Beruntung Bali Punya Subak

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Sejauh era reformasi berjalan, pertanian kita seolah terabaikan. Atmosfer kehidupan didominasi pergulatan politik dan pilkada dan pilpres yang bertubi-tubi. Kekuatan pertanian melemah seiring melemahnya perhatian terhadap irigasi dan ketersediaan air. Berbagai fasilitas rusak karena tak terawat. Sebagian lagi lenyap oleh ekspansi permukiman baru.

Kondisi bendungan maupun irigasi sangat  butuh perhatian. Pasalnya, banyak bendungan yang dibangun pada 1970 dan 1980 an perlu rehabilitasi. Pembangunan infrastruktur sumber daya air baik irigasi dan bendungan memang sudah lama, dan hingga kini masih terus berlanjut. Tapi operasional dan pemeliharaan masih kurang. Diperlukan komitmen pemerintah pusat maupun daerah, tidak hanya didukung di belakang meja tapi juga di lapangan. Salah satunya Jateng yang bisa jadi contoh  daerah lain.

Selain komitmen pimpinan daerah, juga diperlukan kualitas sumber daya manusia yang andal. Lomba Operasional dan Pemeliharaan Daerah Irigasi Teladan diharapkan menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas kinerja SDM sumberdaya air.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP sepakat, irigasi dan bendungan memang mesti mendapat perhatian. Sebab, air adalah sumber kehidupan. Apalagi, berdasarkan polling kecil yang dilakukannya lewat twitter, diketahui pembangunan irigasi dan infrastruktur menjadi keinginan utama masyarakat untuk diwujudkan.

“Saya polling lewat twitter,  pertanyaannya, kalau punya dana desa, apa yang Anda bangun? Kantor desa, SDM, irigasi dan infrastruktur, atau BUMDes. Yang tertinggi ternyata irigasi dan infrastruktur,” tambah Ganjar kepada Kompas.com.

Meski masyarakat menyadari bahwa air sangat dibutuhkan, namun itu tidak diiringi dengan kesadaran menjaga kelestarian air. Banyak perilaku buruk yang diterima air, seperti ditimpuk  sampah dan dikotori hajat di sungai.Mengubah perilaku terhadap sungai itu upaya yang luar biasa sulit. Maka diharapkan kita bersikap ideologis pada air, sungai dan sumber daya air dalam arti luas. Air mempunyai siklus yang tidak bisa dipotong dalam pengelolaannya. Ketika waduk kering, bisa dipastikan ada persoalan di bagian hulunya, apakah penggundulan hutan, sedimentasi, atau perlakuan tidak baik yang lain.

‘’Secara kultural, daerah-daerah memiliki beragam kearifan dalam mengelola air. Dulu ada jabatan pengatur air. Ulu-ulu namanya. Barangkali nanti bisa berbagi. Yang di Kalimantan apa, di Sumatera apa. Pasti ada. Itulah kearifan lokal yang ingin saya hidupkan kembali,” katanya.

Ganjar berpendapat, kearifan lokal dalam mengelola air diperlukan mengingat tidak semua pangkal persoalan mengenai air merupakan problem teknis. Pengelolaan air dengan kearifan lokal tetap perlu dijaga. Sebab hal itulah yang paling bijaksana, meskipun tetap tidak melupakan rekayasa pengelolaan modern.

Memahami Subak?

Salah satu tata kelola air untuk pertanian yang melekat dengan tradisinya adalah ‘Subak’ di Bali. Tradisi masyarakat Bali ini merupakan pola pengelolaan pengairan untuk sawah-sawah di Bali yang telah berlangsung sejak nenek moyang. Pada tahun 2012, Unesco mengakui lanskap kultur Provinsi Bali yang dipengaruhi oleh subak sebagai Situs Warisan Dunia. Sistem irigasi subak, bisa dibilang sebagai wujud rasa gotong royong yang diturunkan para pendahulu hingga sekarang. Disayangkan  eksistensi subak mulai mengalami gangguan. Banyak pemilik sawah menjual sawahnya dan lahan pun beralih fungsi menjadi hotel.

Subak dianggap sebagai cerminan filosifi kuno Bali Tri Hita Karana yang secara longgar diartikan sebagai "Tiga hal yang sebabkan kesejahteraan". Prinsip ini merupakan cara masyarakat Bali menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga keharmonisan hubungan antara sesama manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam sekitar.

Dalam sistem subak, sebuah lahan sawah tidak bisa berdiri sendiri. Semua sawah berada dalam satu kesatuan. Bila salah satu area mengalami disrupsi atau gangguan, maka sawah lainnya juga akan terganggu.Aliran air nya alami memanfatkan mata air di sekitar area sawah, dan aliran sungai.

Sistem subak sepenuhnya diatur masyarakat  tanpa campur tangan pemerintah. Terdapat petugas khusus yang dikenal dengan nama ‘’kelian’’. Tugasnya melakukan pembagian air sehingga para petani bisa memperoleh air secara adil. Kelian juga memiliki tugas penting dalam menjaga hubungan sosial antara masing-masing pemilik lahan sawah.

Organisasi subak juga mengenal adanya beberapa perangkat, yaitu pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa yang lainnya. Dikenal pula adanya sub-kelompok yang terdiri dari 20-40 petani yang disebut munduk, yang diketuai oleh seorang pengliman.

Dalam kajian sejarah, diperkirakan sistem subak dikenal sejak abad ke-11 Masehi. Pendapat ini berdasarkan  temuan Prasasti Raja Purana Klungkung (994 Saka/1072 M). Disebutkan kata "kasuwakara" yang diduga merupakan asal kata dari "suwak" yang kemudian berkembang menjadi "subak’’

Sumber lain mencatat subak adalah kata yang berasal dari bahasa Bali. Pertama kali muncul dalam prasasti Pandak Bandung yang berangka tahun 1072 M, kata subak mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, mempunyai pengaturan tersendiri,  demokratisasi petani dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi. Subak bagi masayarakat Bali juga merupakan filosofi kehidupan bagi rakyat Bali itu sendiri.

Subak mampu bertahan selama satu abad lebih karena masyarakatnya setia kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil, segala masalah dibicarakan bersama, bahkan sampai penetapan waktu tanam dan jenis padinya.

Unesco akhirnya mengakui Subak sebagai Warisan Budaya dunia. Pengakuanini diperjuangkan  selama 12 tahun. Pada 29 Juni 2012 dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Peterburg, Federasi Rusia, pengusulan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia disetujui dan ditetapkan.  Subak mengatur 20.000 ha terdiri atas lima kabupaten, yaitu kabupaten Bangli, Gianyar, Badung, Buleleng, dan Tabanan.

Subak berhasil mempertahankan pertanian di Bali, di tengah gempuran pandemi berkepanjangan. Namun Bali sudah telanjur ditimang kelezatan pariwisata. Maka ketika pariwisata ambruk, Bali sulit memanfaatkan kekuatan pertaniannya. Salah satu penyebabnya, lahan sawahnya sudah berubah jadi kerumunan properti. Bali agaknya juga kurang siap melakukan perubahan cepat dari industri jasa wisata, menuju pertanian maju. Untung masih ada Subak.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00