Terobosan Wisata dan Ekonomi Lokal

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Selain investasi di bidang industri manufaktur, tak bisa diabaikan potensi pariwisata. Untuk sementara kekuatan pariwisata Indonesia cukup dibuat meredup oleh merebaknya pandemi covid, terutama Bali dan sekitarnya. Namun pusat wisata bukan hanya Bali. Masih banyak daerah yang lain.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Guna berupaya keras meningkatkan perkembangan ekonomi,  khususnya dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dilakukanlah  terobosan dengan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) di berbagai wilayah Indonesia.

Secara umum, menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus Pasal 1 ayat 1, KEK adalah kawasan tertentu di Indonesia yang ditetapkan menyelenggarakan fungsi perekonomian, dan memperoleh fasilitas tertentu. Karena itu KEK Parekraf didedikasikan bagi kegiatan usaha pariwisata untuk mendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, pertemuan, pameran, serta kegiatan terkait.

Apalagi kekayaan alam dengan keanekaragaman jenis atraksi wisata alam kelas dunia yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan melalui pembangunan kepariwisataan yang terintegrasi. Berdasarkan laman resmi www.kek.go.idsaat ini terdapat beberapa wilayah yang dijadikan KEK Parekraf, yang diharapkan dapat berkontribusi menyumbangkan pertumbuhan ekonomi tanah air.

Ada enam KEK pariwisata dan ekonomi kreatif:

KEK Mandalika: Menghadap ke Samudera Hindia menjadikan KEK Mandalika sebagai sektor pariwisata Indonesia di Provinsi Nusa Tenggara Barat . Tidak hanya menawarkan wisata bahari yang indah, KEK Mandalika memiliki budaya yang sangat menarik wisatawan. Salah satunya adalah upacara Bau Nyale, atau ritual mencari cacing laut jelmaan putri Mandalika.

Selain itu Mandalika juga memiliki sirkuit balap motor bertaraf internasional yang awal tahun depan akan menggelar balap dunia MotoGP. Ditargetkan, KEK Mandalika akan menarik investor sebesar Rp 40 triliun, dan menyerap 587.000 tenaga kerja hingga 2025.

KEK Tanjung Kelayang: Dengan mengusung tema “Socially and Environmentally Responsible Development and Cultural Preservation”, KEK Tanjung Kelayang memiliki keunggulan geostrategis berdekatan dengan negara ASEAN yang menjadi target pasar wisatawan. Berlokasi di Kepulauan Bangka Belitung, wilayah ini masuk dalam daftar 10 Destinasi Pariwisata Prioritas,  memiliki objek wisata bahari yang indah, dengan pesona pasir putih dan tebing batu yang eksotis.

Berfokus di pariwisata, KEK Tanjung Kelayang menargetkan dapat menciptakan lapangan kerja untuk 5.000 orang pada 2036 dan menarik investasi sebesar Rp10,3 triliun pada 2022.

KEK Likupang: Berlokasi di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. KEK Likupang memiliki keunggulan geoekonomi, serta berdekatan dengan Bandara Internasional Sam Ratulangi dan Pelabuhan Belitung. Keunggulan Likupang antara lain, sektor pariwisata dengan tema resor dan wisata budaya (cultural tourism). Kawasan ini mengembangkan resor kelas premium dan menengah, budaya, dan pengembangan Wallace Conservation Center. Diharapkan Likupang dapat menarik investasi Rp 5 triliun, dan menyerap 65.300 tenaga kerja pada 2040.

KEK Tanjung Lesung: Berlokasi di Pandeglang, Banten, KEK Tanjung Lesung memiliki luas area 1.500 Ha dengan banyak potensi pariwisata. Mulai dari pantai, keragaman flora dan fauna, serta kekayaan budaya yang eksotis. Tempat ini ditargetkan pada 2025 dapat menarik investasi Rp 92,4 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 85.000 orang.

KEK Singhasari: Keunggulan Singhasari adalah sektor pariwisata dengan tema heritage and historical tourism. Hal ini didukung nilai situs sejarah kerajaan di Indonesia. Ia berada di Kabupaten Malang, dan berdekatan dengan Bandara Internasional Juanda Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak, serta terkoneksi langsung dengan ruas tol Pandaan-Malang. Ditargetkan KEK Singhasari dapat menyerap tenaga kerja 6.863 orang dan menarik investasi Rp 11,92 triliun hingga 2030.

 

KEK Morotai: Terletak di pulau terluar sisi timur laut Indonesia, dan berdekatan dengan negara ASEAN dan Asia Timur, menjadikan Morotai salah satu wilayah yang menjanjikan. Selain memiliki keunggulan wisata bahari, KEK Morotai menyimpan  wisata sejarah yang menarik. Diharapkan pada 2025 KEK Morotai dapat menarik investasi Rp 30,44 triliun dan menyerap 30.000 tenaga kerja.

Dampak Positif

Pengembangan KEK akan memberikan fasilitas bagi beberapa kawasan yang lokasinya memiliki akses ke pasar global, baik melalui pelabuhan maupun bandara. Diharapkan kelak  dapat memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor, dan berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tinggi, sekaligus menciptakan daya saing internasional.

Bukan hanya di Pulau Jawa, KEK juga telah tersebar di penjuru tanah air secara merata. Seperti di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Penyebaran yang merata bertujuan untuk menyamaratakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga ke pelosok.

Meski begitu, masing-masing KEK memiliki fokusnya sesuai kondisi dan situasi daerahnya. Misalnya KEK di luar Jawa untuk pengembangan industri hulu, dan di pulau Jawa untuk sektor industri berorientasi ekspor, substitusi impor, serta pengembangan jasa.

Menurut laman kek.go.id, per 11 Februari 2021 sudah ada 15 Kawasan Ekonomi Khusus yang tersebar di Indonesia. Dari 15 KEK tersebut terbagi menjadi 11 wilayah yang telah beroperasi, dan 4 wilayah yang masih dalam tahap pembangunan.

Untuk beberapa wilayah KEK yang telah beroperasi antara lain: KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Lesung, KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Galang Batang, KEK Arun Lhokseumawe, KEK Tanjung Kelayang, KEK Bitung, KEK Morotai, KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), dan KEK Sorong.

Sementara itu, untuk KEK yang masih dalam tahap pembangunan di antaranya: KEK Tanjung Api-Api, KEK Singhasari, KEK Kendal, dan KEK Likupang.

Capaian Ekonominya

Meskipun masih ada beberapa wilayah KEK dalam tahap pembangunan, namun sudah ada beberapa pencapaian yang patut dibanggakan. Pencapaian ini tidak hanya terjadi di satu atau dua wilayah KEK saja, namun hampir di setiap daerah KEK.

Mengutip dari “Laporan Tahunan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus 2019” yang disusun oleh Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, sudah ada 78 perusahaan yang berkomitmen untuk berinvestasi pada 15 KEK di Indonesia pada 2019, dengan total investasi mencapai Rp 95,3 triliun.

Pada 2019 jumlah serapan tenaga kerja di 15 KEK juga cukup tinggi yaitu mencapai 8.362 tenaga kerja. Setiap wilayah di KEK juga berkontribusi besar pada perekonomian Indonesia.

Menurut SEKDENAS KEK (2019),  KEK Galang Batang menyumbang Rp36.250 miliar bagi perekonomian. Lalu KEK Mandalika sebesar Rp 17.074 miliar, KEK Sei Mangkei Rp 11.226 miliar, KEK Sorong Rp 8.778,9 miliar, KEK Kendal Rp 7.182 miliar, KEK Palu Rp 4.045,8 miliar, KEK Tanjung Lesung Rp 3.807,50 miliar, KEK Bitung Rp 2.746 miliar, KEK Arun Lhokseumawe Rp 1.662 miliar, dan KEK Morotai sebesar Rp 1.143 miliar.

Rata-rata setiap kabupaten atau kota dengan KEK juga mengalami peningkatan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sebesar 14,68% pada 2016-2018. Hal yang sama juga terjadi pada peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten atau Kota KEK sekitar 68,85% di tahun yang sama. Kawasan ini diharapkan mendorong pemerataan ekonomi di Indonesia dapat berjalan dan kembali bangkit paska pandemi Covid-19.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00