Kendal dan Bintan Sudah Berkembang

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Idealisme KEK adalah peningkatan investasi,  ekspor, substitusi impor, menciptakan lapangan pekerjaan, membuat model terobosan pengembangan kawasan melalui pengembangan industri dan jasa. Sasarannya adalah industri berdaya saing global, jasa pariwisata bertaraf internasional, jasa pendidikan dan kesehatan, serta ekonomi digital.

Tak mau kalah dengan daerah lain, Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen memberi dukungan pada keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan berharap KEK Kendal dapat berkembang pesat bahkan menjadi percontohan di Indonesia. Bagi Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah, keberadaan KEK Kendal diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Kendal. Artinya serapan tenaga kerja meningkat, tingkat pengangguran menurun, pendidikan lebih baik, dan lapangan kerja terbuka seluas-luasnya untuk masyarakat Kendal dan sekitarnya.

Sebagai sebuah kawasan yang menyandang status KEK, tentu saja banyak kelebihan yang didapatkan oleh KEK Kendal dibandingkan Kawasan Industri lainnya. Kelebihan itu ada pada fasilitas fiskal dan non fiskal, baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Selain itu diberikan pula berbagai kemudahan mendapatkan fasilitas tersebut. Dengan berbagai kelebihannya ini, diharapkan KEK Kendal akan menjadi sebuah Kawasan industri yang berbeda dan mampu untuk menjadi destinasi investasi terbaik.

Sudah Berhasil

Memasuki tahun kedua pasca penetapannya, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal memiliki kinerja yang memuaskan. “Dari hasil evaluasi kami memang kinerja KEK Kendal itu sudah sangat baik,” ujar Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional KEK. Hal tersebut dapat dilihat dari 1.000 Hektar luasan lahan yang menjadi KEK, saat ini telah dikembangkan seluas 200 Hektar dimana di dalamnya telah terdapat 66 tenant, 16 diantaranya sudah berproduksi, dan 9 tenant sedang dalam tahap konstruksi.

Investasi yang masuk ke KEK Kendal senilai Rp 19,3 Triliun, berasal dari berbagai negara di antaranya Taiwan, Cina, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Hal ini membuka lapangan kerja untuk 9.000 orang. Dilihat dari sisi kinerja ekspor, saat ini pelaku usaha di KEK Kendal telah melakukan ekspor senilai Rp118 Miliar/tahun (USD8,2 juta). Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Kendal memproyeksikan, pasca covid investor dari negara-negara di USA, Eropa, dan lainnya akan masuk berinvestasi di KEK Kendal.

Di samping dapat meningkatkan image dan branding Kabupaten Kendal, keberadaan Kawasan Industri akan memberikan dampak positif bagi sektor lainnya seperti pariwisata dan juga UMKM. Pengelola Kawasan punya kewajiban untuk menyediakan ruang untuk UMKM.

KEK Kendal ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2019, unggul dalam sektor industri berorientasi ekspor, substitusi impor, produk berteknologi tinggi, dan pada aplikasi khusus yang mendukung industri 4.0 serta logistik yang berbasis Industri 4.0. KEK Kendal diproyeksikan dapat menarik investasi sebesar Rp72Triliun dan tenaga kerja sebanyak 20.000 orang hingga 2025.

Galang Batang

Riau Kepulauan juga mendapat KEK Galang Batang di Bintan. Di sini sedang dilaksanakan beberapa pembangunan infrastruktur dan utilitas kawasan, refinery alumina, power plant. Targetnya akan melakukan ekspor perdana sebanyak 1 juta ton Smelting Grade Alumina (SGA) pada tahun 2021.

“Ini adalah suatu jejak tersendiri karena sebelumnya kita hanya mengekspor bauksit. Sekarang bisa diproduksi di sini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat meninjau KEK Galang Batang

Dampak KEK Galang Batang terhadap perekonomian hingga saat ini pun sudah cukup baik dan harus terus ditingkatkan. Realisasi Investasi sampai dengan September 2020 adalah Rp11 triliun. Sementara realisasi penyerapan tenaga kerja dalam tahap pembangunan sebesar 3.500 orang. 

Kawasan ini tidak hanya mendirikan industri aluminium atau alumina saja, melainkan juga industri tekstil. Jadi ini adalah pendekatan yang unik dan tidak banyak dilakukan di berbagai pabrik lain. ‘’Bapak-bapak yang pria bekerja di pabrik baja, sedangkan yang wanita bisa bekerja di pabrik tekstil,” ungkap Airlangga.  Menko memberikan apresiasi kepada PT Bintan Alumina Indonesia atas komitmennya selama ini sebagai pengembang Kawasan dan juga investor utama KEK Galang Batang. 

KEK Galang Batang sebagai salah satu KEK yang bertema industri, merupakan suatu contoh KEK yang berkembang baik dan bisa dijadikan model untuk KEK lainnya. Lokasinya pun strategis yaitu terletak di Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional, serta berhadapan dengan Singapura serta Malaysia.

KEK Galang Batang diproyeksikan menjadi kawasan dengan kegiatan utama yakni Industri pengolahan bauksit dan turunannya, dengan perkiraan investasi sebesar Rp36,25 triliun dan penyerapan tenaga kerja paling tidak sebesar 23.200 orang, sampai dengan tahun 2027. 

Nilai investasi tersebut masih berpotensi bertambah hingga USD 5,5 miliar atau sekitar Rp77 triliun. Proyek investasi tersebut mengakomodasi potensi terciptanya nilai tambah yang besar. 

Sebagai informasi, produksi bauksit Indonesia dalam satu tahun bisa mencapai 40 juta ton. Pengolahan bauksit menjadi alumina memberi nilai tambah sekitar 5-13 kali lipat bila diolah menjadi alumunium.

Ekspor Perdana

Direktur Utama PT Bintan Alumina Indonesia (BAI), Santoni mengatakan pembangunan Refinery Alumina berkapasitas 1 juta ton per tahun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang telah rampung. Bahkan, pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina dengan kadar 98 persen tersebut sudah selesai masa uji coba produksi. ”Hasil uji coba produksi bagus. Kami sudah bisa produksi penuh pada bulan Juni ini,” kata Santoni.

Rencananya BAI akan melakukan ekspor perdana pada Juli 2021. Sebanyak 25.000 ton bubuk alumina akan dikapalkan ke Malaysia melalui pelabuhan KEK Galang Batang. Pelabuhan yang dibangun sudah selesai, dan ekspor perdana dilakukan dari pelabuhan baru ini.

Hingga kuartal I tahun 2021, PT BAI telah merealisasikan investasi sebesar Rp 14 triliun di KEK Galang Batang. Tenaga kerja yang sudah terserap sekitar 4.000 orang. Investasi itu digunakan untuk membangun refinery alumina kapasitas 1 juta ton per tahun, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), water reservoir, pelabuhan, coal gas plant, dan pembangunan kawasan. Hingga akhir tahun 2021, nilai investasi diperkirakan menjadi Rp 17 triliun.

PT BAI saat ini sedang melakukan pembangunan refinery alumina plant kedua, sehingga nantinya kapasitas produksi menjadi 2 juta ton per tahun. Progres pembangunan sudah 30 persen. Kalau semua berjalan lancar, awal tahun 2022 pembangunan selesai dan mulai uji coba produksi. KEK ini akan terus dikembangkan dengan membangun tambahan unit power plant dan electrolytic alumunium plant hingga tahun 2027.

Dampak bagi perekonomian nasional  adalah menurunnya impor produk alumina karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Kontribusi peningkatan nilai ekspor diperkirakan sebesar Rp 4,5 triliun melalui ekspor smelting grade alumina. Jumlah tenaga kerja pada saat produksi  7.000 orang pada akhir tahun 2021.

Kemudian adanya keterlibatan beberapa penyedia jasa konstruksi lokal (knowledge transfer) dalam pengembangan KEK Galang Batang. Termasuk pengiriman sejumlah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi nasional untuk menjalani pelatihan proses industri pengolahan bauksit dan sarana pendukung di Tiongkok. BAI juga sudah ikut melatih tenaga kerja lokal di dalam rangkaian kegiatan usahanya. Dengan komitmen investasi dan realisasi pembangunan yang cepat, KEK Galang Batang akan fokus pada industri manufaktur modern, seperti industri hilirisasi bauksit, industri ringan, dan logistik modern yang ramah lingkungan, didukung lokasi geografis yang sangat baik untuk berintegrasi ke dalam rantai pasok industri global.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00