Saatnya Bayu Gantikan Fosil

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Selain matahari, negeri ini juga berlimpahkan energi angin. Bagi nelayan atau pelaut, angin adalah energi utama pendorong laju perahu atau kapalnya. Pembangkit Listrik Tenaga Angin pertama kali dikenal di Persia (Iran). Kincir angin pada mulanya berbentuk seperti roda dengan dayung-dayung besar.  Setelah berabad-abad  dikembangkan orang Belanda berbentuk kincir angin yang pada waktu itu dimanfaatkan untuk menggiling jagung, memotong kayu dan memompa air. Baru pada tahun 1920-an orang Amerika memanfaatkan kincir angin untuk menghasilkan listrik bagi daerah perdesaan yang belum terjangkau listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) telah banyak dimanfaatkan di berbagai negara, terutama di negara yang anginnya cukup kencang dan teratur dalam jangka waktu yang cukup lama, seperti Denmark. Wordpress.com  menyatakan  Cina merupakan negara dengan PLTB kapasitas terbesar di dunia. Sekitar 45 GW energi yang dihasilakan dari sekitar 80 ladang kincir angin, dan mereka terus memperbanyak ladang kincir angin hingga kapasitas 100 GW pada tahun 2015. Direncanakan seluruh kebutuhan energi listrik mereka akan dipenuhi dengan PLTB pada tahun 2030.

Di samping itu, Cina juga membangun PLTB dalam skala yang lebih kecil yang dipasang pada gedung bertingkat. Di bawah Cina, ada Amerika Serikat yang mempunyai PLTB dengan kapasitas sekitar 43 GW yang dihasilkan dari 101 kincir angin. Amerika dalam waktu dekat juga akan membangun PLTB off-shore. Ladang turbin Roscoe merupakan ladang kincir angin terbesar di dunia. Total kapasitas energi yang dihasilkannya mencapai 781 MW dari sekitar 627 buah kincir angin. Berarti setiap kincir menghasilkan sekitar 1 MW energi listrik.

Di posisi ketiga ada Jerman dengan kapasitas 28 GW. Di negara ini terdapat sekitar 21.607 kincir angin yang lebih banyak terletak di off-shore. Enercon-126 merupakan kincir angin terbesar di dunia yang dibuat serta dipasang di Jerman dengan diameter rotor 126 meter dan menghasil energi sekitar 7 MW. Spanyol menduduki peringkat keempat dengan total produksi sekitar 21 GW. PLTB berkontribusi sebesar 16% dari seluruh energi listrik yang dihasilkan negara itu. Sebagian besar PLTB-nya berada di dataran perbukitan dan tidak begitu banyak yang berada di lepas pantai. Sedangkan India menempati posisi kelima di dunia dalam kapasitas kincir angin yang menghasilkan listrik dengan kapasitas sekitar 14 GW.

PLTB di India memang belum banyak berkontribusi sebagai sumber energi listrik di negara itu, cuma 1,6%. Salah satu ladang kincir anginnya terletak di Muppadal, Tamil Nadu. Kebanyakan PLTB-nya terletak di daerah pertanian dan wilayah pergunungan. Kebijakan Denmark beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya energi angin, bermula dari krisis minyak yang terjadi pada tahun 1970-an. Krisis tersebut menyebabkan harga minyak melambung tinggi. Sumber energi Denmark dan negara maju lainnya, lebih dari 90% mengandalkan minyak yang diimpor.

Bebas Energi Fosil

Denmark bertekat mengurangi konsumsi minyak dan menggantinya dengan EBT. Kebijakan tersebut berbuah manis, terbukti pertumbuhan ekonominya meningkat cukup tinggi tanpa mengandalkan energi fosil. Keuntungan lainnya kelestarian lingkungan hidup terjaga dengan baik. Sejak tahun 1980 ekonomi Denmark tumbuh dengan konsumsi energi relatif stabil dan emisi CO2 menurun. Denmark menjadi negara yang paling efisien dalam penggunaan energi di antara negara-negara anggota Uni Eropa.  Mulai bulan Maret 2012 kebijakan energi diarahkan menuju target 100% EBT pada tahun 2050. Informasi ini dimuat dalam Energy Policy in Denmark yang dipublikasikan Danish Energy Agency (DEA) pada Desember 2012.

Energi angin telah berkontribusi sekitar 50% pada tahun 2020 dalam bauran energi nasional. Dan  tahun 2050, ditargetkan bebas atau tidak lagi menggunakan energi fosil. Artinya semua pembangkit listrik menggunakan energi baru dan terbarukan.

Jika pada tahun 2014, kontribusi energi angin hanya 41%, maka angka tersebut naik menjadi 54% pada tahun 2020, dan akan naik lagi menjadi 61% pada tahun 2025. Sementara energi fosil semakin dikurangi. Jika pada tahun 2014, energi fosil masih berkontribusi sebesar 44%, maka akan berkurang menjadi 21% pada tahun 2020, dan menurun lagi menjadi hanya 10% pada tahun 2025.

Saat itulah tidak ada lagi pembangkit listrik yang digerakkan oleh energi fosil. Denmark akan sepenuhnya bergantung kepada energi baru dan terbarukan (EBT). Bila target ini tercapai, maka akan terdapat sejumlah keuntungan antara lain : bisa mandiri dalam penyediaan energi, tidak bergantung negara lain. Juga tercipta lingkungan yang sehat karena EBT adalah energi hijau atau ramah lingkungan hidup. Semuanya disediakan oleh alam di negara itu.

Dalam rangka meningkatkan kontribusi energi angin dalam bauran energi Denmark, Pemerintah tidak hanya banyak membangun kincir-kincir angin, tetapi bersama swasta juga membangun beberapa pabrik yang memproduksi mesin dan perlengkapan pembangkit listrik tenaga angin di dalam negeri, seperti Vestas dan Siemen.

Produksi kedua perusahaan besar ini telah terkenal dan banyak dipakai di seluruh dunia. Mereka memproduksi berbagai ukuran mesin dan blade (baling-baling) PLTB. Bilah (blade) terbesar yang diproduksi Siemen mempunyai panjang 80 meter.

Setiap mesin mempunyai 3 buah blade dengan total berat 35 ton, dan dapat menghasil listrik sebesar 7 MW. Jenis produksi ini lebih diutamakan untuk PLTB lepas pantai.

35 Lokasi Bagus

Seorang pakar di Denish Energy Agency (DEA) mengatakan trend sekarang adalah membangun banyak pembangkit listrik kecil di lokasi tersebar yang dekat dengan konsumen, dibanding membangun satu atau dua pembangkit besar secara terpusat.

Kebijakan serupa pasti juga bisa diaplikasikan di Indonesia yang juga mempunyai sumber energi angin cukup besar dan tersebar di berbagai daerah. Menurut hasil penelitian Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dari 166 lokasi yang diteliti, terdapat 35 lokasi yang mempunyai potensi angin yang bagus dengan kecepatan angin di atas 5 meter perdetik pada ketinggian 50 meter. Daerah pemilik kecepatan angin bagus tersebut, di antaranya Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), pantai selatan Jawa dan pantai selatan Sulawesi.

LAPAN juga menemukan 34 lokasi yang kecepatan anginnya mencukupi dengan kecepatan 4 sampai 5 meter perdetik. Potensi angin Indonesia memang cukup besar. Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mencantumkan angka 60.647,0 MW untuk kecepatan angin 4 meter perdetik atau lebih (Lampiran Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017).

Beberapa lokasi yang telah dan sedang dikembangkan menjadi PLTB, seperti di Jeneponto dan Bantul. PLTB Jeneponto berlokasi di Desa Jombe, Kecamatan Turatea, Jeneponto, akan menyumbang sekitar 70 MW ke Sistem PLN Sulselrabar. Proyek yang dikerjakan PT Energi Angin Indonesia ini memiliki kapasitas total 162,5 MW dari 65 unit turbin. Namun baru 70 MW yang sudah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN Sulselrabar pertengahan tahun 2017. Energi listrik ini akan dialirkan ke sistem transmisi 150 KV meliputi Palu-Mamuju, Wotu-Masamba dan Sengkang-Siswa. Setelah masuk dalam sistem, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, baik di daerah perkotaan maupun daerah terpencil .

Sementara PLTB Bantul merupakan PLTB terbesar di Indonesia dan merupakan bagian dari Program Infrastruktur Ketegalistrikan (PIK) yang lebih dikenal dengan Program Listrik 35 Ribu MW. Dengan 30 turbin angin yang akan dipasang, nantinya bisa dipanen 50 MW listrik. Proyek yang terletak di pantai Samas ini ditargetkan bisa rampung pada tahun 2018 mendatang, dengan nilai investasi sekitar Rp 2 triliun. Lokasi PLTB lainnya terletak di Bangka Belitung, Bali, dan Nusa Penida masing-masing sebanyak 1 unit, Pulau Selayar sebanyak 3 unit, dan di Sulawesi Utara sebanyak 2 unit (status 2007). Masih akan dibangun PLTB lainnya di berbagai daerah, seperti Sukabumi Jawa Barat.

Banyak Manfaat

Rencana Pemerintah membangun lebih banyak PLTB ini akan membawa banyak manfaat. Dikutip dari setkab.go id, berbagai manfaat itu adalah:

Pertama, PLTB tidak membutuhkan sumber energi fosil yang harganya cukup mahal dan akan habis pada waktu tertentu. Apalagi Indonesia sekarang telah menjadi net importir BBM.

Kedua, PLTB adalah salah satu energi hijau (ramah lingkungan), sehingga sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan dan pengurangan karbon di udara. Pada saat ini semakin banyak dan semakin gencar masyarakat atau LSM menyuarakan penggunaan energi hijau.

Ketiga, bisa dibangun di tengah laut sehingga tidak perlu pembebasan lahan. Sebagaimana diketahui bahwa pengadaan lahan ini telah menjadi persoalan yang pelik di sejumlah daerah.

Keempat, bisa dibangun di remote area, sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di pelosok tanah air, termasuk di daerah terluar, tertinggal dan terpencil. Ini dapat meningkatkan rasio elektrifikasi nasional dan pemerataan penyediaan listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia, dimanapun domisilinya.

Kelima, biaya produksinya kompetitif, sekitar 6 sen USD per kwh di Denmark. Perkembangan teknologi membuat harga energi listrik dari EBT semakin murah dan mampu bersaing dengan listrik dari energi fosil. Keberhasilan Denmark dalam pengembangan EBT, terutama PLTB karena didukung oleh kebijakan Pemerintah Denmark yang mampu menciptakan iklim investasi yang baik dan sistem yang kompetitif, sehingga invenstasi dan biaya produksinya bisa lebih murah.

Demi tercapainya keberhasilan pengembangan EBT di negara ini, maka Pemerintah bersama pihak terkait perlu bahu membahu untuk menciptakan iklim investasi yang baik dan sistem yang kompetitif, demikian setkab.go.id.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar