Eropa Dikendalikan Rusia

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Di tengah krisis energi yang melanda Eropa. baik Rusia maupun Eropa saling lempar kesalahan dan menuduh biang kerok melonjaknya harga gas alam . Keduanya saling tuding. Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam pidatonya mengatakan bahwa krisis energi yang terjadi di Inggris dan sebagian Eropa saat ini, adalah kesalahan dari kebijakan benua biru tersebut.  Putin menilai salah satu faktor yang mempengaruhi harga adalah kebijakan kontrak jangka panjang Eropa yang menguntungkan pasar spot. Eropa telah membuat kesalahan, kata Putin dikutip dari The Moscow Times.

Sebaliknya, Eropa justru menganggap Rusia adalah penyebabnya. Mereka menuduh Moskow menahan supplai gas dengan dugaan tujuan politis untuk 'menekan Barat'.  Ini alasan Rusia yang notabene merupakan pemasok gas alam terbesar di Eropa sebesar 40an persen, dituduh membatasi aliran dan memanipulasi harga. Para pejabat Uni Eropa bahkan menuduh perusahaan Gazprom Rusia bermain harga untuk menekan Eropa agar mengaktifkan proyek pipa gas Nord Stream 2.

Nord Stream 2 merupakan proyek kerjasama gas alam antara Rusia-Jerman yang menjalar di dasar Laut Baltik. Namun proyek ini dihentikan Jerman mengingat sanksi mitra strategis Uni Eropa dan Amerika Serikat terhadap Rusia. Amerika Serikat juga sempat mengingatkan Eropa terkait proyek ini yang dinilai dapat meningkatkan ketergantungan Eropa atas pasokan energi Rusia.

Tentu saja tuduhan tersebut dibantah Rusia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Rusia sama sekali tidak ada peran dalam menyebabkan lonjakan harga gas alam di Eropa. Menurut dia beberapa alasan di balik krisis gas alam di Eropa yaitu pemulihan ekonomi yang lambat, pertumbuhan permintaan energi, dan pasokan yang tidak terisi cukup baik, kata Dmitry Peskov, dilansir Reuters.

Kedinginan di Rumah

Jutaan orang di Eropa pada musim dingin sebentar lagi,  diprediksi tidak mampu membuat rumah mereka hangat, akibat  lonjakan harga gas dan listrik. CNN melaporkan, sekitar 80 juta rumah tangga di Eropa berupaya menjaga rumah mereka cukup hangat. Adanya pandemi dan kenaikan harga membuat lebih banyak rumah tangga terancam putus jaringan listrik dan gas karena tidak dapat membayar tagihan. Banyak warga Eropa mengalami turun pendapatan sedangkan tagihan justru meningkat selama pandemi.

Pandemi memperburuk masalah sebab orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, meningkatkan konsumsi energi mereka. Pada saat yang sama, harga energi meningkat karena pemasok gas sedang mengisi kembali stok yang terkuras oleh permintaan tinggi untuk pemanas musim dingin lalu dan penyejuk udara selama musim panas. Kelangkaan itulah yang mendorong kenaikan harga.

Diperkirakan jutaan orang akan mengalami krisis energi yang membuat banyak orang tidak dapat mengakses jaringan listrik dan gas karena tidak mampu membayar tagihannya. Antara 20% dan 30% populasi Eropa menghadapi kemiskinan umum, sementara hingga 60% menderita kemiskinan energi di beberapa negara.

Guna mengatasi permasalahan ini, beberapa solusi dikemukakan antara lain Uni Eropa harus membuat undang-undang larangan pemasok memutuskan rumah tangga dari sumber energi mereka. Hanya dengan mengurangi ketergantungan pada gas dan memperkenalkan lebih banyak energi terbarukan dapat menjinakkan lonjakan harga dalam jangka panjang. "Kita harus melihat akses ke energi sebagai hak asasi manusia dengan cara yang sama seperti kita melihat akses ke air sebagai hak asasi manusia," kata Martha Myers, juru kampanye keadilan iklim dan energi.

Dikendalikan Rusia

Sebagian  ahli berpendapat Eropa sekarang sebagian besar berada di bawah kendali Rusia dalam hal energi, seperti yang sudah diperingatkan Amerika Serikat (AS). Kontrak gas alam mencapai level tertinggi baru di Eropa pada minggu ini dan harga patokan regional naik hampir 500 persen di sepanjang tahun ini. 

Mengutip CNBC International, harga bergerak naik-turun, dan mencapai level tertinggi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan peningkatan pasokan gas Rusia ke Eropa. Langkah itu menunjukkan bahwa Eropa semakin rentan terhadap Rusia, yang sedang menunggu Jerman untuk mengesahkan proyek pipa gas Nord Stream 2 yang kontroversial yang akan membawa lebih banyak gas Rusia ke Eropa melalui Laut Baltik.

Pipa senilai USD11 miliar itu sekarang telah diselesaikan dan sangat mengganggu AS yang telah lama menentang proyek tersebut. AS juga memperingatkan bahwa pipa tersebut membahayakan keamanan energi Eropa. Sedangkan Rusia dapat menggunakan pasokan energi sebagai perluasan pengaruh.  Presiden AS, Joe Biden  mengumumkan sanksi terhadap perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut. Tetapi sanksi ini akhirnya dicabut AS untuk membangun kembali hubungan dengan Jerman.

Di tengah kemelut ini aksi pemilik mobil listrik Tesla mengejek mobil lain yang mengantre bbm di Pom Bensin sempat viral. Kelakuannya bikin geleng kepala dan bernada mengejek. Dikutip dari Carscoops, seorang pengemudi Tesla membuat video TikTok yang isinya mengejek para pemilik kendaraan berbahan bakar minyak yang antre di SPBU. Hal ini memicu kemarahan masyarakat dan netizen di Inggris.

Dalam pengakuannya, pengemudi itu mengaku cuma iseng membuat video tersebut. Kejadian itu berawal ketika dirinya yang akan bekerja dan melihat antrean panjang di pom bensin.

Tiba-tiba, dia berhenti dan seolah-olah ingin mengisi bahan bakar dengan membawa derigen hijau sambil jalan kaki ke pom bensin. Video itu akhirnya menuai protes netizen. Saat ini Inggris sedang mengalami krisis kekurangan sekitar 100 ribu pengemudi truk. Bukan hanya bensin, kondisi itu juga memengaruhi pasokan makanan dan barang lainnya di seluruh negeri.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar