Patahkan Status Tadah Hujan

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Membangun pertanian tak bisa lepas dari kesiapan infrastrukturnya, terutama waduk, bendung, dam, atau bentuk manajemen pengairan yang memadai. Bertahun lamanya lahan pertanian kita sangat bergantung kepada cuaca. Sawah dan ladangnya tak beringsut dari status tadah hujan. Belum sepenuhnya dikelola secara intensif sehingga panennya tidak mengenal musim. Di saat pandemi covid19 meluluh-lantak segala sumber ekonomi negara, pertanian tampil sebagai penyelamat. Sifatnya yang padat karya, meluas di berbagai wilayah, pertanian juga menjadi tulang punggung ketahanan dan kemandirian pangan.

Era Jokowi adalah yang paling banyak membangun jalan tol dan berbagai infrastruktur transportasi. Banyak pelabuhan dibangun, bandara kecil maupun besar dikembangkan, rel kereta api diperluas. 

Dan yang tak kalah strategis adalah bendungan-bendungan baru berikut jejaring irigasinya.

Dalam enam tahun pemerintahan Joko Widodo telah dibangun 65 bendungan di seluruh tanah air. Dari jumlah itu ditargetkan 61 bendungan selesai hingga akhir 2024. Bendungan Tukul di Pacitan, Jawa Timur adalah bendungan ke-18 yang sudah selesai dan diresmikan tahun ini.

Pekan depan akan diresmikan lagi beberapa bendungan yakni Bendungan Napun Gete di Nusa Tenggara Timur (NTT), Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, dan Bendungan Sindangheula di Provinsi Banten.

Kemudian, empat bendungan di Jawa Timur yang saat ini dalam tahap pembangunan adalah Bendungan Tugu dan Bendungan Bagong di Kabupaten Trenggalek, Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro, Bendungan Semantok di Kabupaten Nganjuk. Bendungan Tugu dan Gongseng dijadwalkan selesai dan diresmikan tahun ini.

Bendungan Tukul di Pacitan sudah dimulai enam tahun lalu dengan biaya Rp 934,8 miliar dan akhirnya rampung.

Kini direncanakan pula pembangunan empat bendungan baru tahun depan. Bendungan yang dibangun dalam rangka penguatan infrastruktur ketahanan SDA tersebut berlokasi di tiga provinsi.

Jateng bakal punya bendungan tertinggi di Indonesia, yaitu di Desa Guntur, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Selain itu Jateng juga mendapat  Bendungan Kedung Langgar dan Cabean. Bendungan lain yang disiapkan adalah Riam Kiwa di Kalimantan Selatan serta Bendungan Kolhua di Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini didanai APBN yang dialokasikan Kementerian PUPR pada tahun anggaran 2022.

Anggaran Rp 41 triliun

Ditjen SDA sendiri mendapatkan total alokasi pagu anggaran tahun 2022 sebesar Rp 41,04 triliun, terdiri dari Rp 38,58 triliun untuk ketahanan SDA dan Rp 2,45 triliun untuk dukungan manajemen. Sebesar Rp 11,35 triliun akan dialokasikan untuk melanjutkan 34 bendungan, pembangunan 4 bendungan baru, dan revitalisasi 3 danau prioritas. Rencana program prioritas  lainnya di antaranya sektor irigasi dan rawa yaitu pembangunan jaringan irigasi seluas 5.000 hektar dan rehabilitasi jaringa irigasi seluas 100 ribu hektar dengan alokasi anggaran sebesar Rp 5,50 triliun. Ditjen SDA juga mengalokasikan Rp 2,03 triliun untuk penyediaan air baku melalui peningkatan kapasitas air baku sebesar 1,5 m3/detik, pembuatan simpanan air hujan di 550 lokasi dengan pola padat karya, pembangunan 8 embung pada daerah sulit air, dan pemanfaatan bendungan yang sudah selesai dibangun.

Kemudian rencana pengendalian dam rusak dengan alokasi Rp 7,32 triliun; pengendalian banjir sepanjang 60 km dan pengamanan pantai sepanjang 40 km, serta pembangunan dua check dam pada wilayah sungai  prioritas. Program lainnya tahun 2022 meliputi operasi dan pemeliharaan sebesar Rp 8,63 triliun, pengadaan lahan sebesar Rp 3,09 triliun, pengendalian Lumpur Sidoarjo sebesar Rp 270 miliar, serta dukungan manajemen sebesar Rp 2,84 triliun. Ditjen SDA juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4,85 triliun untuk progam padat karya bidang sumber daya air.

Selama enam tahun ini telah dibangun sebanyak 65 bendungan di seluruh tanah air. Beberapa sudah diresmikan seperti Bendungan Raknamo dan Rotiklot di NTT dan Bendungan Tukul di Jatim.

Bendungan Tukul,  akan berperan penting untuk pengendalian banjir, mengairi sawah, air irigasi, dan penyediaan air baku yang mampu menyediakan pasokan air sekitar 300 liter per detik bagi masyarakat Pacitan. Bendungan ini bisa memberikan manfaat mengairi 600 hektare sawah sehingga meningkatkan  tanam padi dan palawija menjadi dua kali lipatnya.

Basuki Hadimuljono mengatakan potensi air di Indonesia cukup tinggi sebesar 2,7 triliun m3/tahun. Dari volume tersebut, air yang bisa dimanfaatkan sebesar 691 miliar m3/tahun. Kini sudah dimanfaatkan sekitar 222 miliar m3/tahun untuk berbagai keperluan seperti kebutuhan rumah tangga, peternakan, perikanan dan irigasi. Pada musim hujan air akan ditampung dalam bendungan dan akan dimanfaatkan pada musim kemarau. Dengan selesainya 18 bendungan tersebut, suplai irigasi bertambah menjadi 116.162 Ha dan air baku sebesar 7,29 m3/detik. Pengelolaan sumber daya air dan irigasi melalui pembangunan bendungan akan terus dilanjutkan. Ditargetkan  61 bendungan baru diselsaikan hingga 2024, sehingga akan menambah tampungan air 3.836,38 juta m3.

 

Irigasi Dibenahi

Kementerian ini melanjutkan dukungan ketahanan pangan dan ketersediaan air secara nasional. Diwujudkan rehabilitasi irigasi serta pembangunan embung, sumur air tanah, dan bendungan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2021. Permasalahan ketahanan pangan di NTT masih tetap sama yaitu masalah air. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dilakukan guna menunjang produktivitas, sekaligus pulihkan perekonomian masyarakat terdampak pandemi. Pembangunan bendungan diikuti oleh pembangunan jaringan irigasinya.

Disiapkan anggaran Rp 24,76 miliar untuk membangun Daerah Irigasi Baing (Tahap II) seluas 100 hektar. Ini merupakan pembangunan lanjutan jaringan irigasi dalam mendukung program food estate di NTT yang pada 2020 telah membangun 4 Daerah Irigasi (DI) dengan anggaran sebesar Rp 82,28 miliar, yakni, DI Kodi seluas 700 hektar, DI Baing (Tahap I) seluas 14 hektar, DI Wae Laku dan Wae Dingin seluas 125 hektar, dan DI Raknamo seluas 250 hektar.

Tidak hanya membangun jaringan irigasi baru, dilakukan juga rehabilitasi irigasi pada 8 DI dengan nilai anggaran Rp 119,5 miliar yang meliputi DI Nggorang, DI Lembor, DI Netemnanu, DI Tilong, DI Satarbeleng, DI Wae Dingin, DI Mbay Kanan, dan DI Nebe. Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga ikut membangun prasarana air baku dgn pompa hidran dan jaringanya sebanyak 89 titik . Hingga saat ini sudah ada 49 embung dengan air baku sebesar 202 liter/detik dan 478 sumur air tanah dengan air baku sebesar 716 l/detik yang berpotensi melayani jaringan irigasi ke lahan pertanian seluas 12,864 ribu hektar.

Sejak tahun 2014 telah dibangun 6 buah bendungan di NTT sebagai pemasok air untuk irigasi dan penyediaan air baku. Saat ini terdapat 3 bendungan yang selesai dan telah beroperasi diantaranya, Bendungan Raknamo dengan kapasitas tampung air sebesar 14,09 juta m3, Bendungan Rotilot dengan kapasitas tampung air sebesar 2,90 juta m3, dan Bendungan Napungete dengan kapasitas tampung air sebesar 11,22 juta m3.

Tiga bendungan lainnya masih dalam tahap pembangunan dan diharapkan selesai semua pada tahun 2024. Bendungan-bendungan tersebut yakni Bendungan Temef di kabupaten Timor Tengah Selatan, Bendungan Manikin di kabupaten Kupang, dan Bendungan Mbay di kabupaten Nagekeo.

Seluruh bendungan tersebut berpotensi mereduksi banjir di NTT sebesar ± 1,915 meter kubik per detiknya serta penggerak untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan daya sebesar 2,575 megawatt.

Dengan tambahan 65 bendungan baru dan jejaring irigasinya, pertanian kita bertekat mematahkan status lahan-lahan tadah hujan, menuju panen sepanjang musim.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00