Mineral Mentah Kini Diolah

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Mulai tahun depan, kita sudah stop mengekspor mineral mentah (bijih). Ini capaian penting dan mendasar  terhadap potensi bahan-bahan tambang dan mineral kita, yang selama ini dijual ke luar negeri dalam bentuk bijih (bahan mentah) tak terolah.  Kini dengan mengolahnya, nilai tambah komoditas ini akan dinikmati di dalam negeri.

Prestasi ini disampaikan  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang memastikan tidak ada lagi ekspor mineral mentah tahun 2022. Penghentian ekspor tersebut seiring dengan beroperasinya fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Seharusnya pelarangan ekspor mineral mentah dilakukan 5 tahun sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang minerba dilakukan. Namun karena fasilitas smelter belum memadai, industri pertambangan belum siap melaksanakannya, sehingga pelarangan ini diundur sampai 2022.

Produk mineral hasil pemurnian nantinya dapat diserap industri logam hilir dalam negeri‎, sehingga tidak perlu lagi impor bahan baku. Kita dapat menghasilkan produk setengah jadi, dari komoditas tembaga, nikel, alumina, besi, timah, emas, perak guna melengkapi seluruh rantai pasokan industri dalam negeri.

Tahun depan sudah ada 41 unit smelter yang beroperasi‎, terdiri dari smelter nikel 22 pabrik, bauksit enam pabrik, besi empat pabrik, timbal dan seng empat pabrik, tembaga dan lumpur anoda masing-masing dua pabrik dan mangam satu pabrik smelter. Sedangkan saat ini, ada 20 smelter yang telah beroperasi di Indonesia terdiri dari smelter tembaga, nikel, bauksit, besi dan mangan. Masih dibutuhkan smelter besi.

Lima SmelterBaru

PT Smelting menjadi pabrik pengolahan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Fasilitas ini menggarap tembaga olahan (konsentrat tembaga) dari tambang Freeport Indonesia di Papua.

Presiden Direktur Smelting, Hiroshi Kondo mengatakan,  Smelting merupakan fasilitas peleburan tembaga pertama di Indonesia, menghasilkan beberapa jenis produk tembaga.

Sebagai peleburan tembaga pertama, kegiatan Smelting dijanjikan tidak akan membahayaan lingkungan. Pabrik baru yang sedang mulai dibangun di Kawasan Smelter Smelting ‎Gresik, Jawa Timur, ini hari Selasa 12 Oktober 2021 diresmikan Presiden Joko Widodo.

Senior Manager Technical Eksternal Smelting, Bouman T Situmorang ‎mengatakan, dari proses pemurnian ‎konsentrat tembaga di Smelter Smelting, dihasilkan katoda tembaga katoda tembaga, terak tembaga dan lumpur tembaga. Tahun ini 57 persen diekspor, sedangkan sisanya diserap industri dalam negeri, seperti kawat dan kabel.

Dari beberapa jenis produk yang dihasilkan, lumpur katoda menjadi bahan baku emas dan perak.

Namun, Smelting terpaksa harus menjual seluruh lumpur anoda ke luar negeri di antaranya Jepang dan Korea, karena industri dalam negeri belum ada yang mampu mengolah menjadi emas dan perak.

https://newrevive.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=3085&loc=https%3A%2F%2Fwww.cnbcindonesia.com%2Fnews%2F20200124122350-4-132438%2F4-smelter-bakal-mulai-beroperasi-di-2020&referer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&cb=efb7eaf525Dalam rangka mendorong hilirisasi, Kementerian ESDM terus mendorong pembangunan lima  smelter tahun ini, kata Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak. Kelima smelter tersebut terdiri  2 proyek nikel, 1 timbal, 1 mangan, dan satu lagi nikel namun baru selesai 1 line dari target 2 line.

Lima smelter yang akan dibangun itu :

Pertama, proyek smelter nikel PT Antam Tbk berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan kapasitas input 1,21 juta ton dan kapasitas produksi 64,65 ribu ton feronikel (FeNi) per tahun.

Kedua, proyek smelter nikel PT. Arthabumi Sentra Industri di Morowali, Sulawesi Tengah. Kapasitas inputnya mencapai 720.000 ton dan kapasitas produksi 72,96 ribu ton Nikel Pig Iron (NPI) per tahun.

Ketiga, proyek smelter timbal PT Kapuas Prima Coal di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kapasitas input mencapai 36.000 ton dan produksi sebesar 22,92 ribu ton pb bullion per tahun.

Keempat, proyek smelter nikel PT Elit Kharisma Utama di Cikande, Banten dengan kapasitas input untuk dua line sebesar 1,2 juta ton dan total kapasitas produksi dua line 97,45 ribu ton Nikel Pig Iron (NPI) ton per tahun.

Smelter Nikel di Sulawesi

Pemerintah juga akan membangun pabrik smelter nikel di Sulawesi, untuk hilirisasi bahan baku biji nikel sebagai barang jadi. Pemerintah memberikan berbagai fasilitas perizinan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Beberapa smelter di antaranya, Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe dan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. 

Kabupaten Kolaka menjadi salah satu lumbung Nikel Indonesia. Smelter PT CNI membuka hilirisasi nikel yang akan menghasilkan nilai tambah dan mendorong percepatan ekonomi daerah. Paling penting industri ini menciptakan lapangan kerja lebih 4.000 orang yang terserap saat sudah beroperasi. Deputi Direktur PT CNI Djen Rizal menjelaskan saat ini perusahaan sedang membangun pabrik pengolahan bijih Nikel Saprolit dengan teknologi RKEF. Pembangunan dilakukan oleh konsorsium BUMN China ENFI dan BUMN Indonesia PT Pembangunan Perumahan (PP) di mana masing-masing merupakan BUMN yang terkemuka dalam bidangnya. Untuk produksi, rencana 252.000 ton per tahun Ferronickel (FeNi) 22 persen Ni. 

PT CNI juga akan membangun pabrik pengolahan bijih Limonit dengan teknologi HPAL yang akan mengolah 6,8 juta ton bijih pertahun dengan rencana produksi lebih dari 103 ribu ton MHP per tahun (40.050 ton Nikel dan 4.118 ton Cobalt). Kapasitas listrik yang dibutuhkan sebesar 350 MW dengan umur pabrik diperkirakan lebih dari 20 tahun operasi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan 52 fasilitas pemurnian alias smelter rampung pada tahun 2024. Smelter paling banyak adalah untuk pengolahan nikel.

"Kita punya target sampai tahun 2024 itu sebesar 52 smelter," kata Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono di kantornya, Kamis (12/3/2020).

Ia merinci sebanyak 52 smelter tersebut antara lain adalah tembaga 4 smelter, nikel 29 smelter, bauksit 9 smelter dan besi 4 smelter. Kemudian, mangan 2 smelter, timbal dan seng 4 smelter.

Dikatakan, progres smelter saat ini 30-40%. Di mana, smelter nikel yang paling banyak diharapkan selesai 2023. Sampai saat ini rata-rata pembangunannya 30-40% . Diharapkan selesai 2022 atau 2023 awal. Akibat pandemi, sebagian pekerja asal China pada pembangunan smelter di Sulawesi Tenggara, yang pulang kampung tak bisa kembali ke Indonesia.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00