Saat Melandai, Datang Varian Baru

Ilustrasi
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Pandemi yang sedang melandai akhir-akhir ini belum menjamin amannya kesehatan publik. Justru di tengah berbagai pelonggaran aktivitas, masyarakat cenderung abaikan prokes. Belum lagi varian Delta teratasi, kini datang varian baru AY.4.2 dari Inggris dan Amerika, yang penyebarannya sudah sampai ke Malaysia.

Menko Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan  varian baru virus corona (Covid-19) yaitu AY.4.2. lebih ganas 15 persen ketimbang varian Delta sebelumnya. Varian AY.4.2 merupakan turunan virus corona varian Delta B1.167.2 yang bermutasi.  Covid-19 varian AY.4.2 sudah terdeteksi ada di Malaysia pada 2 Oktober lalu.

Varian ini telah memicu peningkatan kasus Covid-19 di Inggris, dan dikhawatirkan masuk ke Indonesia imbas pelonggaran pintu masuk penerbangan internasional ke dalam negeri. Luhut menegaskan bahwa berbagai kebijakan yang dibuat sudah menyesuaikan dengan perilaku penyebaran virus corona saat ini. Jangan ada anggapan bila pemerintah tak konsisten menerapkan kebijakannya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengklaim varian AY.4.2 belum terdeteksi di Indonesia. Akan tetapi, Kemenkes terus memantau dan mengantisipasi penyebaran varian ini.

‘’Kita perkuat pintu masuk Indonesia sebagai langkah antisipasi," kata Jubir Kemenkes Siti Nadia.

Waspadai Eforia Nataru

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sudah memonitor kemungkinan adanya varian-varian baru. Di Inggris ada satu varian yang berpotensi mengkhawatirkan, yaitu AY.4.2 yang belum masuk di Indonesia, dan terus kami monitor perkembangannya seperti apa. Varian baru ini merupakan turunan dari varian Delta ini menyebabkan peningkatan kasus konfirmasi cukup signifikan di Inggris, sejak bulan Juli sampai Oktober tahun ini. Beberapa negara di Eropa kasusnya meningkat terus.

Di samping itu pemerintah juga fokus mencegah peningkatan kasus yang berpotensi terjadi pada libur Natal tahun 2021 dan Tahun Baru 2022 mendatang. Presiden pun tak menghendaki  Natal dan Tahun Baru (Nataru)  terjadi lonjakan gelombang berikutnya. Pengendalian Covid-19 di saat Nataru ini akan sangat mempengaruhi penyelenggaraan berbagai ajang besar di tanah air.

Akan ada banyak acara penting tahun depan, seperti G20 yang sangat bergantung kepada kepercayaan pimpinan dunia bagaimana Indonesia bisa menangani kondisi [pandemi]. Kalau ada lonjakan, akan sangat mengganggu kehadiran mereka dan suksesnya acara.

Hasil monitor seluruh kabupaten dan kota di Indonesia dalam empat minggu terakhir, dibandingkan bulan Juli, memang semuanya turun. Tetapi dalam empat minggu terakhir ada 105 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang tersebar di 30 provinsi kasusnya mulai meningkat. Meskipun masih berada pada level yang terkendali dan ambang batas Badan Kesehatan Dunia atau WHO, pemerintah terus berhati-hati dan waspada. Dicoba antisipasi lebih dini agar euforia yang berlebihan membuat kita  lengah. Kenaikan kasus di 105 kabupaten/kota itu menjadi tidak terkontrol karena kenaikannya menjadi sangat tinggi.

Pelacakan (tracing) dan pengetesan (testing) terus diintensifkan.  Semua kontak erat harus dilakukan testing karena di situlah risiko terbesar dari penyebaran.  Protokol 3T-nya harus dijalankan dengan baik. Percepatan program vaksinasi nasional, terutama bagi kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) yang memiliki risiko tinggi.

Capaian Vaksinasi 182 Juta

Saat ini cakupan vaksinasi nasional telah mencapai 182 juta dosis. Dari target vaksinasi sebanyak 208 juta penduduk, sekitar 113 juta orang atau 54 persen telah menerima vaksinasi dosis pertama dan sekitar 68 juta orang atau 32 persen telah memperoleh dosis kedua. Diharapkan di akhir tahun bisa tercapai angka suntikan antara 290-300 juta [dosis] untuk 168 juta orang suntikan pertama atau sekitar 80 persen dari target populasi, dan 123 juta orang lengkap suntikan kedua atau sekitar 59 persen dari target populasi

Menkes menambahkan saat ini masih terdapat 55 juta dosis stok vaksin COVID-19 yang siap disuntikkan kepada masyarakat.  Stok vaksin yang ada sekarang 248 juta [dosis], 237 juta [dosis] sudah didistribusikan, 182 juta [dosis] sudah disuntikkan. Jadi stok di seluruh kabupaten, kota, provinsi sebesar 55 juta.

Untuk menjamin ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan, pemerintah bekerja sama dengan Merck, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, untuk mendatangkan obat Molnupiravir ke tanah air.  Kita sudah memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi bila ada potensi gelombang berikutnya. Merck diharapkan bisa membangun pabrik obatnya di Indonesia berikut bahan baku obatnya.

Kasus di Jakarta Meningkat

Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peningkatan tren kasus Covid-19 juga terjadi di 43 kabupaten/kota dalam sepekan terakhir. Kenaikan tren kematian salah satunya tercatat di DKI Jakarta. Tren kasus di Jawa-Bali terutama terjadi di 43 dari 128 kabupaten/kota atau 33,6 persen dalam 7 hari terakhir. Di Jakarta, utara, timur, barat, selatan, hampir semua trennya naik. Akan dilakukan intervensi ke seluruh daerah tersebut sehingga kasus kematian bisa menurun.

Kendati demikian, Luhut mengklaim secara umum tingkat kematian menurun sehingga jumlah pemakaman kembali normal seperti saat sebelum pandemi. Menurut laporan epidemiolog, tingkat kematian sangat turun sehingga jumlah pemakaman sama dengan sebelum pandemi.

Data Kemenkes hingga Minggu 7 November lalu terjadi 143.545 kasus kematian. Penambahan kematian hari itu hanya 11 kasus, sementara penambahan kasus positif sebanyak 444, total kasus konfirmasi menjadi 4.248.165.

Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden, kita harus betul-betul waspada dan belajar dari pengalaman negara-negara di Eropa yang mengalami lonjakan kasus harian cukup besar akibat lalainya masyarakat menerapkan protokol kesehatan.  Secara keseluruhan, ujar Luhut, PPKM yang diterapkan oleh pemerintah terus memberikan dampak positif terhadap pengendalian pandemi. Kasus konfirmasi di Jawa-Bali tercatat terus mengalami penurunan hingga mencapai 99 persen dari puncak kasus pada 15 Juli yang lalu.

Penerapan PPKM yang terus dilakukan dan dievaluasi oleh pemerintah tiap minggunya memberikan dampak yang tetap terkendali dan terus membaik, hal ini dapat terlihat dari situasi pandemi yang terus terjaga pada kondisi yang rendah. Terkendalinya pandemi di tanah air terindikasikan oleh angka reproduksi efektif (Rt) yang berada di bawah satu. Rt Indonesia dan Jawa Bali juga masih berada di bawah 1, mengindikasikan terkendalinya pandemi. Rt di Jawa tetap pada angka 0,93 sementara di Bali pada angka 0,97. Jadi Bali juga makin membaik. Tingkat kematian juga terus menurun. Rumah sakit dan tempat pemakaman semua menunjukkan angka yang bagus.

Jakarta kembali tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penambahan kasus positif  harian tertinggi di Indonesia dengan 117 kasus pada hari Minggu 7 November 2021. Jumlah ini menjadikan Jakarta sebagai satu-satunya provinsi yang mengalami penambahan di atas 100 kasus sehari berdasarkan data harian Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

Dua provinsi penyumbang penambahan kasus tertinggi setelah Jakarta yakni Jawa Barat dengan 99 kasus baru, dan Jawa Tengah dengan 37 kasus. Delapan provinsi lainnya menyumbang kasus baru dengan rentang 10-50 kasus dalam sehari. Sementara 18 provinsi lainnya penambahannya di bawah 10. Lima provinsi yakni Sumsel, Jambi, Bengkulu, Gorontalo dan Sulbar nihil penambahan kasus Covid-19 pada hari itu.

Terdapat 8 provinsi yang menyumbang kasus kematian harian, sementara 26 provinsi lainnya nol kematian alias tidak melaporkan satupun kasus kematian. Provinsi yang melaporkan kasus kematian adalah Jawa Timur dengan 3 kematian. Sulawesi Utara 2 kasus, Bali, Jateng, Lampung, Bangka Belitung, Aceh dan Sumbar dengan masing-masing 1 kasus.

Satgas Covid-19 mencatat terdapat penambahan kasus Covid-19 baru sebanyak 444 orang. Yang sembuh terdapat penambahan 587 kasus, dan 11 kasus meninggal baru. Secara kumulatif, sebanyak 4.248.165 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Dari jumlah itu sebanyak 4.093.795 orang dinyatakan sembuh, sementara 143.545 lainnya meninggal dunia.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar