Akankah Kratom Segera Tamat?

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Meski menguntungkan petani, nasib dan kisah indah daun kratom agaknya segera tamat. Dilema ini tak mudah dipecahkan di saat warga beroleh manfaat secara ekonomi, dan mungkin juga kesehatan, pemerintah justru resmi melarang penggunaandan perdagangannya. Tidak adakah ‘jalan tengah’ yang bisa diterima?

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Palangka Raya, Trikoranti Mustikawati menegaskan sekali lagi bahwa larangan menggunakan kratom sudah dikeluarkan BPOM Pusat, karena kratom dianggap berbahaya sebagai campuran obat. Website Badan POM menyebutkan  terdapat pelarangan penggunaan mitragyna speciose (Kratom) dalam obat tradisional dan sumplemen kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.23.3644 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen Makanan pada Lampiran 3 serta Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Mitragyna speciosa (Kratom atau ketum) termasuk ke dalam daftar bahan yang dilarang digunakan dalam suplemen makanan dan obat tradisional.

Mitragyna speciosa mengandung alkaloid mitragyine yang pada dosis rendah mempunyai efek sebagai stimulant. Sedangkan jika pada dosis tinggi dapat memiliki efek sedatif-narkotika. BPOM tidak pernah memberikan persetujuan izin edar terhadap produk obat tradisional atu suplemen makanan yang mengandung Mitragyna speciose atau kratom. ‘’Kalau sudah ada pelarangan tentunya itu berbahaya," ujar Trikoranti. Polresta Palangka Raya pun menahan dua truk berisi total 12 ton Kratom dari Kalimantan Timur. Rencananya kratom tersebut akan dikirim ke Kalimantan Barat dan selanjutnya diekspor keluar negeri.

Pegangan Jelas

Sebagai leading sector bidang narkotika, BNN perlu segera mengundang instansi terkait--seperti Kementerian Kesehatan, BPOM, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, BPPT, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)--untuk membahas problematika kratom agar masyarakat mendapat pegangan yang jelas. Jika selama ini tidak ada regulasi yang melarang, apakah ke depan larangan penggunaan kratom perlu dimasukkan dalam daftar narkotika golongan 1 oleh Kementerian Kesehatan? Masalah sosial, khususnya di daerah penanaman kratom perlu diperhatikan dan dicarikan jalan keluar.

Di Indonesia, informasi tentang bahaya kratom masih sangat terbatas. Meski BNN telah mengindikasikan kratom ke dalam kelompok NPS4, tetapi kratom masih legal ditanam dan diperjualbelikan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika tidak memasukkan kratom sebagai narkotika.

Karena memberikan efek morfin yang merusak kesehatan manusia, kratom (mitragyna speciosa Korth) harus dilarang, mulai dari budidaya hingga peredaran di masyarakat. Meski tanaman asli Indonesia ini bisa beredar dan tidak ada larangan dari Kementerian Kesehatan, daya rusak kratom disebut jauh lebih besar dibanding manfaat yang diberikan. Kratom termasuk golongan new psychoactive substances (NPS) atau narkotika jenis baru.

Koordinator Tim Ahli Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol (Pur) Ahwil Luthan mengatakan kratom mengandung hidroksimitraginin dan memberikan efek jauh lebih kuat daripada morfin. Pada dosis rendah, kratom memberikan stimulasi pada otak manusia. Namun, pada dosis tinggi, kratom memberikan efek narkotik menyerupai morfin.

Selain di Kalimantan Barat, tanaman khatulistiwa ini dibudidayakan juga oleh para petani di wilayah lain di Kalimantan dan berbagai belahan bumi. Jika pada masa lalu, kratom hanya dikonsumsi terbatas oleh masyarakat setempat sebagai obat, sejak era narkotika merebak di seluruh dunia, tanaman ini pun memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Para petani menanam kratom untuk mencari keuntungan. Serbuk kratom yang sudah dikeringkan laris-manis. Permintaan pun datang dari luar negeri, terutama Eropa dan Amerika Serikat.

Gantikan Karet

Kratom merupakan tanaman tropis dari famili Rubiaceae yang berasal dari Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Filipina) dan Papua Nugini. Kratom juga banyak tersedia di Amerika Serikat dan Eropa. Berawal sebagai tumbuhan liar, kratom kemudian dikembangbiakkan sebagai obat berkhasiat. Di Kalimantan, kratom banyak digunakan oleh pengobat tradisional.

Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, misalnya, mendorong masyarakat untuk menanam kratom menggantikan tanaman karet yang harganya terpuruk.

Data yang dihimpun Beritasatu.com menunjukkan, harga bubuk daun kratom sekitar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per kilogram. Konsumen bisa mendapatkan produk ini lewat berbagai e-commerce, seperti Tokopedia dan Bukalapak. Komoditas ini masih bebas ditanam, meski dianggap  ilegal di banyak negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Australia. Pada beberapa negara, yaitu Denmark, Jerman, Finlandia, Rumania, dan Selandia Baru, penggunaan kratom dikendalikan dan dimasukkan dalam schedule 1 drug. Namun, kratom ‘’termasuk legal’’ di Indonesia, Inggris, Austria, Belgia, Yunani, Brazil, Hungaria, Irlandia, Belanda, dan Amerika Serikat, kecuali pada beberapa negara bagian, yaitu Alabama, Arkansas, Indiana, Tennessee, Vermont, dan Wisconsin.

1627662779.jpeg
(Berita Satu)

Kratom sering disalahgunakan dan dijual dalam bentuk serbuk atau ekstrak melalui online shop, di antaranya dengan nama smoke shops. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dalam World Drug Report tahun 2013, kata Ahwil, menggolongkan kratom sebagai NPS dalam kelompok yang sama dengan khat.

Survei internet yang dilakukan oleh European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA) pada 2008 dan 2011 mengungkapkan kratom merupakan suatu NPS yang paling banyak diperdagangkan. Drug Enforcement Administration (DEA) melaporkan bahwa kratom dapat menimbulkan adiksi dan ketergantungan. Penyalahgunaan kratom banyak terjadi di Thailand.

“Di Thailand penyalahgunaan kratom lebih tinggi daripada ganja. Oleh karena itu, Pemerintah Thailand melarang penggunaan kratom dan menggolongkan kratom pada kelompok yang sama dengan kokain atau heroin. Di Malaysia dan Myanmar, penyalahgunaan daun kratom mencapai masing-masing 1 ton pada 2011," kata Ahwil Luthan.

Malaysia,  telah melarang penggunaan kratom sejak 2004. Kratom dianggap sama dengan ganja dan heroin. Saat ini, penyalahgunaan kratom juga terjadi di Amerika dan Eropa meskipun FDA tidak mengizinkan kratom sebagai suplemen makanan. Fakta menunjukkan banyak pencandu opiat beralih menggunakan kratom karena selain mudah diperoleh, juga bisa didapat tanpa menggunakan resep. Harga kratom lebih murah dibandingkan terapi kecanduan opiat, seperti buprenorfin.

Bahaya Kratom

Kratom mengandung lebih dari 40 jenis alkaloid, di antaranya adalah mitraginin, hidroksimitraginin, painantein, spesioginin, spesiosiliatin, beberapa jenis flavonoid, terpenoid, saponin, dan beberapa jenis glikosida. Kandungan utama kratom adalah mitraginin.

Gugus hidroksil pada C-7 meningkatkan potensi analgetik hidroksimitraginin sekitar 13 kali lebih tinggi daripada morfin dan 46 kali lebih tinggi dari mitraginin, baik secara in vitro maupun in vivo. Bahaya ini sama sekali tidak disadari oleh masyatakat yang membudidayakan kratom.

Kratom dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi diare, lelah, nyeri otot, batuk, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, menambah energi, mengatasi depresi, antidiabetes, dan stimulan seksual. Efek kratom pada manusia bergantung pada dosis.

Berdasarkan pengalaman pengguna, dosis rendah hingga sedang (1-5 gram) serbuk daun kratom memiliki efek stimulan ringan yang menyenangkan. Namun, pada dosis lebih tinggi (5-15 gram), kratom memberikan gejala, seperti senyawa opiat, yaitu berefek analgesik dan sedasi.

Pada dosis ini, kratom mulai digunakan sebagai narkotika. Sejalan dengan beberapa efek terhadap susunan saraf pusat, kratom juga mempunyai efek antiinflamasi

Karena mudah diperoleh, pengguna sering mencampurkan kratom dengan obat-obatan lain, seperti obat flu dengan harapan mendapatkan efek lebih cepat. Ini justru berakibat fatal, yakni meninggalnya pelaku.

UNODC telah memasukkan kratom sebagai NPS yang sama dengan khat. Banyak negara, termasuk negara tetangga Malaysia, Thailand dan Myanmar, telah melarang penggunaan dan peredaran kratom. Indonesia merupakan negara pengekspor kratom dalam skala besar. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017 tentang Revisi Golongan Narkotika, khat sudah dimasukkan sebagai narkotika, tetapi kratom belum dimasukkan.

Meski kratom dapat digunakan sebagai obat tradisional, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melarang penggunaan kratom sebagai obat tradisional dan suplemen makanan.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhi Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00