Kontroversi Daun Kratom: Dikecam dan Dipakai Amerika

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Kademba, begitu daun ini disebut warga sebagai ‘pohon rezeki’. Ia banyak tumbuh di Kalimantan Barat dan telah lama dimanfaatkan dan dijual warga dalam bentuk serbuk atau daun kering. Hebatnya daun kontroversial ini diekspor dan digunakan secara luas di Amerika Serikat.  Itulah daun kratom atau nama latinnya Mitragyna speciosa 

Masa subur daun ini antara Januari hingga Mei. Sejumlah petani bisa memanen 50 ton daun kratom per bulan. Hasilnya setara puluhan miliar rupiah. Beberapa penduduk lokal menanam pohon yang sebenarnya bisa tumbuh liar itu. Bisnis kratom sangat menggiurkan karena dapat dijual dengan harga tinggi dan siklus produksinya cepat. Panen daunnya hanya delapan bulan setelah penanaman. Lebih cepat dari tumbuhan lainnya, seperti kelapa sawit yang membutuhkan enam tahun untuk dipanen.

Jauh sebelum ini penduduk lokal di Kalimantan tidak mengetahui khasiat daun kratom sebagai obat. Mereka hanya menggunakan kulit pohonnya untuk diseduh dan diminum oleh ibu setelah melahirkan agar proses penyembuhannya lebih cepat. Tapi, setelah mendapatkan informasi bahwa permintaan luar negeri banyak atas daunnya, mereka akhirnya menjadi petani daun kratom.

Daun kratom berasal dari pohon cemara tropis di keluarga kopi yang tumbuh subur di tanah Kalimantan. Daun ini di dunia medis konon digunakan sebagai penawar rasa sakit (pain killer) dan sebagai pengganti opioid.  Daun yang biasa disebut dengan daun ketum ini bisa digunakan untuk menghilangkan berbagai penyakit seperti diare dan menambah energi. Namun ia berbahaya jika dikonsumsi dalam dosis besar karena mengandung alkaloid, mitraginin dan lainnya yang bisa memberikan efek kecanduan, bahkan sakau, kejang-kejang, gagal ginjal dan lain-lain.

South China Morning Post, mengabarkan  Badan Pengawasan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat mendapati lebih dari 130 orang meninggal setiap hari akibat overdosis opioid. Salah satu kasusnya terjadi di Florida, seorang perawat ditangkap karena pasiennya meninggal di mobilnya. Ditemukan pasien tersebut tertidur setelah mengonsumi dua bungkus bubuk kratom.

Data The American Kratom Association, estimasi penduduk Amerika pengguna daun kratom per Juni 2019 mencapai 15,6 juta orang. Melihat bahayanya,  Badan Pengawasan Narkotika Amerika Serikat mengawasi penggunaan kratom ini dan beberapa kota di Amerika. Kabarnya Eropa juga telah melarang daun kratom.

Di Indonesia tanaman ini diklasifikasikan sebagai psikotropika golongan satu, seperti heroin dan kokain. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan pihaknya mengajukan ke Kementerian Kesehatan untuk menaikkan klasifikasi kratom sebagai narkoba golongan satu. Kratom itu sepuluh kali lipat lebih berbahaya dibandingkan kokain atau marijuana.

Faktanya penjualan daun kratom kini mudah didapatkan di Indonesia. Banyak pihak yang menjualnya melalui internet dan dibungkus sebagai bubuk teh. Orang warga di Kalimantan Timur yang daerahnya juga banyak ditumbuhi daun kratom mengatakan,  bisa mendapatkan Rp 400 ribu per hari dari memetik 200 kg daun kratom. Para petani khawatir jika BNN menaikkan klasifikasi kratom sebagai narkoba. Mereka berupaya meyakinkan pemerintah bahwa kratom tidak akan disalahgunakan di Indonesia. Jika kratom disalahgunakan di Amerika, ini bukan salah petani di Indonesia. Bandingkan dengan rokok, jelas itu menyebabkan kanker dan serangan jantung, tapi masih dijual dengan bebas. Kratom juga harus diperlakukan seperti itu, kata Sauqani, seorang petani.

Mirip Morfin

Kontroversi ini menyebabkan petani tak leluasa memanfaatkan hasilnya. Sebab acapkali terjadi polisi menangkap daun kratom yang akan dikirim ke luar negeri. US Food and Drug Administration (FDA) dalam situsnya menyebut pohon kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman yang tumbuh alami di Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Papua Nugini. Tanaman ini jadi perhatian karena mempengaruhi reseptor otak seperti morfin dan tampaknya memiliki risiko adiksi atau kecanduan, penyalahgunaan, dan ketergantungan.

Ada banyak variasi penggunaan daun kratom. Ada yang mengonsumsinya dengan cara dikunyah begitu saja, ada juga yang mengeringkan dan menyeduhnya seperti minuman teh. Warga menjual khratom kering dalam bentuk serbuk maupun kapsul.

Dikutip dari drugabuse.gov, efek kratom menyerupai opioid dan stimulansia. Setidaknya ada dua kandungan aktif daun kratom, yakni mitragynine dan 7-α-hydroxymitragynine. Keduanya memberi efek menenangkan, menyenangkan, dan meredakan nyeri, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Dalam jumlah sedikit, konsumsi kratom disebut memberikan manfaat seperti peningkatan energi dan justru tidak menenangkan. Meski memiliki khasiat tertentu, ada beberapa efek samping yang perlu diperhitungkan antara lain mual,  gatal, berkeringat, mulut kering, sembelit, beser atau sering kencing,  hilang nafsu makan, kejang dan halusinasi.

FDA menegaskan butuh riset untuk memastikan apakah herba ini aman maupun punya manfaat  kesehatan. Tercatat sejumlah kematian di AS terkait pemakaian kratom, meski banyak di antaranya mengonsumsi kratom bersamaan dengan obat lain.

Ekspor tanaman ini dalam bentuk daun yang dikeringkan ternyata sudah mendunia. Daun kratom dianggap punya khasiat dan manfaat mengobati kecanduan opium hingga kecemasan. Sekitar 90 persen ekspor dari Kalimantan Barat adalah daun kratom yang dijual lagi di Amerika.

Kebanyakan pengguna daun kratom mencari tanaman tersebut melalui jalur online misal Facebook, Instagram, dan Alibaba. Selain di Amerika, tren daun kratom sebagai salah satu pengobatan alternatif juga terjadi di Eropa. Orang Eropa mengonsumsinya dalam bentuk teh atau kapsul.

Indonesia saat ini melarang penggunaan daun kratom untuk konsumsi lokal, sama seperti Malaysia dan Thailand. Namun ketiga negara tersebut membolehkan ekspor dalam bentuk yang belum diolah. Pusat penanaman daun kratom terletak di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang petaninya bisa mengekspor hingga 10 ton per bulan. Besarnya permintaan daun kratom telah menyebabkan petani lokal beralih dari menanam karet dan kelapa sawit.

Pohon kratom masuk dalam keluarga kopi dengan 3 daun di setiap ruas batangnya. Daun kratom telah lama digunakan di Asia Tenggara dan Papua New Guinea sebagai antinyeri dan obat perangsang. Daun kratom menstimulasi bagian otak yang sama seperti morfin dengan efek yang tidak terlalu keras.

Makin Popular di AS

Di Amerika, yang merupakan negara pengimpor terbesar, daun dijual dalam bentuk kratom kering yang dijadikan tepung. Popularitas daun kratom dikabarkan makin meningkat hingga menimbulkan kekhawatiran Food and Drug Administration (FDA). Daun kratom yang belum terdaftar sebagai obat legal, berisiko menimbulkan kecanduan hingga kematian layaknya kristal opium.

Berbeda dengan FDA, sebanyak 43 negara bagian di Amerika ternyata telah mengakui daun kratom. Data American Kratom Association menyatakan, jumlah pengguna kratom mencapai 5 juta yang terus akan naik. Impor daun kratom dari Indonesia mencapai 400 ton tiap bulannya, dengan nilai sekitar US$ 130 juta tiap tahun dengan harga US$ 30 per kilogram saat ini.

Menurut juru bicara kelompok pelobi legalitas daun kratom Botanical Education Alliance (BEA) Ryan Leung, daun kratom bukan penyebab tunggal kematian dalam 44 kasus penyalahgunaan obat. Peringatan FDA telah terbukti salah dalam beberapa riset. "Dalam 44 kasus tersebut, korban adalah pengguna berbagai macam obat. Peringatan kesehatan daun kratom dari FDA tidak terbukti benar," kata Leung seperti dikutip detikhealth.

Hal serupa dikatakan Kepala Departemen Farmasi Terapan Michael White dari University of Connecticut. Menurutnya daun kratom berpotensi menjadi obat antinyeri yang mudah diakses. Efek farmakologi daun kratom kini perlu dibuktikan dalam riset sebelum tersedia untuk umum. Senada dengan White, para petani daun kratom di Indonesia percaya dampak daun kratom akan terbukti dalam waktu cepat atau lambat, sesuai keyakinan nenek moyangnya.

Hal sebaliknya terjadi di negeri sendiri sebagai penghasil tanaman ini.  Sejumlah langkah untuk melarang peredaran dan budidaya kratom di Indonesa sudah dilakukan. Rapat Komnas Penggolongan Narkotika/Psikotropika pada 2017 memutuskan kratom direkomendasikan sebagai narkotika golongan 1.

Pada September 2019, ada rapat pertama dan kedua yang diadakan deputi Intelkam Polhukam. Hadir pejabat dari sejumlah kementerian terkait, termasuk Kementerian Kesehatan dan Deputi Dayamas dan Kapuslab BNN. Regulasi berpedoman kepada keputusan Tim Komite Penggolongan Narkotika.

Pada 31 Oktober 2019, BNN mengeluarkan surat yang ditujukan kepada para menteri Kabinet Kerja dan pimpinan kementerian dan lembaga terkait tentang sikap BNN soal peredaraan dan penyalahgunaan kratom. Rapat koordinasi yang dipimpin kepala Staf Kepresidenan pada Februari 2020 itu menyepakati urgensinya kratom dimasukkan ke dalam Narkotika Golongan 1 dengan masa transisi 5 tahun, yakni 2020-2024.

Pertimbangan utamanya adalah generasi muda harus diselamatkan dari narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) atau narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza). Kratom adalah zat adiktif yang membahayakan kesehatan.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00