuat ledakan kasus tak terduga. Ini pernah terjadi pada Juni-Juli 2021 lalu akibat serangan varian Delta.

Kejadian di India adalah sesuatu yang tidak diprediksi sebelumnya dan datang tiba-tiba. Ini bisa saja terjadi kembali, karena  varian baru atau turunan-turunan varian Delta sudah membuat banyak negara kelabakan.

Ledakan kasus covid-19 yang berpotensi terjadi di Indonesia ini bisa lebih parah dari pada lonjakan kasus sebelumnya, seperti yang terjadi pada awal 2021, dan juga pada periode Juni-Juli 2021 lalu.

Kendati vaksinasi nasional telah menyentuh 50 persen lebih untuk dosis pertama, sebagian orang sudah memiliki kekebalan alamiah pasca terinfeksi, namun masih belum bisa menyelamatkan Indonesia sepenuhnya dari kondisi 'kacau' akibat potensi serangan covid-19.

Apalagi capaian vaksinasi bagi kelompok rentan seperti warga lanjut usia (lansia) masih rendah. Data Kementerian Kesehatan per 2 November pukul 18.00 WIB menyebutkan baru 8.723.505 orang lansia yang telah menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona. Sementara itu, 5.393.636 orang lansia telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.

Target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 21.553.118 orang baru menyentuh 40,47 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 25,02 persen. Pada lansia, kalau yang tervaksin hanya 50 persennya, kemudian potensi proteksi optimal hanya separuhnya, makan bila terjadi lonjakan, kematian bisa sangat besar. Bisa jadi prevalensi rendah dan angka sakit juga rendah, tapi angka kematian akan tinggi.

Kementerian Kesehatan menyebut gelombang tiga virus corona merupakan suatu hal yang niscaya atau pasti terjadi di Indonesia kendati masih belum diketahui secara pasti kapan akan terjadi.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 juga mewanti-wanti segenap masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap penularan virus corona kendati jumlah sebaran kasus positif di nusantara mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

Varian Baru “Mu”

Dunia juga sedang gelisah menghadapi ancaman Varian Baru Covid-19 “Mu” . Badan Kesehatan Dunia, WHO tengah memantau varian baru virus corona di Amerika Selatan itu. Varian bernama Mu tersebut dikhawatirkan memberikan dampak lebih parah saat pandemi Covid-19.  Varian baru Covid-19 bernama Mu juga dikenal sebagai virus B.1621. Varian ini termasuk kategori sebagai variant of interest (VOI) karena memiliki mutasi virus yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari sistem imun.

Laporan WHO juga menyebutkan bahwa varian ini dianggap lebih kebal terhadap vaksin yang ada saat ini. Namun akan terus dipantau karakteristik varian Mu, yang pertama kali terdeteksi di wilayah Amerika Selatan. Sejak identifikasi pertamanya di Kolombia pada Januari 2021, ada beberapa laporan sporadis tentang kasus varian Mu dan beberapa wabah yang lebih besar telah dilaporkan dari negara lain di Amerika Selatan dan Eropa. Data ini dikutip dari laporan mingguan WHO pada akhir Agustus 2021 lalu.

Varian Mu telah menyumbang kurang dari 0,1% kasus infeksi Covid-19 global.  Bahkan, di Kolombia dan Ekuador masing-masing prevalensinya mencapai 39% dan 13%.  Varian baru corona ini sudah menyebar ke banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Italia, Prancis, Korea Selatan, hingga Jepang.  Meskipun varian Mu belum terdeteksi di Indonesia, namun masyarakat tetap perlu waspada untuk mencegah penularannya. Di antaranya dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, melakukan vaksinasi, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan varian baru bisa menyebar dari dua sisi. Yakni dibawa pelaku perjalanan internasional atau mutasi sendiri.

Untuk kemungkinan dari luar negeri, pemerintah melakukan penguatan pada pintu-pintu masuk internasional. Pelaku perjalanan minimal 14 hari sudah mendapatkan vaksin lengkap. Kedua menyertakan PCR 3X14 Jam harus negatif, melakukan karantina. Sudah mendapatkan vaksinasi lengkap cukup tiga hari

Total pelaku perjalanan akan melakukan tiga kali tes PCR. Pertama sebelum perjalanan, dua sisanya saat masuk dan akan selesai masa karantina. Dijelaskan alasan masa karantina pelaku perjalanan internasional saat ini hanya tiga hari. Sebab tiga hari sebelum perjalanan, mereka melakukan deteksi lewat tes PCR.

Berikutnya melakukan karantina. Jadi ada waktu 5-6 hari memantau dalam masa inkubasi, yang biasanya inkubasi virus terjadi 4-6 hari. Bahkan untuk varian delta, pasien dapat menularkannya saat baru saja tertular virus.

Siti Nadia menjelaskan ada syarat asal negara yang boleh masuk ke Indonesia, yakni berada di level 1 dan 2 PPKM dan tingkat positivity rate kurang dari 5%. Di dalam negeri sendiri, juga terus dilakukan pemantauan, sebab Delta bisa terus berkembang.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar